PENULIS: Fingki Hasugian, Mahasiswa STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Di zaman modern sekarang, banyak sekali orang yang berambisi ingin menjadi pemimpin. Namun, sayangnya, tidak semua orang siap mental untuk bekerja di balik layar tanpa dikenal. Banyak yang hanya menginginkan status dihormati, ingin terlihat punya pengaruh besar, dan ingin suaranya selalu didengar jalurnya. Tetapi giliran dihadapkan pada realitas di mana mereka harus duduk membaur bersama orang-orang kecil, hadir dengan tulus tanpa sorotan kamera, atau harus menegur sebuah kesalahan dengan risiko akan dibenci, tidak sedikit dari para pemimpin itu yang mendadak memilih bungkam dan aman. Dunia modern kita memang sering kali jago melahirkan pemimpin yang sangat lihai dalam berretorika, tetapi sayangnya rapuh dalam hal keteladanan hidup.
Padahal, jauh sebelum era algoritma media sosial dan konsep personal branding marak digunakan, sejarah dunia telah mencatat profil seorang pemimpin hebat yang pengaruhnya sama sekali tidak lahir dari kemewahan fasilitas ataupun popularitas instan, melainkan murni terpancar dari keberanian moral, kesederhanaan hidup, serta ketulusan hatinya. Tokoh tersebut tidak lain adalah Santo Yohanes Pembaptis. Beliau memilih hidup prihatin di padang gurun, mengenakan pakaian sederhana dari bulu unta, serta mengonsumsi belalang dan madu hutan. Tidak ada panggung megah untuknya, tidak ada pula pengikut ataupun followers di dunia maya. Namun, kehebatannya terbukti ketika orang-orang dari wilayah perkotaan rela berjalan kaki menempuh jarak yang jauh ke gurun hanya demi mendengarkan beliau berbicara. Pertanyaannya sekarang: apakah model kepemimpinan yang autentik seperti itu masih bisa kita temukan di dunia hari ini? Jawabannya, tentu saja masih ada.
Ketika Pemimpin Tidak Mencari Perhatian
Melalui kegiatan observasi yang saya lakukan di Stasi Salib Suci Ujung Beringin, Paroki Delitua, pada tanggal 29 Maret 2026, saya menemukan sebuah fakta lapangan yang sungguh di luar dugaan. Ketua Dewan Stasi di sana, yang akrab disapa dengan sebutan KDPS, memimpin umatnya dengan cara yang sangat bertolak belakang dari stereotip atau gambaran sosok pemimpin formal yang biasa kita bayangkan.
Saat beliau memimpin jalannya ibadat sabda, pembawaannya sama sekali tidak menunjukkan kesan angkuh atau wibawa palsu yang membuat jarak pembatas dengan jemaat. Beliau berbicara dengan nada yang tegas, namun tetap menjaga perasaan orang lain. Ketika harus menegur, teguran itu disampaikan secara objektif tanpa ada kesan menghakimi pribadi seseorang. Dan yang paling menarik, sesaat setelah ibadat atau pertemuan selesai, beliau langsung memilih untuk duduk membaur di antara umat, bukannya mengambil tempat duduk khusus yang sengaja disiapkan untuk memisahkannya dari orang banyak.
Ada satu momen spesifik yang benar-benar membekas di hati saya. Di tengah-tengah sebuah rapat pertemuan umat, ada salah seorang jemaat yang mendadak menyampaikan keluhan dan kritikan dengan nada bicara yang cukup emosional. Biasanya, banyak tipe pemimpin yang saya kenal akan langsung bersikap defensif, memotong pembicaraan, atau buru-buru mengalihkan topik pembicaraan demi menyelamatkan muka. Namun, apa yang dilakukan KDPS ini sungguh berbeda. Beliau memilih diam sejenak mendengarkan, mengangguk-angguk tanda paham, lalu meresponnya dengan tenang: “Terima kasih banyak sudah berani menyampaikan hal tersebut dengan jujur. Mari kita bersama-sama mencari jalan keluar terbaiknya.” Tindakan itu tampak sederhana, tetapi di sanalah letak esensi dari kepemimpinan sejati. Kepemimpinan itu bukan soal siapa yang memenangkan argumen atau siapa yang paling hebat mendebat, melainkan tentang bagaimana cara merangkul dan mengarahkan orang-orang menuju kebaikan bersama.
Berani Bukan Berarti Keras
Salah satu nilai karakter paling menonjol yang saya tangkap dari sosok KDPS ini adalah keberaniannya. Beliau tidak pernah ragu atau segan untuk menyampaikan kebenaran apa adanya kepada umat, meskipun kebenaran tersebut terkadang pahit dan tidak selalu mudah untuk diterima oleh telinga jemaat. Karakter ini sangat mirip dengan keteguhan Santo Yohanes Pembaptis yang dengan gagah berani menegur kesalahan Raja Herodes secara langsung. Yohanes melakukan hal itu bukan karena didorong oleh ambisi ego agar terlihat hebat di mata publik, melainkan murni karena kesetiaan totalnya pada kebenaran ilahi yang ia yakini.
