PENULIS: Shophia Verisha Situmorang, Mahasiswi STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Dalam sejarah Gereja Katolik, St. Yohanes Krisostomus dikenal sebagai salah satu tokoh yang meninggalkan jejak mendalam melalui hidup, karya, dan ajarannya. Ia hidup pada abad ke-4 dan awal abad ke-5, serta dikenang sebagai seorang pengkhotbah ulung yang mampu menjelaskan ajaran iman dengan begitu jelas dan menyentuh hati. Karena kepiawaiannya berbicara, ia mendapat julukan Krisostomus yang berarti “Mulut Emas”.
Lahir sekitar tahun 349 di Antiokhia, Yohanes dibesarkan oleh ibunya, Anthusa, seorang perempuan Kristiani yang saleh. Sejak kecil ia telah memperoleh pendidikan yang sangat baik dan menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam bidang retorika serta sastra. Setelah menyelesaikan studinya, ia memilih menjalani hidup rohani yang mendalam sebagai seorang pertapa. Tahun-tahun yang dihabiskannya dalam doa, puasa, dan pendalaman Kitab Suci membentuk karakter serta spiritualitas yang kelak menjadi fondasi pelayanannya.
Pada tahun 386, Yohanes ditahbiskan menjadi imam. Khotbah-khotbahnya yang mendalam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari membuat banyak orang tertarik mendengarkannya. Popularitasnya sebagai pewarta Sabda Allah semakin meningkat hingga akhirnya pada tahun 398 ia diangkat menjadi Uskup Konstantinopel, salah satu jabatan paling penting dalam Gereja pada masa itu.
Sebagai uskup, Yohanes memandang kepemimpinan bukan sebagai sarana untuk memperoleh kehormatan, melainkan sebagai panggilan untuk melayani. Ia meneladani Yesus Kristus yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Karena itu, ia memberikan perhatian besar kepada kaum miskin, orang sakit, dan mereka yang hidup dalam kesulitan. Baginya, pelayanan kepada mereka yang menderita merupakan bentuk nyata kasih kepada Kristus sendiri.
Semangat pelayanannya juga tampak dalam gaya hidupnya yang sederhana. Meskipun menduduki jabatan tinggi, ia tidak tertarik pada kemewahan. Ia memilih menggunakan sumber daya yang dimiliki Gereja demi membantu mereka yang membutuhkan. Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari kekayaan atau kedudukan, melainkan dari kesediaan untuk mengutamakan kepentingan orang lain.
Salah satu keutamaan yang paling menonjol dalam diri St. Yohanes Krisostomus adalah keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran. Ia tidak segan mengkritik ketidakadilan sosial, keserakahan, serta penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi pada zamannya. Dalam berbagai khotbahnya, ia mengingatkan bahwa kekayaan bukanlah tujuan hidup, melainkan sarana untuk membantu sesama. Menurutnya, setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah atas cara mereka memperlakukan orang lain.
Keberaniannya bahkan ditujukan kepada para penguasa. Ia menegur para pejabat yang bertindak tidak adil dan menggunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Puncaknya terjadi ketika ia secara terbuka mengkritik Permaisuri Eudoksia karena gaya hidup mewah dan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat kecil. Sikap tegas ini membuatnya menghadapi berbagai tekanan politik, fitnah, dan akhirnya pengasingan. Namun, Yohanes tetap teguh pada keyakinannya bahwa kebenaran harus disampaikan tanpa memandang siapa yang mendengarnya.
Keberanian tersebut berakar pada kehidupan rohaninya yang sangat mendalam. Sejak muda, Yohanes menjadikan doa, puasa, dan Kitab Suci sebagai pusat hidupnya. Ia percaya bahwa Sabda Allah merupakan sumber kebijaksanaan dan pedoman hidup bagi setiap orang Kristiani. Karena itu, dalam setiap khotbahnya ia berusaha menjelaskan Kitab Suci dengan bahasa yang sederhana agar dapat dipahami oleh semua kalangan.
