Wajah Kepemimpinan Kristiani di Lingkungan Santo Bonaventura
“Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10)
Salah satu tantangan yang sering dijumpai dalam kehidupan menggereja adalah kehadiran umat yang semakin beragam dalam tingkat keterlibatan mereka. Di satu sisi, ada umat yang selalu setia dan aktif mengikuti doa lingkungan, perayaan liturgi, serta berbagai kegiatan paroki. Namun di sisi lain, ada pula umat yang perlahan mulai menjauh, jarang hadir, atau bahkan tidak lagi terlibat sama sekali dalam kehidupan komunitas.
Dalam situasi dilematis seperti ini, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang penting untuk kita renungkan bersama: bagaimana seharusnya seorang pemimpin Kristiani menyikapi umat yang kurang aktif? Apakah mereka harus dipersalahkan dan dihakimi karena ketidakhadirannya, atau justru dirangkul, didekati, dan didampingi dengan kasih?
Realitas di Balik Ketidakhadiran Umat
Sebagai bagian dari Lingkungan Santo Bonaventura, saya melihat bahwa realitas umat yang pasif bukanlah sesuatu yang asing. Kehidupan nyata umat tidak selalu berjalan mulus. Kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, persoalan pelik di dalam keluarga, kondisi kesehatan yang menurun, hingga berbagai pergumulan pribadi yang berat sering kali memengaruhi porsi keterlibatan seseorang dalam kehidupan menggereja.
Kita perlu menyadari bahwa di balik ketidakhadiran seorang umat di lingkaran doa, sering kali terdapat cerita perjuangan dan air mata yang tidak diketahui oleh orang lain.
Di tengah realitas sosial tersebut, saya menemukan sebuah pelajaran berharga tentang esensi kepemimpinan Kristiani melalui keteladanan pelayanan Ketua Lingkungan Santo Bonaventura, Liasta br Sembiring. Dalam menjalankan tugas penggembalaannya, beliau memilih untuk tidak memandang umat berdasarkan tingkat keaktifan mereka. Bagi beliau, baik umat yang aktif maupun yang jarang hadir tetaplah bagian utuh dari keluarga besar lingkungan yang berhak mendapatkan perhatian, kasih, dan pelayanan yang sama.
Meneladani Santo Petrus Claver: Pemimpin yang Merangkul
Sikap inklusif yang ditunjukkan oleh Ibu Liasta br Sembiring mewujud dalam bentuk-bentuk perhatian yang sederhana namun berdampak mendalam. Umat yang jarang hadir tidak pernah dicoret dari daftar keluarga, melainkan tetap disapa dan diajak terlibat dalam kegiatan lingkungan. Beliau secara konsisten mengunjungi rumah mereka, membuka ruang komunikasi, dan merangkul mereka kembali ke dalam komunitas. Tidak ada sikap menghakimi, sinisme, ataupun pemberian cap (stigma) negatif kepada mereka yang kebetulan sedang berjarak dengan kehidupan Gereja.
Pengalaman empiris di lapangan ini mengingatkan saya pada spiritualitas Santo Petrus Claver. Santo yang dikenal sebagai “rasul para budak” ini mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang paling diabaikan, ditindas, dan dipandang rendah oleh masyarakat zamannya. Ia tidak memilih-milih pelayanan yang mudah dijangkau atau yang mendatangkan keuntungan reputasi bagi dirinya. Sebaliknya, ia justru hadir dan menceburkan diri bagi mereka yang paling membutuhkan perhatian, penghiburan, serta pendampingan.
Apa yang dihidupi oleh Santo Petrus Claver menunjukkan dengan tegas bahwa inti dari kepemimpinan Kristiani bukanlah otoritas atau kekuasaan, melainkan radikalitas pelayanan. Seorang pemimpin dipanggil untuk hadir secara nyata bagi sesama, terutama bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan, keterasingan, atau merasa terbuang dari perhatian komunitas.
Menghadirkan Wajah Gereja yang Ramah
Semangat yang sama inilah yang tampak jelas dalam pelayanan Ibu Liasta br Sembiring di Lingkungan Santo Bonaventura. Kepemimpinan yang dijalankannya berakar kuat pada teologi salib yang berpusat pada Kristus. Pelayanan tidak lagi dipahami sebagai sarana untuk mengejar penghargaan, popularitas, atau kedudukan struktural, melainkan murni sebagai ungkapan syukur yang meluap kepada Tuhan atas segala berkat kehidupan yang telah diterima.
Bagi saya, tindakan memberkati dan “meliturgikan” umat yang tidak aktif ini adalah wajah Gereja yang sesungguhnya. Gereja bukanlah klub eksklusif yang hanya berisi kumpulan orang-orang suci yang selalu hadir dalam setiap acara. Gereja adalah rumah bapa—sebuah persekutuan umat Allah yang dinamis, tempat di mana sesama anggota tubuh Kristus bisa saling memperhatikan, saling menguatkan, dan setia mendampingi dalam peziarahan iman yang pasang-surut.
Melalui mata kuliah Kepemimpinan Kristiani yang saya tekuni di STP Santo Bonaventura KAM, saya semakin diyakinkan bahwa seorang pemimpin Kristiani tidak sekadar bertugas sebagai manajer yang mengatur jalannya organisasi atau memastikan program kerja terlaksana secara administratif. Lebih dari itu, seorang pemimpin adalah sakramen hidup—tanda kehadiran Kristus yang merengkuh bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Terkadang, satu kunjungan pastoral yang tulus ke rumah umat memiliki makna teologis yang jauh lebih besar daripada sebuah program megah yang menghabiskan anggaran. Sebuah sapaan hangat di teras rumah dapat menyambung kembali tali relasi yang mulai renggang. Sebuah perhatian kecil yang konsisten mampu meyakinkan seseorang bahwa dirinya tetap berharga, diterima, dan dicintai oleh komunitasnya.
Refleksi Akhir: Menjadi Pemimpin Berhati Gembala
Dalam lanskap dunia modern yang semakin individualistis dan transaksional, Gereja hari ini sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki hati seorang gembala:
- Bukan pemimpin yang gemar menghakimi, melainkan yang mau menyediakan telinga untuk mendengarkan.
- Bukan pemimpin yang menciptakan barikade jarak, melainkan yang berani melangkah mendekat.
- Bukan pemimpin yang hanya tersenyum ketika umatnya aktif, melainkan yang tetap setia mendampingi ketika umat mulai berjalan menjauh.
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan Kristiani tidak akan pernah diukur dari seberapa banyak program kerja yang berhasil dieksekusi atau seberapa populer nama sang pemimpin di mata publik. Kepemimpinan Kristiani diukur dari tingkat kesediaan kita untuk mencintai dan melayani sesama secara total, sebagaimana Kristus sendiri telah mengosongkan diri-Nya demi mencintai dan melayani umat-Nya.
Refleksi dari teladan Santo Petrus Claver dan potret pelayanan nyata di Lingkungan Santo Bonaventura ini mengajarkan satu kebenaran yang sederhana namun radikal kepada kita: kadang-kadang, cara terbaik dan paling elegan untuk membawa seseorang kembali kepada Tuhan bukanlah dengan menceramahinya, melainkan dengan tetap berada di sampingnya dan mendampinginya.
Penulis : Okta Pakpahan, Mahasiswa STP Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan
