Paus Leo XIV menegaskan pentingnya budaya membaca di tengah derasnya arus digital saat menerima para anggota dan staf Vatican Publishing House atau Libreria Editrice Vaticana di Vatikan, Kamis (7/5/2026). Pertemuan itu berlangsung dalam rangka perayaan 100 tahun lembaga penerbit resmi Takhta Suci tersebut.
Dalam sambutannya, Paus menyebut momen seratus tahun Vatican Publishing House sebagai sebuah “perayaan keluarga” yang menandai perjalanan panjang lembaga itu dalam melayani Gereja Katolik dan para paus selama hampir satu abad. Menurutnya, penerbit Vatikan telah membantu menyebarluaskan ajaran Gereja dan pewartaan Injil ke berbagai belahan dunia.
Paus Leo XIV juga menyoroti nilai buku di era digital yang serba cepat. Ia mengatakan membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan cara untuk “memelihara pikiran” dan memperdalam refleksi manusia. Buku, kata dia, tetap memiliki daya untuk membangun keheningan, pemikiran mendalam, dan kebijaksanaan di tengah budaya komunikasi instan.
Dalam pertemuan itu, Paus menguraikan tiga nilai penting dari membaca. Pertama, membaca membantu manusia memperluas wawasan dan memperkaya kehidupan batin. Kedua, buku membuka ruang dialog dengan pengalaman, pemikiran, dan sejarah umat manusia. Ketiga, membaca dapat menjadi sarana evangelisasi karena melalui tulisan, pesan Injil dapat menjangkau lebih banyak orang.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para editor, penulis, penerjemah, dan pekerja di balik dunia penerbitan Vatikan yang selama ini menjaga kualitas publikasi Gereja. Menurut Paus, pekerjaan mereka bukan hanya tugas teknis, tetapi bagian dari pelayanan pastoral Gereja.
Vatican Publishing House didirikan pada 1926 dan selama satu abad telah menerbitkan dokumen resmi kepausan, tulisan teologis, serta berbagai karya rohani dan akademik Gereja Katolik. Dalam pidatonya, Paus Leo XIV berharap lembaga itu terus menjadi jembatan antara tradisi Gereja dan tantangan dunia modern.
