By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    8 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    5 months ago
    Latest News
    WUJA XI Unveils the Yogyakarta Manifesto, Calling Jesuit Alumni Worldwide to Be United in Spirit and Lead with Purpose
    14 hours ago
    Justice Is Not a Luxury: Guatemalan Ambassador Calls Jesuit Alumni to Confront Corruption with Moral Courage
    2 days ago
    John Tan: Jesuit Education Must Help Young People Find Hope Amid AI Disruption
    2 days ago
    Beyond Graduation: Jesuit Universities Call for Lifelong Formation and Mission Through Global Alumni Networks
    2 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Tuhan Bukan Pendukung Tim Mana Pun
    2 weeks ago
    Menulis untuk Menghidupkan Literasi: Jejak Sunyi Angela Yurmani Giawa
    1 month ago
    Di Balik Banyak Peran, Selalu Ada Ruang untuk Bersyukur
    1 month ago
    Petrus dan Paulus: dari Kerapuhan Menuju Batu Karang dan Saksi Kristus
    1 month ago
    Samudra Pelayanan: Menemukan Jiwa dalam Sabar, Tekun, Proses, dan Mengalir
    1 month ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Petrus dan Paulus: dari Kerapuhan Menuju Batu Karang dan Saksi Kristus
    1 month ago
    Keteladanan Santo Oliver Plunkett dalam Membangun Kepemimpinan Pelayanan
    2 months ago
    Menjadi Teladan di Tengah Umat: Belajar dari Timotius dan Gereja Masa Kini
    2 months ago
    St. Petrus: Kepemimpinan yang Berlandaskan Iman, Keberanian, dan Pelayanan
    2 months ago
    Kepemimpinan yang Melayani: Inspirasi Santa Klara bagi Pemimpin Umat Masa Kini
    2 months ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    8 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    8 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    1 year ago
    Latest News
    WUJA XI Unveils the Yogyakarta Manifesto, Calling Jesuit Alumni Worldwide to Be United in Spirit and Lead with Purpose
    14 hours ago
    Justice Is Not a Luxury: Guatemalan Ambassador Calls Jesuit Alumni to Confront Corruption with Moral Courage
    2 days ago
    In an Age of AI, the Greatest Challenge Is No Longer Technology—but Human Discernment
    2 days ago
    John Tan: Jesuit Education Must Help Young People Find Hope Amid AI Disruption
    2 days ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    4 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    4 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    3 months ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    4 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    4 months ago
Reading: Tidak Menghakimi, Tetap Mendampingi
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
BONAVENTURAGEREJA SEMESTAOrang Kudus

Tidak Menghakimi, Tetap Mendampingi

inigoway
Last updated: June 4, 2026 10:45 am
By inigoway 2 months ago
Share
7 Min Read
Liasta br Sembiring. Memberkati dan meliturgikan salah satu umat yg tidak aktif. Foto : Okta
SHARE

Wajah Kepemimpinan Kristiani di Lingkungan Santo Bonaventura

“Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10)

Salah satu tantangan yang sering dijumpai dalam kehidupan menggereja adalah kehadiran umat yang semakin beragam dalam tingkat keterlibatan mereka. Di satu sisi, ada umat yang selalu setia dan aktif mengikuti doa lingkungan, perayaan liturgi, serta berbagai kegiatan paroki. Namun di sisi lain, ada pula umat yang perlahan mulai menjauh, jarang hadir, atau bahkan tidak lagi terlibat sama sekali dalam kehidupan komunitas.

Contents
Wajah Kepemimpinan Kristiani di Lingkungan Santo BonaventuraRealitas di Balik Ketidakhadiran UmatMeneladani Santo Petrus Claver: Pemimpin yang MerangkulMenghadirkan Wajah Gereja yang RamahRefleksi Akhir: Menjadi Pemimpin Berhati Gembala

Dalam situasi dilematis seperti ini, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang penting untuk kita renungkan bersama: bagaimana seharusnya seorang pemimpin Kristiani menyikapi umat yang kurang aktif? Apakah mereka harus dipersalahkan dan dihakimi karena ketidakhadirannya, atau justru dirangkul, didekati, dan didampingi dengan kasih?

