PENULIS: Indah Rohluina Sinaga, Mahasiswi STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Kepemimpinan di dalam lingkungan Gereja sejatinya bukanlah soal mengejar status jabatan, gengsi, ataupun hierarki struktur organisasi. Lebih dari itu, kepemimpinan adalah sebuah panggilan suci untuk melayani sesama dengan hati yang tulus, penuh kerendahan hati, dan digerakkan oleh kasih. Di era modern yang semakin kompleks dan penuh tantangan ini, Gereja sangat membutuhkan sosok pemimpin yang hadir bukan sebagai penguasa yang suka mengatur, melainkan sebagai pelayan yang benar-benar peka terhadap kebutuhan nyata umatnya. Yesus Kristus sendiri sudah memberikan pakem dasar mengenai hal ini: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26). Prinsip radikal inilah yang sejak abad kedua telah dihidupi secara nyata oleh Santo Yustinus Martir, dan nilainya tetap sangat relevan bagi kehidupan Gereja kita saat ini.
Sosok Santo Yustinus Martir
Santo Yustinus Martir lahir sekitar tahun 100 M di Flavia Neapolis, Palestina, dari lingkungan keluarga non-Kristen. Sejak usia muda, ia adalah seorang pencari kebenaran yang sangat tekun dan sempat mendalami berbagai aliran filsafat Yunani terkenal, seperti Stoikisme, Aristotelianisme, hingga Platonisme. Titik balik hidupnya terjadi ketika ia bertemu dengan seorang tua misterius yang memperkenalkannya pada ajaran para nabi dan kisah Yesus Kristus. Pertemuan itu menggerakkan hatinya untuk bertobat dan memeluk iman Kristen. Menariknya, setelah menjadi Kristen, ia tidak membuang ilmu filsafatnya, melainkan menggunakannya sebagai jembatan intelektual untuk membela iman Kristen dari berbagai tuduhan lewat karya-karya apologi terkenalnya, seperti First Apology dan Dialogue with Trypho. Ia menunjukkan keberanian luar biasa saat berhadapan dengan tekanan pemerintah Romawi, tetap setia pada imannya, hingga akhirnya wafat sebagai martir sekitar tahun 165 M. Kepemimpinannya dibangun bukan di atas pondasi kekuatan politik atau kekuasaan, melainkan di atas fondasi pelayanan, dialog terbuka, serta kesaksian hidup yang konsisten.
Praktik Nyata di Lapangan
Semangat kepemimpinan ala Santo Yustinus Martir ini ternyata tercermin dengan sangat baik dalam praktik pelayanan Ketua Dewan Stasi (KDPS) di Stasi Santo Yoseph Pagar Jati. Berdasarkan pengamatan, sang KDPS tidak melihat posisinya sebagai sarana untuk terlihat hebat atau berkuasa di hadapan umat. Sebaliknya, ia menerjemahkan nilai kasih dan kebersamaan ke dalam aksi-aksi yang nyata.
Pelayanannya dilakukan tanpa membeda-bedakan latar belakang umat; semua dirangkul dengan hangat. Nilai kebersamaan itu diwujudkan lewat berbagai program konkret, mulai dari pembentukan koor gabungan stasi, pelaksanaan kegiatan malam keakraban (makrab) untuk menyatukan Orang Muda Katolik (OMK), rutin menghidupkan doa lingkungan, hingga terlibat aktif dalam pendampingan serta pembinaan bagi para calon penerima baptis dan komuni pertama. Fenomena ini membuktikan bahwa indikator utama kepemimpinan yang berkualitas tidak pernah diukur dari besarnya otoritas atau kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar dampak dan pengaruh positif yang bisa diberikan demi perkembangan komunitasnya.
Refleksi Masa Kini
Keteladanan moral Santo Yustinus Martir membuktikan bahwa esensi kepemimpinan sejati tidak pernah usang ditelan zaman. Gaya kepemimpinannya akan terus hidup di dalam diri setiap pemimpin Kristiani yang secara sadar lebih memilih jalan pelayanan ketimbang jalan kekuasaan. Melalui refleksi mendalam ini, kita bisa melihat bahwa apa yang dipraktikkan oleh KDPS di Stasi Santo Yoseph Pagar Jati bukan sekadar menjalankan rutinitas tugas struktural atau birokrasi stasi semata. Lebih dalam dari itu, ia sedang menghidupi sebuah panggilan iman yang memancarkan esensi dari kepemimpinan Kristiani yang sesungguhnya.
Gereja masa kini sangat haus akan figur-figur pemimpin seperti ini: pemimpin yang datang bukan untuk minta dilayani, melainkan untuk melayani; yang berbicara tidak hanya lewat rentetan kata-kata manis, melainkan lewat keteladanan tindakan hidup sehari-hari; serta yang berani menghadapi berbagai badai tantangan bukan demi berburu pujian manusia, melainkan murni didorong oleh rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan dan sesama. Ketika nilai-nilai luhur seperti kerendahan hati, keterbukaan, keberanian moral, dan kerelaan berkorban terus dirawat dalam kepemimpinan Gereja, maka komunitas iman kita akan terus tumbuh subur menjadi tempat yang nyata bagi setiap orang untuk merasakan pelukan kasih Tuhan.
