Senin, 16 Maret 2026, Senin Pekan Prapaskah IV – Bacaan I: Yesaya 65:17–21 – Mazmur: Mazmur 30:2,4,5–6,11–12a,13b – Injil: Yohanes 4:43–54
Masa Prapaskah selalu mengandung dua dinamika rohani yang berjalan bersama: pertobatan dan harapan. Pertobatan mengajak manusia melihat keterbatasannya, sementara harapan membuka pandangan pada masa depan yang dijanjikan Tuhan. Bacaan-bacaan liturgi hari ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memanggil manusia untuk meninggalkan dosa, tetapi juga mengundang manusia masuk ke dalam kehidupan yang baru.
Dalam kitab Yesaya, Tuhan menyampaikan sebuah janji yang sangat kuat: “Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru.” Ini bukan sekadar gambaran kosmis tentang masa depan dunia. Nubuat ini berbicara tentang pembaruan kehidupan manusia secara menyeluruh. Allah ingin memulihkan ciptaan yang rusak oleh dosa, penderitaan, dan ketidakadilan. Dalam dunia yang penuh tangisan dan penderitaan, Tuhan menjanjikan suatu realitas baru: kehidupan yang dipenuhi sukacita, damai, dan keadilan.
Namun janji ini bukan hanya tentang masa depan yang jauh. Janji ini mulai terwujud ketika manusia membuka diri terhadap karya Allah dalam hidupnya. Pembaruan dunia dimulai dari pembaruan hati manusia.
Mazmur tanggapan hari ini mengekspresikan pengalaman itu dengan sangat indah: “Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.”
Mazmur ini menggambarkan dinamika kehidupan manusia: malam dan pagi, kesedihan dan sukacita, kejatuhan dan pemulihan. Kehidupan rohani tidak selalu berjalan dalam terang. Ada saat-saat ketika manusia mengalami kegelapan, kehilangan arah, bahkan keputusasaan. Tetapi iman mengajarkan bahwa malam tidak pernah menjadi kata terakhir. Tuhan selalu membuka kemungkinan bagi sebuah pagi yang baru.
Tema ini menemukan wujud konkret dalam Injil Yohanes tentang penyembuhan anak pegawai istana. Seorang ayah datang kepada Yesus dengan hati yang penuh kecemasan karena anaknya hampir mati. Ia memohon agar Yesus datang menyembuhkan anaknya.
Namun jawaban Yesus tampak mengejutkan:
“Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”
Yesus tidak langsung pergi menyembuhkan anak itu. Ia justru mengajak orang itu melangkah lebih jauh dalam iman. Pada akhirnya Yesus berkata: “Pergilah, anakmu hidup.”
Yang menarik adalah reaksi orang itu: ia percaya pada perkataan Yesus dan pergi. Ia belum melihat mukjizatnya. Ia belum mendapat bukti. Tetapi ia memilih untuk percaya.
Di sinilah inti Injil hari ini. Mukjizat sebenarnya sudah mulai terjadi ketika iman muncul sebelum bukti terlihat. Dan ketika orang itu pulang, ia mendapati bahwa anaknya sembuh tepat pada saat Yesus mengatakan kata-kata itu.
Injil Yohanes sering menunjukkan bahwa iman bukanlah hasil dari mukjizat. Justru sebaliknya: iman membuka mata manusia untuk melihat mukjizat yang sedang bekerja.
Dalam perspektif spiritualitas Ignasian, kisah ini berbicara tentang dinamika kepercayaan kepada Allah dalam situasi yang belum jelas. Santo Ignatius dari Loyola menekankan pentingnya sikap percaya dan menyerahkan diri pada penyelenggaraan Tuhan, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.
Sering kali manusia ingin melihat kepastian terlebih dahulu baru kemudian percaya. Namun iman bekerja dengan cara yang berbeda: manusia percaya terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya.
Kehidupan rohani sering berjalan seperti perjalanan pulang ayah dalam Injil hari ini. Ia berjalan dengan satu-satunya pegangan: sabda yang diucapkan Yesus.
Masa Prapaskah mengundang kita untuk bertanya dengan jujur: Apakah kita sungguh percaya pada sabda Tuhan, atau kita hanya percaya ketika semuanya berjalan sesuai harapan kita?
Karena iman sejati tidak selalu melihat hasil secara langsung. Iman sejati adalah keberanian untuk berjalan pulang dengan satu keyakinan sederhana:
Tuhan telah berbicara, dan sabda-Nya cukup untuk kita percaya.
Dan sering kali, justru di tengah perjalanan itulah kita akhirnya menyadari bahwa kehidupan kita telah disentuh oleh mukjizat yang tidak kita sadari sebelumnya.
