Hari Raya Kenaikan Tuhan sering kali dipahami secara sederhana sebagai “Yesus naik ke surga.” Gambaran itu memang benar, tetapi kalau kita berhenti hanya pada gambaran fisik itu, kita bisa kehilangan makna terdalam dari peristiwa ini. Kenaikan Tuhan bukan terutama kisah tentang Yesus meninggalkan bumi dan pergi ke suatu tempat yang jauh di atas langit. Kenaikan adalah peristiwa iman yang menyingkapkan siapa Yesus sebenarnya, sekaligus menunjukkan arah dan tujuan hidup manusia.
Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, para murid berdiri menatap ke langit ketika Yesus terangkat. Ada suasana haru, bingung, kehilangan, bahkan mungkin ketakutan. Selama ini mereka hidup bersama Yesus. Mereka mendengar suara-Nya, berjalan bersama-Nya, makan bersama-Nya, menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya. Kini Yesus tidak lagi hadir dalam cara yang sama.
Tetapi justru di situlah iman dimulai.
Selama ini para murid mengenal Yesus secara lahiriah. Kini mereka dipanggil untuk mengenal-Nya secara batiniah. Selama ini mereka menggantungkan diri pada kehadiran fisik Yesus. Kini mereka harus belajar menemukan-Nya dalam Roh, dalam iman, dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu para malaikat berkata: “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” Kalimat ini sesungguhnya adalah teguran yang lembut. Jangan hanya terpaku pada langit. Jangan hanya sibuk merindukan masa lalu. Jangan hanya terpesona oleh pengalaman rohani yang indah. Iman bukan pelarian dari dunia. Iman justru mengutus manusia kembali ke dunia untuk menghadirkan kasih Tuhan.
Sering kali kita juga seperti para murid itu. Kita menatap langit terlalu lama. Kita menunggu Tuhan bekerja dengan cara-cara spektakuler, sementara Tuhan sebenarnya hadir di dalam keseharian yang sederhana. Kita mencari Tuhan dalam hal-hal luar biasa, padahal Ia hadir dalam percakapan kecil, dalam pengampunan, dalam kesabaran, dalam kerja keras, dalam air mata seorang ibu, dalam kejujuran seorang pekerja, dalam kesetiaan orang yang tetap mencintai meski terluka.
Kenaikan Tuhan mengajarkan bahwa Yesus tidak hilang. Ia hadir dengan cara yang lebih dalam.
Itulah sebabnya Injil Matius ditutup dengan kalimat yang sangat menghibur: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Kalimat ini luar biasa. Sebab Yesus mengatakannya justru ketika Ia akan “pergi.” Artinya, kepergian Yesus bukanlah absensi, melainkan perubahan cara kehadiran. Sebelum kenaikan, Yesus hadir terbatas oleh ruang dan waktu. Setelah kenaikan, Ia hadir di mana-mana: dalam hati manusia, dalam Gereja, dalam Sabda, dalam Ekaristi, dalam mereka yang miskin dan menderita, bahkan dalam pergulatan hidup kita sendiri.
Kadang manusia merasa Tuhan jauh karena hidup tidak berjalan sesuai harapan. Ketika doa tidak segera dijawab, ketika sakit datang, ketika relasi hancur, ketika usaha gagal, ketika hidup terasa berat, kita bertanya: “Di mana Tuhan?”
Hari Raya Kenaikan menjawab: Tuhan tidak pernah jauh. Yang sering jauh adalah kesadaran kita akan kehadiran-Nya.
Tuhan hadir, tetapi manusia sering terlalu bising untuk mendengar-Nya. Dunia hari ini dipenuhi kebisingan: ambisi, kompetisi, kemarahan, media sosial, pencitraan, ketakutan kehilangan, kecemasan akan masa depan. Banyak orang hidup cepat tetapi kosong. Banyak orang terlihat bahagia tetapi batinnya lelah. Banyak orang memiliki koneksi digital, tetapi kehilangan kedalaman relasi.
Di tengah dunia seperti itu, Kenaikan Tuhan mengingatkan manusia untuk mengangkat hati, bukan sekadar mengangkat mata. Sebab yang menentukan arah hidup bukan seberapa tinggi posisi kita di dunia, tetapi ke mana hati kita tertuju.
Yesus naik ke surga bukan untuk menjauh dari manusia, melainkan untuk menarik manusia menuju hidup yang lebih luhur. Ia menunjukkan bahwa hidup manusia tidak berhenti pada materi, jabatan, popularitas, atau keberhasilan duniawi. Semua itu sementara. Semua itu bisa hilang. Yang kekal adalah kasih.
