Oleh: Elvina Sinaga – Mahasiswi STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Di era modern saat ini, menjadi seorang pemimpin sering kali dipandang sebagai sebuah pencapaian prestisius yang patut dibanggakan. Banyak orang berlomba-lomba untuk memegang kendali, menduduki jabatan, dan memimpin sebuah komunitas atau organisasi. Namun, ada realitas yang kerap terlupakan: tidak semua orang siap memikul tanggung jawab moral yang melekat pada jabatan tersebut.
Ketika kepemimpinan menuntut seseorang untuk menekan ego, mendengarkan dengan sabar, serta mendampingi orang lain dalam proses tumbuh kembang mereka, tidak sedikit yang akhirnya mundur teratur. Tugas-tugas substantif ini rupanya jauh lebih berat daripada sekadar memegang tongkat kekuasaan.
Fenomena ini menjadi kian krusial jika ditarik ke konteks generasi muda. Hidup di era disrupsi dengan ritme perubahan zaman yang bergerak eksponensial, anak muda hari ini dihadapkan pada kompleksitas tantangan sosial dan lingkungan yang masif. Dalam situasi yang membingungkan ini, mereka tidak lagi membutuhkan tumpukan aturan kaku atau instruksi searah. Yang mereka cari dan butuhkan adalah kehadiran sosok pembina sekaligus pendamping yang mampu berjalan bersama mereka.
Pertanyaannya, di tengah dunia yang makin individualis ini, apakah model kepemimpinan yang berpusat pada pelayanan dan pendampingan seperti itu masih eksis? Jawabannya: Ya, ia belum punah.
Menemukan “Hati Gembala” di Asrama Santa Maria Goretti
Potret nyata dari kepemimpinan yang mengayomi ini terekam jelas saat saya melakukan observasi dan wawancara di Asrama Putri Santa Maria Goretti, Paroki Santo Yosep Delitua. Di sana, saya menyaksikan langsung bagaimana Pastor Ero Perangin-angin, OFM.Conv, menjalankan perannya sebagai pembina asrama.
Dalam dinamika harian asrama, Pastor Ero tidak menempatkan dirinya sebagai “polisi pamong” atau sekadar pengawas administratif yang kaku. Lebih dari itu, ia memosisikan diri sebagai seorang ayah dan sahabat bagi para penghuni asrama. Melalui ruang-ruang pembinaan rohani, ruang dialog yang inklusif dan terbuka, serta perhatian personal terhadap perkembangan psikologis anak-anak asramanya, ia menunjukkan esensi kepemimpinan yang sesungguhnya.
Kehadiran Pastor Ero menegaskan sebuah tesis penting:
“Pemimpin yang baik tidak lahir dari jarak yang membentang, melainkan dari kedekatan dan kepedulian. Pemimpin sejati bukanlah orang yang hanya berdiri di depan untuk memberi komando, melainkan mereka yang melangkah bersama orang-orang yang dipimpinnya.”
Rekam Jejak Raja Daud: Kepemimpinan yang Lahir dari Padang Gurun
Apa yang dipraktikkan oleh Pastor Ero di Delitua membawa ingatan kita pada narasi teologis dalam Kitab Suci mengenai sosok Raja Daud. Jauh sebelum namanya harum sebagai raja terbesar Israel, Daud hanyalah seorang remaja biasa yang menghabiskan waktunya di padang rumput, menggembalakan kawanan domba milik ayahnya.
Di padang sunyi itulah, karakter Daud ditempa. Ia belajar tentang arti sebuah tanggung jawab, kesetiaan taruhan nyawa, dan kepedulian yang detail terhadap domba-dombanya yang lemah. Ketika Tuhan memilih Daud untuk memimpin bangsa Israel, parameter-Nya bukanlah kekuatan fisik atau trah bangsawan, melainkan hati dan integritasnya.
Sebagaimana terekam dalam Mazmur 78:72: “Lalu Daud menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.” Daud membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tidak pernah berakar pada hegemoni kekuasaan, melainkan pada ketulusan untuk melayani. Pemimpin dipanggil untuk menjaga yang rapuh, menuntun yang tersesat, dan memastikan mereka yang dipimpinnya bertumbuh dengan aman.
Pendampingan: Antitesis Kepemimpinan yang Otoriter
Di tengah ekosistem global yang kian kompetitif, banyak orang telanjur mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan mengendalikan, memanipulasi, atau memengaruhi orang lain demi mencapai target personal atau kelompok.
Namun, kepemimpinan Kristiani menawarkan antitesis yang radikal. Kepemimpinan bukanlah panggung untuk memamerkan kekuasaan (power), melainkan sebuah mezbah pelayanan (servanthood).
Nilai universal inilah yang mempertemukan benang merah antara kisah historis Raja Daud dan pelayanan kontemporer Pastor Ero. Keduanya sepakat bahwa pemimpin yang baik tidak hanya muncul saat situasi nyaman dan menguntungkan. Mereka justru hadir paling depan ketika orang-orang yang dipimpinnya sedang mengalami disorientasi, membutuhkan arah, dukungan, dan dekap hangat pendampingan.
Generasi muda kita hari ini sedang mengalami krisis figur teladan. Mereka merindukan para pemimpin yang memiliki telinga untuk mendengar sebelum pandai berbicara, memiliki hati untuk memahami situasi sebelum menghakimi kesalahan, dan memiliki kesabaran untuk mendampingi sebelum menuntut hasil.
Catatan Reflektif
Dunia hari ini barangkali tidak pernah kekurangan stok orang-orang yang ambisius untuk menjadi pemimpin. Struktur politik, korporasi, dan organisasi sosial selalu penuh dengan para pemburu jabatan. Namun, dunia ini sedang mengalami kelangkaan akut akan pemimpin yang memiliki “hati seorang gembala”.
Melalui cermin kehidupan Raja Daud dan dedikasi Pastor Ero Perangin-angin, OFM.Conv, kita disadarkan bahwa rapor tertinggi seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa megah jabatan yang ia sandang atau seberapa absolut kekuasaan yang ia genggam. Pada akhirnya, seorang pemimpin akan selalu dikenang bukan karena posisinya di atas puncak, melainkan karena seberapa besar jejak kebaikan dan pengaruh positif yang ia tinggalkan di dalam hidup sesamanya.
