PENULIS: Novline Angel Sembiring, Mahasiswa STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Di era modern yang bergerak serbacepat, kesuksesan seorang pemimpin sering kali diukur lewat kacamata duniawi: jabatan mentereng, wewenang luas, dan kendali penuh atas situasi. Banyak orang berlomba-lomba mengejar pengakuan dan ingin selalu berdiri di garda terdepan. Namun, kualitas sejati seorang pemimpin baru akan diuji saat badai tekanan datang, ketika risiko harus dihadapi demi mempertahankan sebuah kebenaran. Kepemimpinan sejati tidak lahir dari ambisi pribadi, melainkan dari kesetiaan tanpa batas pada nilai dan keyakinan yang dianut.
Sejarah Gereja telah melahirkan banyak teladan iman, salah satu yang paling menggetarkan hati adalah Santo Yosafat Kuntsevych. Ia bukan sekadar seorang uskup atau biarawan, melainkan saksi iman yang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi persatuan Gereja, bahkan hingga titik darah penghabisan.
Akar Iman, Doa, dan Visi Persatuan
Lahir sekitar tahun 1580 di Vladimir-Volynskyi (wilayah Ukraina modern) dengan nama baptis Ivan, Yosafat tumbuh dalam keluarga Kristen Ortodoks dengan kecintaan mendalam pada spiritualitas sejak belia. Perjumpaannya dengan para biarawan Basilian penganut Uni Brest—gerakan penyatuan Gereja Ortodoks Rutenia dengan Roma—saat ia magang di Vilnius menjadi kompas yang mengarahkan sisa hidupnya.
Pada tahun 1604, ia resmi memeluk kehidupan membiara dan mengambil nama Yosafat. Ketekunannya dalam doa, olah rohani (asketisme), dan studi teologi yang mendalam membuatnya dikenal sebagai pribadi yang penuh hikmat. Karier rohaninya terus menanjak dari imam, kepala biara, hingga puncaknya ditahbiskan sebagai Uskup Agung Polotsk pada tahun 1617—sebuah posisi yang strategis sekaligus penuh dengan intrik berbahaya.
“Kepemimpinan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan dari seberapa teguh ia bertahan ketika badai menerpa.”
Sebagai uskup, Yosafat bergerak cepat membawa pembaruan: mendisiplinkan para klerus, aktif melakukan kunjungan pastoral, menghidupkan kembali paroki-paroki, hingga menulis katekismus dalam bahasa yang dipahami rakyat jelata. Visinya tegas dan tidak pernah goyah: mempersatukan Gereja tanpa melunturkan kekayaan tradisi liturgi Timur. Bagi Yosafat, kebenaran iman tidak mengenal kompromi.
Ujian Keberanian dan Pengorbanan Tertinggi
Misi persatuan yang dibawa Yosafat tidak berjalan mulus. Tantangan berat justru datang dari penolakan internal masyarakat, baik dari kelompok Ortodoks yang menentang Uni Brest maupun pihak-pihak yang merasa terancam oleh pengaruhnya. Fitnah, intimidasi, dan provokasi menjadi makanan sehari-hari. Namun, Yosafat tidak gentar. Keberaniannya bukanlah sebuah keangkuhan, melainkan buah manis dari keintiman doa dan keteguhan iman.
Ia menolak memimpin dari balik “meja kekuasaan” yang nyaman. Yosafat memilih turun langsung ke lapangan: mendengarkan keluh kesah, mendampingi, dan merawat jiwa-jiwa yang terpinggirkan. Inilah esensi utama dari kepemimpinan yang melayani.
Tragedi berdarah terjadi pada 12 November 1623. Dalam sebuah kerusuhan yang diprovokasi di Vitebsk, Yosafat diserang secara brutal oleh massa yang anti-persatuan hingga wafat. Luar biasanya, ia menghadapi ajal dengan ketenangan luar biasa sembari mengembuskan napas pengampunan bagi para pelaku. Meski jasadnya sempat dibuang ke sungai, umat berhasil menemukannya dan memakamkannya dengan penuh kehormatan.
Ironisnya, kematian Yosafat justru menjadi pupuk bagi benih persatuan. Pengorbanannya menggerakkan hati banyak orang untuk memeluk kesatuan Gereja yang selama ini ia impikan. Atas dedikasi dan martiriahnya, Paus Urbanus VIII membeatifikasikannya pada 1643, dan pada 1867 Paus Pius IX mengangkatnya sebagai santo—menjadikannya santo pertama dari Gereja Katolik Timur yang dikanonisasi pada era modern.
