PENULIS: Paska Videlis Siallagan, Mahasiswi STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Di tengah kehidupan Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Santo Alfonsus Tuk-Tuk, sosok Jodi Harianja dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan para anggotanya. Sebagai Ketua OMK, ia tidak hanya bertugas mengoordinasikan berbagai kegiatan, tetapi juga berupaya hadir, mendengarkan, dan berjalan bersama kaum muda dalam kehidupan menggereja sehari-hari.
Kepemimpinan yang ditunjukkan Jodi mengingatkan kita pada sosok Raja Saul pada masa awal pemerintahannya. Dalam Kitab Suci, Saul dipilih oleh Allah untuk memimpin bangsa Israel. Ketika pertama kali dipanggil, ia menunjukkan sikap rendah hati dan bahkan merasa dirinya tidak layak menerima tugas besar tersebut. Kerendahan hati ini menjadi salah satu kualitas yang penting bagi setiap pemimpin yang ingin melayani dengan tulus.
Memimpin dengan Semangat Melayani
Salah satu ciri yang menonjol dari kepemimpinan Jodi adalah semangat pelayanan. Dalam berbagai kegiatan OMK, ia tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga terlibat langsung bersama anggota. Ia hadir dalam persiapan kegiatan, mendukung berbagai program, dan berusaha memastikan setiap anggota merasa dihargai.
Semangat seperti ini sejalan dengan nilai kepemimpinan Kristiani yang menempatkan pelayanan sebagai inti dari kepemimpinan. Seorang pemimpin bukanlah pribadi yang mencari penghormatan, melainkan orang yang bersedia mengabdikan diri bagi perkembangan komunitas yang dipimpinnya.
Pada masa awal kepemimpinannya, Saul juga memperlihatkan semangat untuk memperjuangkan kesejahteraan bangsanya. Ia tampil sebagai pemimpin yang berusaha melindungi dan memperkuat persatuan Israel. Dari sini kita belajar bahwa kepemimpinan sejati selalu berorientasi pada kebaikan bersama.
Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan
Komunitas OMK terdiri dari berbagai pribadi dengan karakter, minat, dan latar belakang yang berbeda. Tantangan seorang pemimpin adalah bagaimana merangkul keberagaman tersebut menjadi sebuah kekuatan.
Dalam menjalankan tugasnya, Jodi berusaha membangun suasana yang terbuka dan penuh persaudaraan. Ia mendorong setiap anggota untuk terlibat aktif tanpa membedakan siapa pun. Kehadiran dan pendekatan yang akrab membuat anggota merasa memiliki tempat dalam komunitas.
Hal ini mengingatkan pada tugas Raja Saul yang berusaha mempersatukan suku-suku Israel yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Seorang pemimpin tidak hanya bertugas mengatur, tetapi juga membangun rasa memiliki, kebersamaan, dan solidaritas di antara mereka yang dipimpinnya.
Keteladanan yang Menjadi Inspirasi
Kepemimpinan yang efektif tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dari keteladanan hidup. Bagi anggota OMK, seorang pemimpin akan lebih mudah dihormati ketika tindakannya selaras dengan kata-katanya.
Jodi berusaha menunjukkan sikap tanggung jawab, kepedulian, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan Gereja. Keteladanan tersebut menjadi inspirasi bagi anggota untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan dan pengembangan komunitas.
Kepemimpinan Kristiani selalu menuntut seorang pemimpin untuk menjadi contoh dalam tindakan nyata. Ketika seorang pemimpin terlebih dahulu menjalankan nilai-nilai yang diajarkannya, kepercayaan dan semangat anggota akan tumbuh dengan sendirinya.
Belajar dari Keberhasilan dan Kegagalan Saul
Meskipun memiliki banyak kualitas positif, kisah Raja Saul juga mengandung peringatan penting. Dalam perjalanan kepemimpinannya, Saul mulai kehilangan arah karena ketidaktaatan dan kecenderungannya mengandalkan kehendaknya sendiri. Akibatnya, ia mengalami kemunduran dan kehilangan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
Kisah ini menjadi refleksi berharga bagi setiap pemimpin, termasuk para pemimpin muda dalam Gereja. Kepemimpinan yang baik tidak cukup hanya dimulai dengan niat yang baik, tetapi juga harus dipelihara melalui kerendahan hati, kesetiaan pada tugas, keterbukaan terhadap kritik, dan kesediaan untuk terus belajar.
Dengan demikian, seorang pemimpin tidak hanya meneladani keberhasilan Saul pada masa awal pemerintahannya, tetapi juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang membuatnya jatuh.
Kepemimpinan yang Bertumbuh dalam Pelayanan
Kepemimpinan Jodi Harianja sebagai Ketua OMK Stasi Santo Alfonsus Tuk-Tuk menunjukkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan Kristiani tetap relevan dan hidup dalam kehidupan Gereja saat ini. Melalui semangat melayani, kepedulian terhadap sesama, dan usaha membangun kebersamaan, ia memperlihatkan kualitas-kualitas yang juga tampak dalam diri Saul pada awal masa kepemimpinannya.
Dari refleksi ini, kita belajar bahwa seorang pemimpin yang baik bukanlah mereka yang paling berkuasa, melainkan mereka yang mampu hadir, mendengarkan, melayani, dan bertumbuh bersama orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan Gereja agar kaum muda semakin terlibat, berkembang, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia.