Realitas di Balik Ketidakhadiran Umat

Sebagai bagian dari Lingkungan Santo Bonaventura, saya melihat bahwa realitas umat yang pasif bukanlah sesuatu yang asing. Kehidupan nyata umat tidak selalu berjalan mulus. Kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, persoalan pelik di dalam keluarga, kondisi kesehatan yang menurun, hingga berbagai pergumulan pribadi yang berat sering kali memengaruhi porsi keterlibatan seseorang dalam kehidupan menggereja.

Kita perlu menyadari bahwa di balik ketidakhadiran seorang umat di lingkaran doa, sering kali terdapat cerita perjuangan dan air mata yang tidak diketahui oleh orang lain.

Di tengah realitas sosial tersebut, saya menemukan sebuah pelajaran berharga tentang esensi kepemimpinan Kristiani melalui keteladanan pelayanan Ketua Lingkungan Santo Bonaventura, Liasta br Sembiring. Dalam menjalankan tugas penggembalaannya, beliau memilih untuk tidak memandang umat berdasarkan tingkat keaktifan mereka. Bagi beliau, baik umat yang aktif maupun yang jarang hadir tetaplah bagian utuh dari keluarga besar lingkungan yang berhak mendapatkan perhatian, kasih, dan pelayanan yang sama.

Meneladani Santo Petrus Claver: Pemimpin yang Merangkul

Sikap inklusif yang ditunjukkan oleh Ibu Liasta br Sembiring mewujud dalam bentuk-bentuk perhatian yang sederhana namun berdampak mendalam. Umat yang jarang hadir tidak pernah dicoret dari daftar keluarga, melainkan tetap disapa dan diajak terlibat dalam kegiatan lingkungan. Beliau secara konsisten mengunjungi rumah mereka, membuka ruang komunikasi, dan merangkul mereka kembali ke dalam komunitas. Tidak ada sikap menghakimi, sinisme, ataupun pemberian cap (stigma) negatif kepada mereka yang kebetulan sedang berjarak dengan kehidupan Gereja.

Pengalaman empiris di lapangan ini mengingatkan saya pada spiritualitas Santo Petrus Claver. Santo yang dikenal sebagai “rasul para budak” ini mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang paling diabaikan, ditindas, dan dipandang rendah oleh masyarakat zamannya. Ia tidak memilih-milih pelayanan yang mudah dijangkau atau yang mendatangkan keuntungan reputasi bagi dirinya. Sebaliknya, ia justru hadir dan menceburkan diri bagi mereka yang paling membutuhkan perhatian, penghiburan, serta pendampingan.

Apa yang dihidupi oleh Santo Petrus Claver menunjukkan dengan tegas bahwa inti dari kepemimpinan Kristiani bukanlah otoritas atau kekuasaan, melainkan radikalitas pelayanan. Seorang pemimpin dipanggil untuk hadir secara nyata bagi sesama, terutama bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan, keterasingan, atau merasa terbuang dari perhatian komunitas.

Menghadirkan Wajah Gereja yang Ramah

Semangat yang sama inilah yang tampak jelas dalam pelayanan Ibu Liasta br Sembiring di Lingkungan Santo Bonaventura. Kepemimpinan yang dijalankannya berakar kuat pada teologi salib yang berpusat pada Kristus. Pelayanan tidak lagi dipahami sebagai sarana untuk mengejar penghargaan, popularitas, atau kedudukan struktural, melainkan murni sebagai ungkapan syukur yang meluap kepada Tuhan atas segala berkat kehidupan yang telah diterima.

Bagi saya, tindakan memberkati dan “meliturgikan” umat yang tidak aktif ini adalah wajah Gereja yang sesungguhnya. Gereja bukanlah klub eksklusif yang hanya berisi kumpulan orang-orang suci yang selalu hadir dalam setiap acara. Gereja adalah rumah bapa—sebuah persekutuan umat Allah yang dinamis, tempat di mana sesama anggota tubuh Kristus bisa saling memperhatikan, saling menguatkan, dan setia mendampingi dalam peziarahan iman yang pasang-surut.

