PENULIS: Yeni Yunita Klara Barus, Mahasiswi STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Bayangkan atmosfer Eropa di era tahun 1170-an, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Calaruega, Spanyol. Di sanalah lahir seorang anak laki-laki bernama Dominikus de Guzman. Dibesarkan di bawah bimbingan pamannya yang merupakan seorang imam, Dominikus akhirnya memilih untuk menapaki jalan hidup yang sama. Namun, sejarah mencatat bahwa Tuhan menyiapkan sebuah rencana yang jauh lebih besar dan menantang bagi dirinya.
Pada masa itu, Eropa tengah diguncang hebat oleh penyebaran ajaran sesat atau bidaah Albigensia yang sangat meresahkan kehidupan masyarakat. Didorong oleh rasa belas kasih yang mendalam melihat penderitaan rohani jiwa-jiwa yang tersesat, Dominikus enggan berdiam diri di balik kenyamanan dinding biara. Ia memilih turun langsung ke jalan-jalan untuk berkhotbah demi meluruskan kembali iman umat—sebuah langkah berani yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah ordo religius legendaris: Ordo Para Pengkhotbah, atau yang lebih kita kenal sebagai Ordo Dominikan.
Sebuah kisah menarik menceritakan momen ketika seseorang bertanya kepada Santo Dominikus mengenai buku apa yang ia gunakan untuk mempersiapkan khotbah-khotbahnya yang begitu luar biasa hingga mampu menyentuh hati banyak orang. Jawaban Dominikus sungguh sederhana, namun sangat mendalam:
“Satu-satunya buku yang aku pergunakan adalah buku cinta”.
Bagi Santo Dominikus, menjadi seorang pemimpin atau pelayan umat bukanlah ajang untuk memamerkan kekuasaan atau kepintaran teologis semata. Melainkan, bagaimana seluruh aspek kehidupan kita—baik tindakan, tutur kata, maupun perhatian—mampu menjelma menjadi “buku cinta” yang berjalan, yang bisa dibaca serta dirasakan langsung oleh semua orang. Oleh karena itu, ia selalu menekankan pentingnya keseimbangan antara kedalaman doa dan aksi nyata di tengah masyarakat bagi para pengikutnya.
Pertanyaannya, apakah spiritualitas “buku cinta” dari abad pertengahan ini masih hidup di sekitar kita hari ini? Jawabannya adalah ya, dan keindahan spiritualitas ini terasa sangat nyata dalam dinamika pelayanan di Paroki St. Yosep Delitua. Di bawah reksa pastoral sang Pastor Paroki, RP. Simon Kemit, OFMConv., warisan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Santo Dominikus seolah menemukan wadah aktualnya yang modern.
Seni Merangkul dan Berkomunikasi dengan Semua Generasi
Santo Dominikus dikenal luas sebagai pemimpin bijaksana yang selalu menyesuaikan cara mengajarnya dengan kapasitas orang yang mendengarnya. Karakteristik inilah yang sangat lekat dalam gaya kepemimpinan Pastor Simon, yang dibekali kemampuan komunikasi luar biasa luwes:
- Gaya Komunikasi kepada Orang Muda: Saat menyapa anak-anak atau Orang Muda Katolik (OMK), gaya bahasa yang beliau gunakan sangat santai, kekinian, dan penuh dengan canda tawa yang hangat.
- Gaya Komunikasi kepada Lansia: Sebaliknya, ketika berdialog dengan para lansia, pendekatan beliau seketika berubah menjadi sangat teduh, sabar, dan penuh rasa hormat.
- Pengelolaan Pengurus Paroki: Beliau juga tidak kaku dalam mengelola rekan-rekan pengurus paroki; mereka yang baru bergabung dibimbing dengan penuh kesabaran, sementara para senior diberikan kepercayaan penuh untuk terus berinovasi.
