By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    1 year ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    2 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    2 months ago
    Latest News
    Berani Mengasihi Meski Terluka
    49 minutes ago
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    24 hours ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    2 days ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    3 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Berani Mengasihi Meski Terluka
    54 minutes ago
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    2 days ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    2 days ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    3 days ago
    Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Paus Leo XIV: Prapaskah, Momen Menjaga Lisan Kita
    7 days ago
    Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Orang Sakit Sedunia 2026: Belas Kasih Orang Samaria
    1 month ago
    Vatikan Tetapkan Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”
    1 month ago
    Bagaimana Gereja Katolik Dapat Menganulir Sebuah Perkawinan?
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    3 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    3 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    8 months ago
    Latest News
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
    It’s Not Just Money
    2 months ago
    Repetisi, Rutinitas dan Etos Shokunin
    2 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • KOLOM PENDIDIKAN
    KOLOM PENDIDIKAN
    Show More
    Top News
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    10 months ago
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Latest News
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    10 months ago
Reading: Maria yang Manusiawi; Refleksi Film Mary dalam Netflix
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • KOLOM PENDIDIKAN
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > IDEA > Refleksi > Maria yang Manusiawi; Refleksi Film Mary dalam Netflix
IDEARefleksi

Maria yang Manusiawi; Refleksi Film Mary dalam Netflix

Maria, yang diperankan dengan sangat memukau oleh Noa Cohen, diperlihatkan sebagai seorang perempuan muda yang hidup dalam kesederhanaan.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: December 19, 2024 7:14 am
By Gabriel Abdi Susanto 1 year ago
Share
5 Min Read
SHARE

Maria, seorang gadis muda dari Nazaret, adalah sosok sederhana yang tak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan menjadi bagian dari kisah terbesar umat manusia. Film “Mary”, yang tayang di Netflix awal Desember 2024, adalah sebuah perjalanan emosional yang mengajak kita menyelami hati dan jiwa perempuan yang dipilih untuk mengandung harapan dunia. Dalam film ini, sutradara D.J. Caruso dengan cermat memadukan elemen-elemen spiritual dan manusiawi, menjadikan kisah Maria terasa begitu dekat dan nyata.

Maria, yang diperankan dengan sangat memukau oleh Noa Cohen, diperlihatkan sebagai seorang perempuan muda yang hidup dalam kesederhanaan. Hari-harinya dipenuhi oleh tugas-tugas rumah tangga dan momen-momen kebersamaan dengan Yusuf, seorang tukang kayu yang diperankan dengan penuh kasih oleh Ido Tako. Ketika malaikat datang membawa kabar bahwa ia akan mengandung sang Mesias, ekspresi Maria memperlihatkan pergulatan batin yang begitu dalam—perasaan takut, bingung, tetapi juga iman yang tak tergoyahkan. Dengan lirih, ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan,” sebuah momen yang menjadi inti dari perjalanan spiritual dan emosional dalam film ini.

Namun, kisah Maria bukanlah dongeng di mana semua berjalan mulus setelah ia mengatakan “fiat.” Kata-kata “terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” tidak menghapuskan kerapuhan yang ia bawa, melainkan menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh pergulatan. Maria tetap harus menghadapi tantangan, dari ketidakpastian perjalanan ke Betlehem hingga rasa sakit fisik dan emosional saat melahirkan di tempat yang jauh dari layak.

Demikian pula dengan Yusuf. Dalam film ini, Yusuf digambarkan sebagai sosok yang penuh kasih tetapi juga bergulat dengan tugas besar yang tiba-tiba ada di pundaknya. Yusuf adalah gambaran nyata dari seseorang yang tidak selalu memiliki jawaban, tetapi tetap memilih berjalan dengan iman. Saat ia menjaga Maria di tengah perjalanan yang berat, Yusuf menunjukkan bahwa kesetiaan sering kali lebih berharga daripada kepastian. Dalam setiap tindakannya, kita melihat manusia biasa yang berusaha melakukan yang terbaik di tengah situasi yang sulit.

