Belajar Berdoa dari Kesaksian Iman Luis de la Fuente Castillo
Menjelang pertandingan terbesar dalam kariernya sebagai pelatih tim nasional Spanyol di Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente mendapat sebuah pertanyaan yang mungkin juga mewakili rasa ingin tahu banyak orang.
“Apa yang Anda minta kepada Tuhan sebelum pertandingan?”
Banyak orang mungkin menduga jawabannya sederhana: kemenangan.
Namun, jawaban pelatih yang dikenal sebagai seorang Katolik yang taat itu justru mengajak kita memasuki makna doa yang jauh lebih dalam.
“Saya berdoa setiap hari, tetapi bukan karena saya berada di Piala Dunia atau karena saya ingin mendapatkan hasil tertentu.”
Kalimat pertama ini sudah membongkar cara berpikir yang sering kali melekat dalam hidup rohani kita. Tidak sedikit orang yang semakin rajin berdoa ketika menghadapi ujian, wawancara kerja, operasi, pemilu, atau pertandingan penting. Tuhan seolah menjadi tempat persinggahan ketika hidup memasuki masa-masa genting.
Padahal, doa bukanlah tombol darurat.
Doa adalah napas kehidupan.
Bagi de la Fuente, doa tidak bergantung pada situasi. Ia berdoa bukan karena sedang berada di panggung dunia, tetapi karena doa telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia tidak menunggu masalah datang untuk mengingat Tuhan. Ia telah membangun persahabatan dengan Tuhan jauh sebelum sorotan kamera mengarah kepadanya.
Bukankah demikian pula yang dilakukan Yesus?
Injil berkali-kali mencatat bahwa Yesus berdoa bukan hanya menjelang sengsara-Nya, tetapi sepanjang hidup-Nya. Ia bangun pagi-pagi benar untuk mencari tempat sunyi (Mrk. 1:35). Ia berdoa sebelum memilih para rasul, sebelum mukjizat, sebelum mengajar, bahkan ketika orang banyak memuji-Nya.
Relasi dengan Bapa menjadi sumber seluruh hidup-Nya.
Mungkin di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah doa kita sudah menjadi irama hidup, atau hanya menjadi pelampiasan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan?
Kemudian de la Fuente melanjutkan:
“Saya bersyukur setiap hari. Ketika saya bangun dan melihat saya masih sehat, saya berkata: ‘Hari baru lagi untuk menikmati hidup.'”
Betapa sederhana.
Tidak ada kata-kata besar.
Tidak ada teologi yang rumit.
Hanya rasa syukur karena masih membuka mata pada pagi hari.
Kita sering menganggap hidup sebagai sesuatu yang otomatis. Matahari terbit setiap pagi, jantung berdetak, udara memenuhi paru-paru, keluarga masih ada, pekerjaan masih tersedia. Semua terasa biasa karena terjadi setiap hari.
Padahal tidak ada satu pun dari semuanya itu yang merupakan hak kita.
Semuanya adalah anugerah.
Sering kali kita baru menyadari nilai kesehatan ketika tubuh mulai rapuh. Kita baru menyadari indahnya kebersamaan ketika kehilangan orang yang kita cintai. Kita baru menyadari betapa berharganya waktu ketika kesempatan itu sudah berlalu.
De la Fuente mengingatkan bahwa doa pertama setiap hari seharusnya bukanlah permintaan, melainkan ucapan syukur.
Dalam tradisi Gereja, inti kehidupan Kristiani adalah Ekaristi. Kata eucharistia berarti “ucapan syukur”. Gereja tidak dibangun pertama-tama di atas permintaan manusia, tetapi di atas syukur atas kasih Allah yang lebih dahulu diberikan.
Pernyataan berikutnya mungkin yang paling mengejutkan.
“Saya tidak berdoa supaya Tuhan membantu saya memenangkan pertandingan.”
Bukankah hampir semua orang pernah melakukan hal seperti ini?
Siswa berdoa agar lulus ujian.
Pebisnis berdoa agar menang tender.
Politisi berdoa agar memenangkan pemilu.
Atlet berdoa agar menjadi juara.
Tidak ada yang salah dengan menyerahkan harapan kepada Tuhan. Namun de la Fuente mengingatkan bahwa Tuhan bukanlah alat untuk memastikan keinginan kita selalu terwujud.
