Penulis : Romo Odemus Bei Witono SJ, Direktur Perkumpulan Strada
Pengalaman menderita sering kali menciptakan ilusi akan ketiadaan Allah. Ketika gulungan badai hidup menghantam—entah berupa kegagalan yang beruntun, krisis eksistensial, penderitaan fisik, maupun pergumulan batin yang tak kunjung usai—pikiran manusia dengan mudah terperangkap dalam pertanyaan mendasar:
Di manakah Tuhan saat manusia merintih? Apakah Ia tertidur dan menutup mata terhadap penderitaan ciptaan-Nya? Teriakan ini sejatinya bukanlah hal baru; ia merefleksikan kegelisahan para pemazmur yang kerap meratapi seolah-olah Tuhan berpaling.
Namun, di dalam tradisi teologi Katolik dan warisan kedalaman para mistikus Gereja, terbentang sebuah kebenaran ontologis yang sublim: Tuhan tidak pernah tidur.
Pemahaman bahwa Allah tidak pernah terlelap (” Sungguh, tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel ,” Mzm 121:4) bukanlah sekadar metafora puitis untuk memberikan penghiburan murahan.
Lebih dari itu, gagasan ini mengakar kuat pada hakikat Allah sebagai Actus Purus (Kenyataan Murni), sebagaimana dirumuskan oleh Santo Thomas Aquino. Bagi Aquino, Allah tidak memiliki keterbatasan, kelelahan, atau potensi yang belum terwujud. Tidur adalah kebutuhan fisik makhluk ciptaan yang terbatas—sebuah jeda dari kesadaran akibat kelelahan. Allah, sebagai Sang Ada yang tak terbatas, tidak mengenal jeda maupun kelelahan.
Pemeliharaan-Nya ( Providentia Dei ) dan tindakan penciptaan-Nya berjalan secara terus-menerus ( creatio continuata ). Jika Allah beristirahat walau hanya sekedip mata dari menghendaki eksistensi alam semesta, maka seluruh ciptaan akan serta-merta runtuh kembali menjadi ketiadaan.
Dengan demikian, ketika kita berada di tengah perjuangan yang teramat berat, keberadaan dan daya hidup yang masih tersisa di dalam diri kita justru menjadi bukti paling nyata bahwa Penjaga kita senantiasa terjaga.
Kehadiran Tersembunyi di Malam Gelap Jiwa
Kendati demikian, dalam realitas practical , mengapa Tuhan terasa begitu diam saat penderitaan mencapai puncaknya?
Para mistikus Gereja memberikan jawaban yang menembus batas rasio awam. Santo Yohanes dari Salib, melalui mahakaryanya tentang The Dark Night of the Soul, menjelaskan bahwa perasaan “Tuhan tertidur” atau “Tuhan absen” sebenarnya adalah fase pemurnian rohani yang teramat dalam.
Saat jiwa mengalami kekeringan, rasa sakit, dan kehampaan total, Allah tidak sedang meninggalkan manusia. Sebaliknya, Ia sedang bekerja secara tersembunyi ( operatio occulta ) di kedalaman jiwa yang paling sunyi.
”Di dalam keheningan yang paling pekat, di mana akal budi dan perasaan tak lagi mampu menangkap kehadiran-Nya, di situlah Allah bekerja paling intensif meremukkan ego dan memurnikan kasih manusia.”
Ketiadaan rasa akan kehadiran Allah bukanlah bukti bahwa Allah tertidur, melainkan tanda bahwa keterbatasan inderawi manusia tidak sanggup menampung kemilau cahaya Ilahi yang teramat terang, sehingga tampak bagaikan kegelapan.
Perjuangan hidup yang berat kerap kali merupakan sarana pembersihan dari kepatuhan yang dangkal—membawa manusia dari sekadar mencintai hiburan dari Tuhan ( consolations of God ) menuju pada mencintai Tuhan Sang Pemberi Hiburan itu sendiri ( God of consolations ).
Puri Batin dan Keteguhan Berjaga
Senada dengan itu, Santa Teresa dari Avila menegaskan dalam karyanya Puri Batin ( Interior Castle ) bahwa Kristus bersemayam di pusat jiwa manusia yang paling dalam. Meskipun badai penderitaan, cemas, dan derita fisik mengucak-ngocak bagian luar diri kita, Sang Raja di dalam kediaman terdalam itu tidak pernah tertidur dan tidak pernah pergi. Kebisingan penderitaan sering kali menghalangi pendengaran kita untuk menangkap bisikan halus-Nya.
Penderitaan mengajak kita untuk masuk ke dalam, melampaui riak-riak emosi permukaan, dan berlabuh pada kesadaran bahwa ada daya Ilahi yang tak tergoyahkan sedang menopang kita dari dalam.
Gagasan bahwa Tuhan tidak pernah tidur memanggil manusia pada respons iman yang konkret: keteguhan untuk “berjaga-jaga” ( vigilate ). Berjaga-jaga bukan berarti menolak tidur secara fisik atau hidup dalam kecemasan yang konstan, melainkan menjaga agar api pengharapan dan kesadaran rohani tidak padam di tengah gempuran ujian.
Dalam Injil, Kristus mengingatkan para murid untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. Saat menghadapi ketidakpastian dan beban perjuangan yang menguras tenaga, refleksi ini mengundang kita pada transformasi kesadaran: kita tidak berjuang sendirian.
Bila Tuhan tidak pernah tidur, maka manusia dipanggil untuk berani melepaskan kendali atas ketakutannya. Penderitaan tidak lagi dipandang sebagai kesialan tanpa makna atau tanda kemurkaan Ilahi, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang paling jujur antara kepenuhan belas kasih Allah dan kerapuhan manusia.
Kita diperbolehkan untuk beristirahat, memulihkan tenaga, dan melepaskan kecemasan, justru karena kita tahu dengan pasti bahwa ada Penjaga Abadi yang tidak pernah tertidur, yang senantiasa merajut benang-benang perjuangan kita menjadi sebuah karya keselamatan yang utuh.