Melalui mata kuliah Kepemimpinan Kristiani yang saya tekuni di STP Santo Bonaventura KAM, saya semakin diyakinkan bahwa seorang pemimpin Kristiani tidak sekadar bertugas sebagai manajer yang mengatur jalannya organisasi atau memastikan program kerja terlaksana secara administratif. Lebih dari itu, seorang pemimpin adalah sakramen hidup—tanda kehadiran Kristus yang merengkuh bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Terkadang, satu kunjungan pastoral yang tulus ke rumah umat memiliki makna teologis yang jauh lebih besar daripada sebuah program megah yang menghabiskan anggaran. Sebuah sapaan hangat di teras rumah dapat menyambung kembali tali relasi yang mulai renggang. Sebuah perhatian kecil yang konsisten mampu meyakinkan seseorang bahwa dirinya tetap berharga, diterima, dan dicintai oleh komunitasnya.

Refleksi Akhir: Menjadi Pemimpin Berhati Gembala

Dalam lanskap dunia modern yang semakin individualistis dan transaksional, Gereja hari ini sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki hati seorang gembala:

  • Bukan pemimpin yang gemar menghakimi, melainkan yang mau menyediakan telinga untuk mendengarkan.
  • Bukan pemimpin yang menciptakan barikade jarak, melainkan yang berani melangkah mendekat.
  • Bukan pemimpin yang hanya tersenyum ketika umatnya aktif, melainkan yang tetap setia mendampingi ketika umat mulai berjalan menjauh.

Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan Kristiani tidak akan pernah diukur dari seberapa banyak program kerja yang berhasil dieksekusi atau seberapa populer nama sang pemimpin di mata publik. Kepemimpinan Kristiani diukur dari tingkat kesediaan kita untuk mencintai dan melayani sesama secara total, sebagaimana Kristus sendiri telah mengosongkan diri-Nya demi mencintai dan melayani umat-Nya.

Refleksi dari teladan Santo Petrus Claver dan potret pelayanan nyata di Lingkungan Santo Bonaventura ini mengajarkan satu kebenaran yang sederhana namun radikal kepada kita: kadang-kadang, cara terbaik dan paling elegan untuk membawa seseorang kembali kepada Tuhan bukanlah dengan menceramahinya, melainkan dengan tetap berada di sampingnya dan mendampinginya.

Penulis : Okta Pakpahan, Mahasiswa STP Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan

You Might Also Like

Para Kardinal Minta Umat Berdoa Agar Peserta Konklaf Dapat Memilih Paus yang Baru dengan Hati Murni

Selamat Datang ke Indonesia, Bapa Suci Fransiskus

Dari Istana ke Jalanan: Kepemimpinan Paus Fransiskus yang Mengakar di Hati Kaum Kecil

Menelisik Ikon Bunda Maria Salus Populi Romani

Pemimpin yang Melayani dengan Sukacita: Teladan Santo Filipus Neri bagi Orang Muda Katolik Masa Kini

TAGGED:bonaventuraGereja inklusifiman Katolikkepemimpinan kristianiketua lingkungankeuskupan agung medanomkpastoral katolikpelayanan lingkunganpendampingan umatsanto petrus claverstpstp bonaventuraSTP Santo Bonaventura
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
Previous Article Kepemimpinan Santo Tarsisius dalam Pelayanan OMK Masa Kini
Next Article Sang Lelaki yang Terbang
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • WUJA XI Unveils the Yogyakarta Manifesto, Calling Jesuit Alumni Worldwide to Be United in Spirit and Lead with Purpose
  • Justice Is Not a Luxury: Guatemalan Ambassador Calls Jesuit Alumni to Confront Corruption with Moral Courage
  • In an Age of AI, the Greatest Challenge Is No Longer Technology—but Human Discernment
  • John Tan: Jesuit Education Must Help Young People Find Hope Amid AI Disruption
  • Beyond Graduation: Jesuit Universities Call for Lifelong Formation and Mission Through Global Alumni Networks

Recent Comments

  1. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  2. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  3. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  4. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  5. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?