PENULIS : Romo Odemus Bei Witono SJ, Direktur Perkumpulan Strada
Bagi Ratna (bukan nama sebenarnya), kata “pengampunan” selama bertahun-tahun terasa seperti ilusi yang naif. Tumbuh di sebuah pemukiman padat yang kumuh, memori masa kecilnya didominasi oleh bayang-bayang kuasa gelap dan realitas yang brutal. Hampir setiap hari, di gang-gang sempit rumahnya, ia menyaksikan kekerasan—teriakan kemarahan, pertumpahan darah, dan intimidasi yang tajam.
Dunia di matanya dibentuk oleh hukum alam yang keras: barangsiapa yang lemah akan dihancurkan, dan luka yang ditorehkan tidak akan pernah bisa dihapus. Dalam atmosfer seperti itu, dosa bukan sekadar konsep teologis, melainkan ancaman nyata yang mencengkeram kehidupan sehari-hari. Bagaimanakah seseorang yang terbiasa melihat dunia penuh kejam dapat mengimani bahwa pengampunan itu sungguh ada?
Dialektika Keburukan dan Rahmat Eksistensial
Kesulitan Ratna untuk percaya pada pengampunan dapat dipahami secara psikologis dan eksistensial. Ketika kejahatan hadir begitu dominan, manusia cenderung mengalami trauma kognitif yang mengikis rasa percaya (basic trust). Namun, secara teologis, pengampunan dosa bukanlah pengabaian terhadap kejahatan atau sekadar pelupakan trauma.
Teolog Karl Rahner menggarisbawahi bahwa manusia adalah Hörer des Wortes (pendengar Firman) yang terus berada dalam keterbukaan terhadap Misteri Suci. Rahner menegaskan bahwa pengampunan dosa (Forgiveness of Sins) bukanlah sekadar transaksi yuridis di mana Allah menghapus catatan kesalahan. Pengampunan adalah pemberian diri Allah secara mandiri (Self-communication of God) kepada manusia yang rapuh. Dalam pandangan Rahner, dosa membuat manusia mengisolasi diri dalam kegelapan eksistensialnya. Namun, rahmat Allah (grace) senantiasa menerobos keterbatasan tersebut, merangkul manusia bahkan ketika manusia merasa tidak pantas diampuni.
Pandangan ini diperkaya oleh eksistensialisme Kristiani Ladislaus Boros (Ladislav Boros). Dalam pemikirannya mengenai dinamika batin manusia dan momen keputusan eksistensial, Boros menekankan bahwa ketakutan terbesar manusia adalah keterasingan dan ketidakmampuan untuk lepas dari belenggu masa lalu. Boros menyoroti bahwa pengampunan adalah momen penyembuhan radikal di mana Allah menyentuh titik terdalam eksistensi manusia yang hancur. Pengampunan memungkinkan seseorang untuk tidak mendefinisikan dirinya berdasarkan kejahatan yang dialaminya atau dosa yang dilakukannya, melainkan berdasarkan kasih Allah yang memperbarui.
Dasar Kitab Suci: Penerobosan Kasih Allah
Pengalaman keberadaaan kuasa gelap dan kekerasan yang dialami Ratna menemukan jawaban pembebasannya di dalam Kitab Suci. Pengampunan dipresentasikan sebagai tindakan Allah yang memulihkan dan merobohkan tembok kegelapan:
Yesaya 1:18 — “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Ayat ini menegaskan radikalitas pemulihan Allah. Warna kirmizi—simbol luka, noda darah, dan kekerasan yang dialami Ratna—diubah menjadi putih salju oleh daya pengampunan Allah.
Efesus 1:7 — “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.” Penebusan melalui Kristus membongkar kuasa-kuasa gelap yang membelenggu manusia, membawa pembebasan sejati dari rasa takut akan kejahatan.
1 Yohanes 1:9 — “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Kesetiaan Allah melampaui segala bentuk ketidakadilan duniawi yang pernah disaksikan manusia.
Mengimani Pengampunan di Tengah Dunia yang Keras
Bagi Ratna, perjumpaan dengan iman Kristiani tidak serta-merta menghapus trauma masa kecilnya, namun mengubah horizon pandangnya. Mengaku “Aku Percaya Pengampunan Dosa” bukanlah bentuk penyangkalan atas kerasnya dunia, melainkan sebuah tindakan keberanian iman.
Pengalaman trauma mengajarkan bahwa dosa dan kejahatan adalah belenggu permanen yang mendefinisikan identitas seseorang sebagai korban dan menjebaknya dalam lingkaran dendam. Sebaliknya, perspektif ilahi yang diuraikan oleh Rahner dan Boros memperlihatkan bahwa pengampunan adalah terobosan rahmat Allah yang memulihkan identitas manusia dan memberikan kemerdekaan baru.
Pengampunan dosa adalah bukti bahwa kuasa gelap dan kekerasan gang-gang masa lalu tidak memiliki kata terakhir atas hidup manusia. Ketika manusia seperti Ratna berserah dan membuka diri, rahmat Allah bekerja memulihkan luka terdalam, mengenyahkan kegelapan, dan memberikan kepastian bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari kejahatan mana pun di dunia.