Doa bukanlah cara mengendalikan Allah.
Doa adalah cara membiarkan Allah membentuk hati kita.
Yesus sendiri di Taman Getsemani memberikan teladan yang sangat indah.
Ia berkata,
“Bapa, jika Engkau menghendaki, ambillah cawan ini daripada-Ku. Tetapi janganlah kehendak-Ku yang terjadi, melainkan kehendak-Mulah.” (Luk. 22:42)
Yesus menyampaikan keinginan-Nya, tetapi tidak memaksakannya.
Itulah doa yang dewasa.
Lalu de la Fuente mengucapkan kalimat yang sangat jarang terdengar di dunia olahraga modern.
“Rasanya tidak adil meminta Tuhan membantu saya tetapi tidak membantu lawan.”
Kalimat ini sangat kaya secara rohani.
Sering kali kita tanpa sadar membayangkan Tuhan berpihak kepada kelompok kita.
Tuhan berpihak pada negara kita.
Tuhan berpihak pada organisasi kita.
Tuhan berpihak pada partai kita.
Tuhan berpihak pada Gereja kita.
Tuhan berpihak pada keluarga kita.
Padahal Tuhan adalah Bapa bagi semua orang.
Ia mengasihi kedua tim.
Ia mengasihi semua bangsa.
Ia menghendaki kebaikan bagi semua anak-Nya.
Mungkin inilah salah satu bentuk kerendahan hati terbesar dalam doa: berhenti menempatkan Tuhan sebagai pendukung kepentingan pribadi.
Dalam spiritualitas Ignasian, Santo Ignatius Loyola mengajarkan sikap indifference atau kebebasan batin. Artinya, kita tidak mengikatkan diri secara mutlak pada keberhasilan atau kegagalan, melainkan hanya pada kehendak Allah. Kita bekerja sungguh-sungguh, memberikan yang terbaik, tetapi hasil akhirnya kita serahkan kepada-Nya.
Terakhir, de la Fuente mengatakan:
“Saya meminta kesehatan dan kesempatan untuk terus berjuang. Dengan kesehatan saya bisa menghadapi apa saja. Saya seorang pejuang dan akan terus berjuang selama saya memiliki kesehatan.”
Inilah doa yang lahir dari kedewasaan iman.
Ia tidak meminta hidup tanpa kesulitan.
Ia meminta kekuatan untuk menjalani kehidupan.
Ia tidak meminta jalan yang selalu mulus.
Ia meminta kemampuan untuk tetap berjalan.
Sering kali kita meminta Tuhan menghilangkan salib.
Padahal Tuhan lebih sering memberi kita bahu yang semakin kuat untuk memikulnya.
Rasul Paulus tiga kali memohon agar “duri dalam dagingnya” diangkat. Tuhan tidak mengabulkan permintaan itu. Sebaliknya, Tuhan berkata,
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2Kor. 12:9)
Kadang mukjizat terbesar bukanlah masalah yang hilang.
Mukjizat terbesar adalah hati yang dikuatkan untuk tetap setia.
Kesaksian Luis de la Fuente mengingatkan kita bahwa kualitas doa tidak diukur dari banyaknya permintaan yang kita panjatkan, tetapi dari kedalaman relasi kita dengan Allah.
Doa yang matang dimulai dengan syukur, dibentuk oleh kepercayaan, dibebaskan dari keinginan mengendalikan Tuhan, dan diakhiri dengan penyerahan diri kepada kehendak-Nya.
Mungkin besok pagi, sebelum kita sibuk dengan pekerjaan, sebelum membuka telepon genggam, sebelum menyusun daftar kebutuhan dan kekhawatiran, kita dapat mengawali hari dengan doa yang sederhana.
“Tuhan, terima kasih karena Engkau masih memberi aku hidup hari ini.
Terima kasih karena aku masih bisa bernapas, masih bisa mencintai, masih bisa melayani.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini.
Aku tidak meminta agar semua berjalan sesuai keinginanku.
Aku hanya memohon satu hal: berilah aku kesehatan, kekuatan, dan hati yang tetap setia untuk menjalani kehendak-Mu.
Sebab kemenangan terbesar bukanlah ketika aku memperoleh semua yang kuinginkan, melainkan ketika hidupku semakin menyerupai Kristus.”
Mungkin, di situlah doa menemukan maknanya yang paling sejati.
