Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap menyampaikan seruan yang menggugah agar manusia jangan kehilangan wajah dan suara kemanusiaannya.
Pesan itu disampaikan dalam homili Misa Hari Minggu Paskah Ketujuh sekaligus perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 di Paroki Padang Bulan, Medan, Minggu (17/5/2026). Seperti pesan Paus Leo XIV di Hari Komsos Sedunia ke-60, Uskup Kornel menyampaikan homili dengan tema “Menjaga Wajah dan Suara”.
Uskup Kornelius mengajak umat merenungkan kembali makna komunikasi sejati di tengah zaman yang semakin artifisial. “Kita semua mempunyai wajah. Kita semua mempunyai suara,” katanya membuka homili yang disampaikan dengan gaya hangat, reflektif, namun penuh kritik sosial.
Ia mengatakan bahwa Gereja menempatkan Hari Komunikasi Sosial Sedunia pada Minggu Ketujuh Paskah — sesudah Kenaikan Tuhan dan menjelang Pentakosta — bukan tanpa alasan. Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, para murid setelah Yesus naik ke surga kembali ke Yerusalem dan “bertekun dengan sehati dalam doa.”
Menurutnya, itulah gambaran pertama Gereja: komunitas yang membangun komunikasi dan persekutuan dengan Tuhan.
“Komunikasi sejati pertama-tama bukan soal teknologi, tetapi soal relasi dan komunio,” ujarnya.
Doa, lanjutnya, adalah komunikasi terdalam manusia dengan Allah. Dalam doa, manusia tinggal bersama Tuhan, mendengarkan suara-Nya, membiarkan hati dipersatukan dengan hati Allah, dan membiarkan dirinya diarahkan oleh kasih dan belas kasih Allah.
“Hari ini kita diingatkan bahwa komunikasi paling intim antara manusia dan Allah adalah doa,” katanya.
Ia kemudian mengutip Mazmur hari itu yang mengungkap kerinduan terdalam manusia untuk tinggal dalam Tuhan: “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan: diam di rumah Tuhan seumur hidupku dan menyaksikan kemurahan Tuhan.”
Bagi Uskup Kornelius, orang yang sungguh tinggal dalam Tuhan akan memandang dunia dengan hati yang berbeda: lebih lembut, penuh belas kasih, dan mampu melihat sesama bukan sebagai ancaman, melainkan saudara.
“Hati yang dipenuhi kasih Allah itu diekspresikan melalui wajah dan suara,” katanya. “Tubuh kita, wajah kita, suara kita adalah ekspresi dari hati yang dikuasai oleh kasih Allah.”
Namun menjaga wajah dan suara manusiawi, katanya, bukan perkara mudah. Bacaan kedua dari Surat Petrus mengingatkan bahwa pengikut Kristus akan mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Menjadi pribadi yang menampilkan wajah dan suara Allah berarti berjalan di jalan kasih, memperjuangkan kebenaran, dan tetap setia meski menghadapi penolakan.
“Maka komunikasi Kristen bukan komunikasi mencari popularitas. Bukan komunikasi yang ingin menang, tetapi komunikasi yang membawa damai,” tegasnya.
Dalam Injil Yohanes yang dibacakan hari itu, Uskup Kornelius melihat bagaimana Yesus menampilkan wajah dan suara Allah yang asli: wajah yang penuh kasih, mengampuni, peduli, memberi makan, dan menyembuhkan.
“Melalui Yesus manusia melihat wajah Allah,” katanya. “Dan melalui Yesus kita mendengar suara Allah. Suara asli yang tidak direkayasa. Suara yang tidak artifisial.”
Di bagian inilah homili berkembang menjadi kritik tajam terhadap budaya digital modern. Mengutip pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini, ia mengajak umat menjaga agar wajah dan suara tetap manusiawi.
“Di tengah dunia digital dan kecerdasan buatan, manusia jangan kehilangan wajah,” katanya. “Jangan kehilangan wajah kasih, wajah empati, wajah kelembutan, wajah ketulusan.”
Dengan nada jenaka namun satir, ia menyinggung fenomena media sosial yang membuat orang memakai “topeng digital.”
“Kalau make-up sedikit boleh,” katanya disambut tawa umat. “Tapi jangan hilang wajah.”
Ia menyoroti bagaimana banyak orang di media sosial mengganti wajahnya demi pencitraan, pengaruh, dan kekuasaan. Ada wajah manipulatif, wajah kemarahan, wajah yang ingin menjatuhkan orang lain.
“Wajah orang Kristen seharusnya memantulkan wajah Kristus sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, wajah Kristus adalah wajah yang berbelas kasih kepada yang terluka, lembut kepada yang lemah, tulus kepada yang sederhana, dan mengampuni orang berdosa.
“Melalui wajah kita, orang lain seharusnya dapat melihat wajah Allah,” katanya.
Tidak hanya wajah, Uskup Kornelius juga menekankan pentingnya menjaga suara. Ia mengingatkan bahwa suara seorang murid Kristus harus menjadi suara yang meneguhkan, menghibur, dan memberdayakan, bukan suara yang mengutuk, melukai, atau memprovokasi.
“Betapa mudah hari ini orang menghina lewat komentar dan menyebarkan kebencian,” ujarnya.
Menurutnya, kata-kata sejati lahir dari hati yang tinggal dalam kasih Allah. Karena itu suara manusia seharusnya menjadi suara yang menyampaikan syukur kepada Allah dan memberkati sesama.
Dalam bagian yang mengundang senyum umat, ia bahkan mengkritik praktik liturgi yang menurutnya kadang terlalu dipenuhi suara lain hingga menenggelamkan suara manusia.
“Bukan lonceng yang memuji Allah. Suara manusia yang memuji Allah,” katanya sambil menyinggung suara lonceng dan musik yang terlalu keras.
Namun di balik humor itu tersimpan pesan mendalam: jangan sampai teknologi, kebisingan, atau sistem justru menyingkirkan manusia dari pusat komunikasi.
Ia menyebut tantangan terbesar komunikasi zaman ini adalah hilangnya hati yang dipenuhi kasih sebagai jantung persekutuan. Akibatnya, orang lebih sibuk membangun citra daripada relasi, lebih mudah menyerang daripada memahami, dan lebih suka memandang layar daripada memandang wajah sesama.
“Jarang kita melihat wajah teman. Lebih suka melihat wajah layar,” katanya.
Karena itu ia mengajak umat belajar dari para murid setelah kenaikan Tuhan: tinggal dalam Tuhan, mengalami kasih-Nya, membiarkan hati diubah sebelum diutus mewartakan kabar baik.
“Komunikasi yang benar lahir dari hati yang berdoa, hati yang mendengarkan Tuhan, hati yang mengalami kasih Tuhan,” ujarnya.
Di akhir homili, Uskup Kornelius menyampaikan doa dan harapan agar manusia modern tetap memiliki hati di tengah dunia yang penuh kebisingan, pencitraan, dan suara artifisial.
“Semoga wajah kita tetap manusiawi. Jangan menjadi wajah robot,” katanya. “Dan semoga suara kita menjadi suara yang membawa damai, harapan, penghiburan, dan berkat.”
Sebab, menurutnya, komunikasi Kristen pada akhirnya bukan terutama soal kemampuan berbicara, melainkan kemampuan tinggal dalam kasih Allah dan menghadirkan kasih itu melalui wajah dan suara manusia.
