LARANTUKA — Sebuah peristiwa bersejarah bagi Gereja Katolik di Flores Timur terjadi di Stasi Santo Petrus Rasul Lewouran, Kecamatan Ile Bura, ketika dua relikwi yang berkaitan dengan Santo Petrus Rasul tiba dari Vatikan pada Senin malam (3/8). Kedatangan relikwi tersebut disambut ratusan umat dengan penuh sukacita dan devosi, menandai eratnya persekutuan antara Gereja lokal di Indonesia dengan Gereja Universal.
Dua relikwi tersebut dibawa langsung oleh Romo Markus Solo Kewuta, SVD, atau yang akrab disapa Padre Marco, imam asal Lewouran yang saat ini bertugas di Dikasteri untuk Dialog Antaragama Tahta Suci di Vatikan. Relikwi yang dibawanya terdiri atas tanah dari makam Santo Petrus Rasul dan pecahan batu dari Pintu Suci (Porta Sancta) Basilika Santo Petrus, masing-masing disertai sertifikat autentikasi resmi dari Vatikan.
Kedatangan Padre Marco ke kampung halamannya berlangsung penuh haru. Sejak memasuki kawasan desa, ratusan umat telah berjejer di sepanjang jalan menuju Gereja Stasi Santo Petrus Rasul. Dengan berlutut dan menundukkan kepala, mereka menyambut imam yang telah mengabdi di pusat Gereja Katolik sedunia itu sambil menghormati relikwi yang dibawanya dari Roma.
Suasana semakin khidmat ketika para tetua adat mengenakan kain tenun khas Flores Timur kepada Padre Marco serta menyerahkan sirih pinang dan minuman tradisional sebagai tanda penghormatan, penerimaan, dan sukacita atas kepulangan putra daerah yang kini melayani Gereja Universal.
Dalam penjelasannya kepada umat, Padre Marco menegaskan bahwa relikwi bukanlah benda yang disembah, melainkan tanda nyata yang menghubungkan umat dengan kesaksian hidup para kudus. “Dalam tradisi Gereja Katolik, relikwi bukan objek penyembahan. Relikwi adalah tanda nyata yang menghubungkan kita dengan kehidupan, iman, dan kesaksian para kudus. Kehadiran relikwi Santo Petrus di Lewouran menjadi lambang persekutuan yang begitu erat antara Gereja lokal di Flores Timur dengan Gereja Universal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Santo Petrus merupakan rasul yang menerima perutusan langsung dari Yesus Kristus dan dihormati sebagai Paus pertama dalam Gereja Katolik. Karena itu, kehadiran relikwi yang berkaitan dengan makam Santo Petrus memiliki makna spiritual yang sangat mendalam bagi umat beriman.
Padre Marco juga mengenang perjalanan panjang pembangunan Gereja Stasi Santo Petrus Rasul yang berdiri sekitar 25 tahun silam. Menurutnya, gereja tersebut dibangun melalui semangat gotong royong masyarakat setempat sekitar tahun 2001.
“Ketika kami membangun kapel ini seperempat abad lalu, kami tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari relikwi Santo Petrus dari Roma akan berada di tempat ini. Saat itu saya hanya menyimpan harapan sederhana agar gereja ini kelak menjadi tempat pertumbuhan iman dan tujuan ziarah umat. Hari ini saya melihat harapan itu mulai diwujudkan Tuhan,” katanya.
Ia berharap kehadiran relikwi tersebut tidak berhenti sebagai kebanggaan semata, melainkan menjadi undangan bagi seluruh umat untuk terus memperbarui hidup beriman.
“Relikwi ini mengajak kita semakin dekat dengan Kristus, memperdalam iman, memperkuat persaudaraan, dan semakin setia melayani sesama. Saya berdoa agar Gereja Santo Petrus Lewouran menjadi rumah doa, tempat ziarah, dan sumber pengharapan bagi banyak orang.”
Bagi Gereja Katolik, relikwi memiliki nilai spiritual sebagai sarana devosi yang mengingatkan umat pada teladan hidup para kudus. Kehadiran relikwi Santo Petrus di Lewouran sekaligus memperlihatkan keterhubungan Gereja di pelosok Flores Timur dengan pusat Gereja Katolik di Vatikan.
Momentum bersejarah tersebut juga mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Camat Ile Bura, Yohanes Kleden, mengatakan masyarakat merasa bangga karena salah seorang putra terbaik Lewouran dipercaya mengemban tugas penting di Tahta Suci.
“Keberadaan Romo Markus yang melayani di Vatikan menjadi inspirasi bagi masyarakat Flores Timur, terutama generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak dari daerah ini dapat memberikan pelayanan hingga tingkat Gereja Universal apabila memiliki dedikasi dan panggilan yang kuat,” ujarnya.
Selama berada di Lewouran, Padre Marco dijadwalkan memimpin Misa Syukur, mengunjungi sejumlah sekolah dan asrama binaannya, serta secara resmi menyerahkan kedua relikwi tersebut kepada Gereja Stasi Santo Petrus Rasul sebelum kembali menjalankan tugasnya di Roma.
Romo Markus Solo Kewuta lahir di Lewouran pada 1968 dan bergabung dengan Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD). Pada 2015, ia menjadi imam Indonesia pertama yang dipercaya melayani di Kuria Roma. Namanya semakin dikenal luas ketika bertugas sebagai penerjemah resmi Paus Fransiskus selama Perjalanan Apostolik Bapa Suci ke Indonesia pada September 2024.
Bagi umat Katolik Lewouran, kehadiran relikwi Santo Petrus bukan sekadar menghadirkan kenangan akan Rasul pertama Gereja, melainkan juga menjadi tonggak baru dalam perjalanan iman mereka. Di kaki Gunung Lewotobi, sebuah gereja sederhana yang lahir dari semangat gotong royong kini memancarkan harapan untuk berkembang sebagai pusat doa dan ziarah yang mempertemukan umat dengan warisan iman Gereja sepanjang zaman.
PENULIS : Stanislaus Jumar Sudiyana