Surat Paulus kepada jemaat di Efesus mengatakan bahwa Kristus ditinggikan di atas segala kuasa dan pemerintahan. Tetapi menariknya, kuasa Kristus bukan kuasa yang menindas. Ia tidak naik ke surga untuk menjadi penguasa yang jauh dan menakutkan. Ia tetap Kristus yang terluka, yang mengasihi, yang mengorbankan diri. Inilah paradoks iman Kristen: kemuliaan sejati lahir dari kasih yang rela memberi diri.
Dunia sering mengajarkan bahwa orang besar adalah orang yang menguasai. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kebesaran sejati adalah melayani. Dunia mengejar kemenangan dengan menyingkirkan orang lain. Yesus mencapai kemuliaan justru dengan mengasihi sampai tuntas.
Karena itu, Hari Raya Kenaikan juga menjadi cermin bagi hidup kita. Apa sebenarnya yang sedang kita kejar? Untuk apa kita hidup? Apa yang memenuhi hati dan pikiran kita setiap hari?
Kadang manusia bekerja tanpa henti, tetapi lupa menikmati hidup. Kadang manusia mengejar pengakuan, tetapi kehilangan dirinya sendiri. Kadang manusia begitu sibuk membangun citra di luar, tetapi batinnya kosong dan rapuh.
Kenaikan Tuhan mengingatkan bahwa manusia diciptakan bukan hanya untuk bertahan hidup, melainkan untuk bertumbuh menuju Allah. Ada kerinduan terdalam dalam hati manusia yang tidak pernah bisa dipuaskan oleh dunia. Santo Agustinus pernah berkata: “Hati kami gelisah sebelum beristirahat dalam Engkau.”
Kegelisahan manusia modern sebenarnya bukan hanya soal ekonomi atau teknologi. Banyak orang kehilangan arah batin. Mereka tahu cara mencari uang, tetapi tidak tahu cara menemukan makna. Mereka tahu cara tampil, tetapi lupa cara hadir secara tulus. Mereka tahu cara berbicara, tetapi kehilangan kemampuan mendengarkan.
Maka Hari Raya Kenaikan mengajak kita kembali menyadari tujuan hidup: bahwa manusia dipanggil untuk hidup dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.
Tetapi iman tidak berarti melarikan diri dari kenyataan hidup. Justru setelah Yesus naik ke surga, para murid diutus ke dunia. Mereka harus menghadapi tantangan, penolakan, penderitaan, bahkan penganiayaan. Namun mereka tidak lagi hidup dengan ketakutan yang sama, karena mereka percaya bahwa Kristus menyertai mereka.
Ini juga berlaku bagi kita. Hidup tidak akan selalu mudah. Akan ada kehilangan, kegagalan, luka, pengkhianatan, dan ketidakpastian. Tetapi iman memberi manusia kekuatan untuk tetap berjalan. Bukan karena semua persoalan hilang, melainkan karena kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Kadang Tuhan tidak langsung mengubah situasi kita, tetapi Ia mengubah hati kita agar mampu melewati situasi itu.
Dan mungkin itulah salah satu makna terdalam Kenaikan Tuhan: Kristus mengangkat kemanusiaan kita kepada Allah. Dalam diri Yesus, kehidupan manusia—dengan segala luka, air mata, dan perjuangannya—dibawa masuk ke dalam kemuliaan Allah. Artinya, tidak ada pengalaman manusia yang sia-sia bila dipersatukan dengan kasih Tuhan.
Air mata bisa menjadi doa. Luka bisa menjadi sumber belas kasih. Kegagalan bisa menjadi jalan pertumbuhan. Kesunyian bisa menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan.
Pada akhirnya, Kenaikan Tuhan adalah undangan untuk hidup dengan harapan. Dunia sering membuat manusia mudah putus asa. Tetapi iman Kristen selalu berbicara tentang harapan. Bukan harapan kosong, melainkan harapan yang berakar pada Kristus yang hidup.
Karena Kristus telah bangkit dan naik ke surga, maka hidup manusia tidak berakhir dalam kegelapan. Kasih lebih kuat daripada kematian. Harapan lebih kuat daripada keputusasaan. Dan Tuhan selalu lebih besar daripada segala ketakutan manusia.
Maka marilah kita menjalani hidup ini dengan hati yang terarah kepada Tuhan, tetapi kaki yang tetap berpijak di bumi. Mengasihi lebih sungguh. Mengampuni lebih tulus. Hidup lebih jujur. Bekerja lebih bermakna. Dan berjalan setiap hari dengan keyakinan bahwa Kristus yang naik ke surga tetap berjalan bersama kita.