Menemukan Semangat Yosafat dalam Pelayanan Lingkungan
Warisan spiritual Santo Yosafat tidak mandek dalam buku sejarah gerejawi. Semangat itu tetap hidup dan termanifestasi nyata dalam pelayanan sehari-hari di tingkat lingkungan paroki, tempat di mana kepemimpinan Kristiani diuji lewat kesabaran menggembalakan umat.
Esensi pelayanan ini tercermin nyata dalam figur Bapak S. Sembiring, Ketua Lingkungan St. Yohanes Pembaptis, Stasi Cinta Damai. Jauh dari sorotan publik, ia menghidupkan makna pelayanan yang menyentuh hati komunitasnya langsung.
Bapak S. Sembiring menerapkan gaya kepemimpinan transformasional yang kuat, selaras dengan semangat Santo Yosafat yang selalu menggerakkan perubahan dari dalam. Ciri khas kepemimpinannya meliputi:
- Sentuhan Rohani: Pertemuan lingkungan tidak sekadar membahas urusan administratif, melainkan selalu disisipi refleksi iman yang menguatkan umat.
- Inklusif & Teguh: Ia membuka ruang bagi semua anggota untuk berpendapat, namun tetap kokoh menjaga agar komunitas tidak melenceng dari nilai Kristiani.
- Keberanian Moral: Mirip dengan ketegasan sang martir, ia tidak segan mengambil sikap tegas demi menyelesaikan konflik antaranggota atau mempertahankan prinsip Gereja. Ia memilih mengutamakan kebenaran dan kebaikan bersama dibanding sekadar mengejar popularitas murah.
Melayani Tanpa Jarak
Sama seperti Santo Yosafat, Bapak S. Sembiring melepaskan “kursi kekuasaan” untuk membaur bersama umat. Ia senantiasa hadir dalam dinamika kehidupan warganya, baik dalam situasi sukacita maupun duka. Saat ada warga sakit, ia menggerakkan aksi kunjungan dan doa ; saat ada yang kesusahan, ia menjadi jembatan bantuan bagi komunitas.
Pengorbanan waktu dan kenyamanan pribadi demi kepentingan umat menjadi bukti nyata dari semboyan yang dihidupinya: “Bersatu dalam Iman, Bertumbuh dalam Kasih”. Ia merangkul semua orang tanpa memandang latar belakang sosial, demi menjembatani perbedaan dan merawat keharmonisan.
Refleksi dan Relevansi untuk Masa Kini
Tantangan zaman kita memang sudah berubah. Kita mungkin tidak lagi dihadapkan pada ancaman senjata atau jeruji besi karena mempertahankan iman. Namun, ujian moral di era ini tidak kalah berat: godaan untuk berkompromi dengan ketidakjujuran, memilih bungkam saat melihat perpecahan, atau bersikap egois demi kenyamanan pribadi.
Di sinilah keteladanan Santo Yosafat dan para pelayan komunitas seperti Bapak S. Sembiring menjadi kompas yang sangat relevan. Keberanian moral tidak selalu lahir dari panggung besar; ia justru dimulai dari keputusan-keputusan kecil setiap hari: memilih jujur, berlaku adil, menghargai sesama, dan tetap setia beriman di bawah tekanan sosial.
Kisah ini meninggalkan refleksi mendalam bagi kita semua:
- Apakah pondasi dari kepemimpinan yang kita jalankan hari ini?
- Apakah kita memimpin demi tepuk tangan pengakuan, atau murni untuk melayani?
- Beranikah kita menjaga persatuan meski ego kita harus dikorbankan?
Kepemimpinan Kristiani sejati pada akhirnya membuktikan bahwa seorang pemimpin bisa menjadi sangat kuat tanpa harus kehilangan kelembutan hati; bisa menjadi sangat berani tanpa harus menjadi keras dan kaku. Warisan terbesar yang ditinggalkan bukanlah jabatan struktural, melainkan sebuah kesaksian hidup: bahwa persatuan, kebenaran, dan kasih adalah prinsip yang selalu layak diperjuangkan, berapa pun harga yang harus dibayar.
