Bacaan hari ini dari Kisah Para Rasul, Mazmur 16, Surat Pertama Petrus, dan Injil Lukas sebenarnya berbicara tentang satu hal yang sangat dekat dengan hidup kita: bagaimana kita sering tidak menyadari kehadiran Yesus Kristus, bahkan ketika Ia ada begitu dekat.
Kisah dua murid yang berjalan ke Emaus itu terasa sangat manusiawi. Mereka sedang kecewa, bingung, dan mungkin juga lelah secara batin. Mereka merasa harapan mereka tentang Yesus sudah runtuh. Mereka memang pernah mengikuti-Nya, tapi kenyataan salib membuat semuanya seperti berakhir. Dalam keadaan seperti itu, mereka memilih pergi, menjauh dari Yerusalem—menjauh dari tempat di mana harapan itu dulu tumbuh.
Dan justru di situ, Yesus datang. Bukan dengan cara yang mencolok, bukan dengan menunjukkan kuasa-Nya, tapi dengan berjalan bersama mereka, mendengarkan cerita mereka. Ia bahkan seperti orang asing. Ini menarik, karena sering kali dalam hidup kita pun begitu: Tuhan hadir, tapi tidak selalu dengan cara yang kita harapkan. Kadang Ia hadir dalam hal yang sederhana—dalam percakapan, dalam orang lain, dalam peristiwa kecil—tapi kita tidak langsung sadar itu Dia.
Yesus lalu mulai menjelaskan Kitab Suci. Ia membantu mereka melihat bahwa penderitaan bukan akhir dari segalanya. Bahwa apa yang mereka anggap kegagalan ternyata bagian dari rencana Allah. Pelan-pelan hati mereka mulai berubah. Mereka sendiri bilang, hati mereka seperti “berkobar-kobar”. Tapi tetap saja, mereka belum mengenali Dia.
Baru ketika mereka duduk makan, saat Yesus memecah-mecahkan roti, mata mereka terbuka. Di situ mereka sadar: ini Dia. Momen itu sederhana, tapi sangat dalam. Seolah mau mengatakan bahwa Tuhan seringkali paling nyata justru dalam hal-hal yang kelihatannya biasa.
Setelah itu, mereka langsung bangkit dan kembali ke Yerusalem. Padahal sebelumnya mereka ingin menjauh. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang sungguh mengalami perjumpaan dengan Tuhan, arah hidupnya berubah. Tidak bisa tetap sama. Tidak bisa diam saja.
Hal yang sama juga kita lihat dalam pewartaan Rasul Petrus di Kisah Para Rasul. Ia berbicara dengan keyakinan bahwa Yesus yang disalibkan itu sungguh bangkit. Ini bukan lagi cerita, tapi pengalaman iman yang menggerakkan. Mazmur 16 juga mengingatkan bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya, bahkan dalam kematian. Dan dalam Surat Pertama Petrus, kita diingatkan bahwa hidup kita berharga karena kita ditebus oleh Kristus.
Kalau kita tarik ke hidup kita, mungkin kita juga pernah ada di posisi seperti murid Emaus. Kecewa, bingung, merasa Tuhan jauh, atau bahkan merasa doa tidak dijawab. Kadang kita jalan terus, tapi hati kosong. Dan tanpa sadar, kita mulai menjauh.
Tapi kabar baiknya: Tuhan tidak ikut menjauh. Ia tetap datang, tetap berjalan bersama kita. Mungkin kita tidak langsung mengenali-Nya, tapi itu bukan berarti Ia tidak ada.
Yang jadi pertanyaan sekarang sederhana: apakah kita mau berhenti sejenak, membuka hati, dan mencoba melihat kembali hidup kita? Siapa tahu, selama ini Tuhan sudah sering hadir… hanya saja kita belum menyadarinya.