Film ini tidak hanya memotret keajaiban, tetapi juga menghadirkan perjuangan manusiawi yang harus dilalui Maria dan Yusuf. Dalam perjalanan mereka ke Betlehem, kita melihat ketegangan dan kelelahan yang nyata—cuaca dingin, ketakutan akan bahaya, dan rasa tak berdaya karena tak menemukan tempat berlindung.

Namun, di tengah semua itu, ada kehangatan kecil yang menyentuh hati: Yusuf menghibur Maria dengan cerita-cerita sederhana, senyum di tengah kelelahan, dan kebersamaan yang tak ternilai. Momen-momen ini mengingatkan kita bahwa kisah mereka adalah tentang cinta dan pengorbanan, sesuatu yang melampaui batas waktu dan tetap relevan hingga hari ini.

Penampilan Anthony Hopkins sebagai Raja Herodes menjadi sorotan tersendiri dalam film ini. Hopkins memerankan Herodes dengan karisma gelap yang membuat setiap adegan kehadirannya terasa mencekam. Meski digambarkan sebagai tokoh antagonis, ada sekilas kemanusiaan yang tampak dalam ekspresi wajahnya—seolah-olah menunjukkan bahwa bahkan seorang raja besar pun tak mampu melawan rasa takutnya sendiri. Ini adalah salah satu kekuatan film ini, menampilkan karakter yang kompleks dan berlapis-lapis.

Yang membuat “Mary” begitu istimewa adalah keberaniannya untuk mengangkat sisi manusiawi dari kisah Maria. Dalam setiap langkahnya, kita merasakan ketakutan, kebingungan, tetapi juga keyakinan yang teguh. Ketika Maria menggendong bayi Yesus untuk pertama kalinya, air matanya tidak hanya mencerminkan kebahagiaan, tetapi juga kecemasan tentang apa yang akan datang. Ini adalah salah satu momen paling emosional dalam film, sebuah pengingat bahwa di balik legenda besar ini, ada seorang perempuan muda yang berjuang dengan hatinya sendiri untuk memahami panggilannya.

Saat film ini mencapai akhirnya, kita tidak hanya meninggalkan kisah Maria dan kelahiran Yesus, tetapi juga sebuah renungan tentang apa artinya memiliki iman di tengah ketidakpastian. Maria, dengan keberaniannya untuk berkata “ya” meskipun tidak tahu apa yang menanti, mengajarkan kita bahwa panggilan Tuhan bukanlah sebuah jaminan bahwa hidup akan menjadi mudah. Sebaliknya, panggilan itu sering kali mengundang kita untuk berjalan dalam kegelapan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai. “Mary” adalah sebuah pengingat indah bahwa dalam kerapuhan manusia, keajaiban sejati dapat ditemukan.

Melalui film ini kita bisa berefleksi bahwa panggilan Tuhan tidak menunggu kita mesti menjadi sempurna terlebih dahulu. Tuhan menghendaki kita untuk melayaniNya,menggunakan dalam segala kerapuhan kita. Bukan karena kita sempurna, kita dipanggil. Namun justru karena di dalam kelemahan itu kehadiran-Nya menjadi nyata.

You Might Also Like

Repetisi, Rutinitas dan Etos Shokunin

Apakah Jiwa Kita Masih Merindukan Allah Sedalam-dalamnya Seperti Rusa Merindukan Air?

Antara Unta, Lubang Jarum, Orang Kaya dan Kerajaan Surga

Tak Semua yang Mengenal Kristus Masuk Surga

Iman yang Menyembuhkan, Syukur yang Menyelamatkan: Belajar dari Naaman dan Si Samaria yang Kembali

TAGGED:MariaMaryNetflixyusuf
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Kelemahan Kita, Ruang Bagi Kuasa Allah untuk Nyatakan Diri
Next Article Keberanian Iman Sang Perawan
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Berani Mengasihi Meski Terluka
  • Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
  • Anak yang Membutuhkan Bapa
  • Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
  • Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?

Recent Comments

  1. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  2. Toro on Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
  3. Toro on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  4. Toro on Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
  5. Toro on Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?