Selain menjadi pengkhotbah yang hebat, Yohanes juga dikenal karena kasihnya yang besar kepada kaum miskin. Ia mengajarkan bahwa membantu mereka yang membutuhkan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban setiap pengikut Kristus. Menurutnya, ketika seseorang menolong orang miskin, sesungguhnya ia sedang melayani Kristus sendiri. Ajaran ini menjadi salah satu tema utama dalam seluruh karya dan pelayanannya.
Pelayanan Yohanes juga diwujudkan melalui pendidikan iman. Ia tidak hanya berkhotbah, tetapi juga membimbing umat agar semakin memahami ajaran Gereja dan bertumbuh dalam kehidupan rohani. Dengan penuh kesabaran, ia mengajar, memberikan nasihat, serta mendorong umat untuk membaca Kitab Suci dan memperdalam relasi mereka dengan Tuhan. Baginya, pendidikan iman merupakan bagian penting dalam membentuk pribadi yang dewasa dalam iman dan mampu menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.
Beberapa kisah dalam hidupnya menjadi inspirasi hingga saat ini. Ketika melihat banyak orang hidup dalam kemiskinan, ia menjual berbagai barang mewah milik keuskupan dan menggunakan hasilnya untuk membantu kaum miskin. Tindakan ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada sesama jauh lebih penting daripada kemegahan atau kenyamanan pribadi.
Kisah lain yang terkenal adalah keberaniannya menegur Permaisuri Eudoksia. Meskipun menyadari risiko yang akan dihadapi, ia tetap menyampaikan kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan yang terjadi. Ia memilih setia pada Injil daripada mencari keamanan pribadi.
Bahkan ketika menghadapi ancaman, fitnah, dan tekanan politik, Yohanes tidak pernah berhenti berkhotbah. Ia terus mengajak umat hidup sesuai kehendak Tuhan. Keteguhan ini memperlihatkan bahwa pelayanan sejati membutuhkan keberanian dan kesetiaan yang tidak mudah goyah oleh keadaan.
Akibat konflik dengan pihak kekaisaran, Yohanes akhirnya diasingkan. Dalam perjalanan menuju tempat pembuangan yang baru, kondisi kesehatannya semakin memburuk hingga ia meninggal dunia pada tahun 407. Namun, hingga saat-saat terakhir hidupnya, ia tetap memuji Tuhan. Kata-kata terakhirnya yang terkenal, “Kemuliaan bagi Allah dalam segala hal,” menjadi kesaksian tentang iman yang tidak tergoyahkan.
Warisan St. Yohanes Krisostomus tetap relevan hingga saat ini. Di tengah dunia yang sering diwarnai penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan ketidakadilan, teladannya mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus mengutamakan pelayanan, kejujuran, dan integritas. Kepemimpinan bukanlah sarana untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan kesempatan untuk menghadirkan kasih dan keadilan bagi sesama.
Di era digital, ajarannya juga mengingatkan bahwa kemampuan berbicara dan berkomunikasi harus digunakan secara bertanggung jawab. Media dan teknologi hendaknya menjadi sarana untuk menyampaikan kebenaran, membangun persaudaraan, dan menyebarkan nilai-nilai yang membawa kebaikan.
Bagi kaum muda, kehidupan St. Yohanes Krisostomus menjadi inspirasi untuk menggunakan talenta yang dimiliki demi melayani sesama dan memuliakan Tuhan. Kemampuan berbicara, menulis, memimpin, maupun memanfaatkan teknologi dapat menjadi sarana untuk memperjuangkan kebenaran, membela yang lemah, dan membangun masyarakat yang lebih adil.
Melalui seluruh perjalanan hidupnya, St. Yohanes Krisostomus menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristiani sejati berakar pada iman, diwujudkan dalam pelayanan, dan dipertahankan dengan keberanian. Ia mengajarkan bahwa kebesaran seorang pemimpin tidak terletak pada kekuasaan yang dimiliki, melainkan pada kesediaannya untuk mengorbankan diri demi kebaikan sesama dan kemuliaan Allah.
