SELASA 4 MARET 2025
Dalam kehidupan yang penuh dengan dinamika, manusia sering kali mencari makna dari setiap pengorbanan yang dilakukan. Kitab Sirakh 35:1-12 mengajarkan bahwa memberi kepada Tuhan bukan sekadar soal jumlah atau bentuknya, tetapi tentang ketulusan hati yang menyertainya. Persembahan yang berkenan di hadapan-Nya bukanlah sekadar formalitas, melainkan lahir dari hati yang mengasihi dan penuh syukur. “Barang siapa memenuhi hukum, ia mempersembahkan korban perdamaian.” Di balik ayat ini tersimpan pesan mendalam bahwa kepatuhan kepada Tuhan adalah bentuk ibadah yang paling sejati, lebih dari sekadar ritual atau materi yang dipersembahkan. Tuhan tidak melihat jumlahnya, tetapi melihat hati yang memberi.
Dalam Injil Markus 10:28-31, kita melihat perbincangan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Petrus, dengan nada penuh keingintahuan sekaligus harapan, berkata, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau!” Ada nada tersirat yang ingin mencari kepastian: apakah pengorbanan mereka tidak akan sia-sia? Yesus, dengan kelembutan dan ketegasan-Nya, memberikan jawaban yang menggugah hati: “Setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya, ibunya, ayahnya, anak-anaknya, atau ladangnya akan menerima kembali seratus kali lipat.” Namun, Yesus juga menambahkan sesuatu yang sering kali luput dari perhatian: “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Ada misteri dalam cara kerja Kerajaan Allah yang sering kali bertentangan dengan logika manusia.
Jika kita melihat lebih dalam, kedua bacaan ini mengajarkan tentang esensi dari memberi dan menerima dalam terang iman. Sirakh menekankan bahwa pemberian yang sejati tidak bisa dilepaskan dari ketulusan hati, sementara Markus menunjukkan bahwa pengorbanan demi Tuhan tidak akan pernah berakhir dengan kehilangan, tetapi justru akan menghasilkan kelimpahan yang melampaui harapan manusia.
N.T. Wright dalam Surprised by Hope (2008) mengungkapkan bahwa pemahaman manusia tentang pahala dan balasan sering kali berorientasi pada dunia ini, tetapi Yesus mengajarkan tentang suatu dimensi baru: kebangkitan dan kehidupan dalam Kerajaan Allah. William Barclay dalam The Gospel of Mark (1975) menambahkan bahwa pengorbanan bagi Kristus bukanlah kehilangan, melainkan transformasi menuju hidup yang lebih bermakna. Sementara itu, C.H. Dodd dalam The Parables of the Kingdom (1935) menyoroti bahwa konsep “yang terakhir menjadi yang terdahulu” adalah pengingat bahwa Kerajaan Allah bekerja dengan cara yang tidak selalu dapat kita pahami secara rasional. Tuhan membalikkan ekspektasi manusia dan memberikan berkat dengan cara yang sering kali mengejutkan.
Merenungkan dua bacaan ini, kita diajak untuk melihat kembali makna dari setiap pemberian yang kita lakukan, baik kepada sesama maupun kepada Tuhan. Apakah kita memberi dengan hati yang tulus, ataukah dengan harapan akan menerima sesuatu yang lebih besar? Apakah kita berani menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, percaya bahwa pengorbanan kita tidak akan sia-sia? Yesus menjanjikan berkat bagi mereka yang meninggalkan segala sesuatu demi-Nya, tetapi lebih dari itu, Ia menjanjikan hidup yang penuh makna dalam kasih dan kebersamaan dengan-Nya. Maka, marilah kita belajar untuk memberi tanpa pamrih, melangkah dengan keyakinan, dan percaya bahwa dalam tangan Tuhan, segala sesuatu yang kita serahkan akan dikembalikan dalam bentuk yang jauh lebih indah daripada yang kita bayangkan.
Daftar Pustaka:
- Barclay, William. The Gospel of Mark. Philadelphia: Westminster Press, 1975.
- Dodd, C.H. The Parables of the Kingdom. New York: Scribner, 1935.
- Wright, N.T. Surprised by Hope. New York: HarperOne, 2008.