Namun, hal penting yang membuat keberanian KDPS ini tidak sampai melukai hati umat adalah cara penyampaiannya yang penuh empati. Sebuah teguran yang lahir murni dari rasa kasih yang tulus akan selalu memiliki frekuensi yang berbeda dengan teguran yang keluar akibat luapan ego seorang penguasa. Dan seorang pemimpin yang matang tahu betul bagaimana cara membedakan kedua hal tersebut. Santo Yohanes Pembaptis sendiri sepanjang hidupnya memegang teguh sebuah prinsip luar biasa yang jarang berani dihidupi oleh orang modern masa kini: beliau tidak pernah menuntut agar dirinya yang diagungkan, melainkan fokusnya adalah bagaimana agar Tuhan semakin dikenal lewat kesaksian hidupnya. Beliau pernah berkata dalam Kitab Suci: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Kalimat tersebut sama sekali bukan bentuk kelemahan atau rasa minder. Sebaliknya, itu adalah sebuah pernyataan tegas dari seorang pemimpin sejati yang tahu persis apa visi dan tujuan hidupnya di dunia.
Kepemimpinan Dimulai Sebelum Ada Jabatan
Sering kali kita melihat anak-anak muda zaman sekarang terjebak dalam pola pikir bahwa jiwa kepemimpinan baru bisa diasah kalau mereka sudah resmi menjabat sebagai ketua di suatu organisasi. Padahal, dalam realitas kehidupan, teorinya tidaklah demikian. Kepemimpinan itu sejatinya sudah dimulai dari hal-hal kecil: dari bagaimana caramu memperlakukan orang-orang kecil yang tidak punya kemampuan untuk membalas kebaikanmu. Dari keberanian besarmu untuk berjiwa ksatria mengakui kesalahan diri. Dari konsistensimu untuk tetap setia hadir dan membantu, di saat orang-orang lain memilih untuk pergi dan abai. Serta dari kerelaanmu untuk menyediakan telinga mendengarkan, di saat semua orang di ruangan sedang berebut ingin berbicara.
Melalui kegiatan observasi ini, keteladanan moral yang ditunjukkan oleh sosok KDPS justru tidak bersumber dari pidato-pidato retorika yang berapi-api ataupun dari program-program kerja yang muluk-muluk. Kharismanya justru memancar kuat dari sikap hidup sehari-harinya yang bersahaja, jujur, orisinil, dan apa adanya tanpa dibuat-buat. Tidak ada yang berlebihan dalam dirinya, dan ia sama sekali tidak haus akan pujian orang. Justru dalam kesederhanaan itulah letak kekuatan kepemimpinan yang sesungguhnya. Generasi muda hari ini sejatinya tidak sedang butuh figur pemimpin yang sempurna tanpa cela; yang mereka butuhkan saat ini adalah sosok pemimpin yang nyata, jujur, dan konsisten antara kata dan perbuatan.
Orang Muda dan Masa Depan Kepemimpinan
Kita harus mengakui bahwa saat ini kita sedang hidup di era di mana dunia tengah mengalami krisis keteladanan moral yang cukup akut. Ada banyak sekali orang-orang pintar dan hebat di luar sana yang perlahan kehilangan integritas dirinya. Banyak pemimpin yang mulai kehilangan arah dan kompas moralnya. Kondisi ini jugalah yang membuat banyak anak muda sekarang menjadi skeptis, apatis, dan tidak percaya pada konsep kepemimpinan, karena mereka sudah terlalu sering disuguhi tontonan penyalahgunaan kekuasaan di berbagai lini.
Namun, lentera harapan itu tentu tidak boleh padam. Di sekeliling kita, ternyata masih ada sosok pemimpin-pemimpin sederhana yang terus konsisten bekerja dalam senyap di balik layar. Mereka melayani dengan tulus tanpa perlu sibuk mencari sorotan kamera, dan tetap setia menjaga serta merawat komunitas mereka dengan penuh kasih. Dari ketulusan merekalah kita dapat memetik pelajaran berharga: bahwa kepemimpinan sejati pada akhirnya bukan soal siapa orang yang paling banyak menerima pujian, melainkan tentang siapa yang paling berani mengambil tanggung jawab penuh.
Mungkin saat ini kamu belum memegang posisi sebagai ketua organisasi apa pun, belum menjadi pemimpin di komunitasmu, atau bahkan kamu masih merasa dirimu kecil dan belum layak disebut sebagai seorang pemimpin. Namun, ingatlah baik-baik, proses kepemimpinan itu selalu dimulai dari detik ini : dimulai dari keberanianmu untuk selalu memilih bersikap jujur, dari kerendahan hatimu untuk mau melayani sesama, serta dari konsistensi langkahmu untuk tetap berbuat baik dan hadir nyata meskipun tidak ada satu pun pasang mata yang melihat atau memujimu. Karena masa depan peradaban kita tidak hanya sekadar membutuhkan individu-individu yang cerdas secara otak, melainkan sangat mendambakan kehadiran sosok pemimpin yang memiliki hati.