Dari Altar Turun ke Kebun: Manifestasi Program Pos Ecosophy
Spiritualitas Santo Dominikus menuntut adanya keselarasan mutlak antara kehidupan rohani dengan tindakan nyata bagi sesama. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya berbicara tentang indahnya surga di atas mimbar, melainkan juga menaruh kepedulian pada perut dan kesejahteraan umat yang hidup di bumi. Visi membumi inilah yang diwujudkan secara kreatif oleh Pastor Simon melalui program Pupuk Organik Super Ekosopi (Pos Ecosophy) yang telah dirintis sejak April 2020.
Melalui program pemberdayaan sosial ekonomi ini, pihak paroki mengajak umat di wilayah stasi untuk aktif mengolah pupuk organik sekaligus beternak. Gerakan solutif ini tidak hanya berkontribusi dalam memulihkan kualitas tanah pertanian yang mulai rusak, melainkan juga menjadi jawaban nyata demi mendongkrak roda perekonomian keluarga umat. Di paroki ini, altar dan kebun berjalan beriringan demi memuliakan Tuhan.
Menjadi Pelayan yang Hadir Tanpa Jarak
Kembali pada esensi dasar “buku cinta”, kepemimpinan sejati diuji dari seberapa besar tingkat kepedulian kita saat umat berada di titik terendah kehidupan mereka. Di Paroki Delitua, Pastor Simon secara tegas menolak untuk menjadi sosok pemimpin yang berjarak. Beliau memilih rutin turun langsung mengunjungi stasi-stasi pinggiran.
Ketika ada umat yang didera sakit, mengalami duka mendalam karena kematian, atau mereka yang tengah terhimpit oleh kesulitan ekonomi, di situlah Pastor Simon hadir memberikan penguatan nyata. Beliau melayani dengan ketulusan dan kerendahan hati yang utuh, tanpa pernah menonjolkan sekat jabatan atau kekuasaan yang diembannya. Bagi beliau, kepentingan dan keselamatan jiwa umat senantiasa ditaruh di atas kenyamanan pribadinya.
Catatan Reflektif Seorang Peziarah Batin
Melihat dan merasakan langsung bagaimana dinamika pelayanan ini digerakkan di Paroki St. Yosep Delitua bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan sebuah ziarah batin yang mendalam mengenai arti kepemimpinan Kristen yang sesungguhnya. Di tengah dunia yang kerap mengukur kesuksesan seorang pemimpin dari megahnya program atau tingginya otoritas, perjalanan ini justru menjungkirbalikkan ego duniawi tersebut.
Melalui permenungan ini, kita disadarkan akan beberapa hal fundamental:
- Keseimbangan Iman dan Tindakan: Warisan spiritualitas Santo Dominikus de Guzman mengenai kepemimpinan “buku cinta” sangat hidup di paroki ini lewat keseimbangan antara doa dan tindakan nyata. Ketika menginisiasi program Pupuk Ecosophy, Pastor Simon tidak hanya berkhotbah tentang kebaikan Tuhan di atas altar, melainkan sedang menjawab langsung jeritan para petani lokal dan memulihkan bumi yang rusak. Iman yang hidup ternyata adalah iman yang peka, yang mau mencium bau keringat bumi, dan berani melangkah mencari solusi konkret demi kesejahteraan sesama.
- Kerendahan Hati Tanpa Sekat: Keteladanan sang pastor mengajarkan arti kerendahan hati melalui caranya merangkul seluruh generasi—mulai dari keceriaan anak-anak, semangat OMK, hingga keteduhan para lansia. Memimpin ternyata bukan tentang membuat orang lain merasa kecil di hadapan kita, melainkan tentang bagaimana kita memberikan mereka ruang dan kepercayaan untuk ikut bertumbuh dalam semangat persaudaraan.
- Prinsip Bekerja dalam Iman: Sesibuk apa pun aktivitas kita, seluruh karya pelayanan tersebut akan kehilangan jiwanya jika tidak berakar kuat pada doa dan ketulusan hati.
Pada akhirnya, pelayanan sejati tidak pernah mencari panggung kehormatan atau kenyamanan untuk diri sendiri, melainkan rindu untuk menjadi “buku cinta” yang terbuka dan membawa damai bagi siapa saja yang membacanya.
