Jakarta — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membuka peluang kerja sama dengan para misionaris Indonesia yang berkarya di berbagai negara sebagai duta bahasa dan budaya Indonesia. Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat internasional melalui jalur diplomasi budaya dan kemanusiaan.
Harapan itu disampaikan Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, saat menerima kunjungan Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari penggunaan resmi bahasa Indonesia oleh media Takhta Suci, Vatican News, setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Komsos KWI dan Dikasteri Komunikasi Vatikan pada Maret lalu di Vatikan.
Dalam pertemuan itu, Hafidz didampingi Sekretaris Badan Bahasa Ganjar Harimansyah dan Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Iwa Lukmana.
Sementara dari Komsos KWI hadir Sekretaris Eksekutif Komsos KWI Petrus Noegroho Agoeng bersama Gabriel Abdi Susanto dan Stefani Irawati. PWKI diwakili AM Putut Prabantoro, Asni Ovier Dengen Paluin, Yophiandi Kurniawan, Algooth Putranto, dan Stanislaus Jumar Sudiyana.
Menurut Hafidz, para misionaris Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penghubung budaya di negara tempat mereka berkarya. Selain menjalankan misi keagamaan, mereka juga dinilai membawa nilai-nilai budaya Indonesia, termasuk bahasa.
“Bahasa Indonesia dapat dibawa para misionaris sebagai bagian dari misi budaya. Mereka bisa menjadi duta ataupun pengajar bahasa Indonesia di tempat mereka berkarya,” ujarnya.
Ia menilai kerja sama antara Badan Bahasa, KWI, dan PWKI dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari penerjemahan dokumen resmi Takhta Suci, penyebaran informasi dan berita, hingga penguatan diplomasi budaya melalui media, radio, maupun podcast. Badan Bahasa juga membuka kemungkinan fasilitasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi para misionaris.
Sekretaris Eksekutif Komsos KWI, Romo Petrus Noegroho Agoeng, menyambut positif gagasan tersebut. Namun, menurut dia, kerja sama dengan para misionaris perlu melibatkan banyak pihak, termasuk keuskupan, tarekat, kongregasi, dan ordo religius di Indonesia.
“Pertemuan budaya, termasuk bahasa, sesungguhnya terjadi di akar rumput. Para misionaris belajar budaya dan bahasa negara tujuan, tetapi pada saat yang sama mereka juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat,” katanya.
Sementara itu, AM Putut Prabantoro menilai penggunaan resmi bahasa Indonesia oleh Vatican News memiliki arti penting, terutama bagi ribuan misionaris Indonesia yang tersebar di berbagai negara. Menurut dia, langkah tersebut juga menjadi bagian dari diplomasi lunak Indonesia di panggung internasional.
“Vatikan memiliki hubungan diplomatik dengan 186 negara. Ini bukan hanya soal agama, tetapi juga soal soft diplomacy melalui diaspora dan para misionaris Indonesia di berbagai belahan dunia,” ujarnya.
Hafidz menegaskan penerjemahan dokumen dan berita Vatikan tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan buatan. Menurut dia, diperlukan pemahaman konteks bahasa, budaya, dan spiritualitas agar pesan yang diterjemahkan tetap utuh.
Gagasan Samindo
Di tempat terpisah, Ketua PWKI Asni Ovier Dengen Paluin mengatakan gagasan kerja sama dengan para misionaris memerlukan persiapan lintas lembaga, termasuk keterlibatan berbagai tarekat, kongregasi, dan keuskupan di Indonesia.
Ia menjelaskan, sebagian besar misionaris Indonesia berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Peran para misionaris Indonesia juga pernah mendapat pengakuan dari Pope Francis pada Februari 2022.
Menurut Ovier, komunikasi antar-misionaris Indonesia di berbagai negara kini telah terjalin melalui komunitas Sahabat Misionaris Indonesia (Samindo), yang digagas oleh Romo Leo Mali, Romo Paul Hale, dan AM Putut Prabantoro.
Pengurus PWKI, Yophiandi Kurniawan, mengatakan Samindo bermula dari grup WhatsApp yang dibentuk pada 3 Juni 2021, ketika pandemi Covid-19 membuat banyak misionaris pulang ke Indonesia.
“Awalnya untuk membantu komunikasi para misionaris saat pandemi. Namun kemudian berkembang menjadi jejaring komunikasi misionaris Indonesia di seluruh dunia,” ujarnya.
Pada Mei 2022, PWKI bersama Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati di Kota Abadi (IRRIKA) dan Keluarga Katolik Indonesia (KKI) mengadakan misa khusus bagi para misionaris Indonesia di Roma. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan Duta Besar RI untuk Takhta Suci saat itu, Amrih Jinangkung.
Sebagai bagian dari kegiatan itu, PWKI mendatangi Vatikan untuk memohon berkat kepausan bagi para misionaris Indonesia di seluruh dunia. Berkat tersebut diberikan langsung oleh Pope Francis melalui penandatanganan piagam yang dibawa dari Indonesia.
Gagasan pembentukan Samindo secara resmi, menurut Yophiandi, juga mendapat dukungan sejumlah uskup di NTT, termasuk Uskup Agung Ende, Budi Kleden. Selain membangun komunikasi antar-misionaris, komunitas ini juga diharapkan dapat membantu para misionaris yang kembali berkarya di Indonesia dengan melibatkan dukungan kaum awam.

