Kisah Santo Yosef dari Cupertino, Si Bodoh yang Mulia di Hadapan Tuhan
Bagi dunia abad ke-17, Yosef adalah sebuah kegagalan berjalan. Lahir pada tahun 1603 di Cupertino, sebuah kota kecil di Italia Selatan, masa kecilnya jauh dari kata indah. Tubuhnya ringkih, ia sering sakit-sakitan, dan yang paling menyiksa: ia lambat dalam berpikir maupun berbicara. Di sekolah dan lingkungan sosialnya, Yosef adalah sasaran empuk cemoohan. Ia dicap bodoh, ceroboh, dan tidak punya masa depan.
Beban hidupnya kian menghimpit ketika sang ayah wafat dan meninggalkan gunungan utang. Ibunya, yang harus memeras keringat demi menyambung hidup keluarga, kerap kali bersikap keras kepada Yosef karena menganggapnya sebagai anak yang menyusahkan. Diusir dari berbagai pekerjaan kasar karena kecerobohannya, Yosef sempat luntung-lantung. Dunia menutup pintu rapat-rapat baginya.
Namun, di tengah penolakan yang bising itu, Yosef menemukan sebuah ruang sunyi yang hangat: altar doa. Sadar tidak pandai merangkai kata di hadapan manusia, ia menumpahkan seluruh isi hatinya kepada Allah dan Bunda Maria melalui keheningan.
Perjalanan religiusnya pun tidak mulus. Keinginan kuatnya untuk memeluk kehidupan biara sempat terbentur penolakan berkali-kali dari ordo-ordo religius yang menganggapnya tidak memenuhi standar kecerdasan. Sampai akhirnya, pada usia 22 tahun, ketekunannya yang keras kepala membuahkan hasil. Ia diterima oleh Ordo Saudara Dina Conventual, meski awalnya hanya ditempatkan sebagai saudara awam yang mengurusi pekerjaan domestik.
Pembalik Keadaan di Kamar Ujian
Tuhan rupanya punya selera humor yang indah dalam menulis garis hidup Yosef. Ketika tiba saatnya ujian akademis untuk tahbisan imam—sebuah fase yang membuat seluruh isi biara yakin Yosef akan gagal total—sebuah peristiwa tak terduga terjadi.
Penguji melontarkan pertanyaan yang, secara ajaib, merupakan satu-satunya materi yang benar-benar dikuasai dan dipelajari oleh Yosef. Atas rahmat yang tak biasa itu, ia berhasil lulus dan ditahbiskan menjadi seorang imam pada tahun 1628.
Setelah memakai jubah imamat, fenomena supranatural yang kemudian melegenda dalam sejarah Gereja mulai terjadi: levitasi.
Saat tenggelam dalam ekstase doa, merayakan Misa Kudus, atau sekadar menatap lukisan Bunda Maria, tubuh Yosef kerap kali terangkat dan terbang di udara.
Peristiwa “terbang” ini bukan terjadi sekali dua kali, melainkan ribuan kali. Saksinya pun bukan orang sembarangan—mulai dari umat biasa, para teolog, uskup, kardinal, hingga pejabat tinggi kepausan menyaksikan langsung bagaimana tubuh sang romo melayang menembus gravitasi bumi. Catatan fenomena ini bahkan masuk secara resmi dalam dokumen pengadilan Gereja.
Menariknya, karunia fenomenal ini justru menjadi beban mental bagi Yosef. Alih-alih tinggi hati, ia justru merasa sangat malu. Ia sering menangis dan memohon kepada Tuhan agar mukjizat tersebut tidak terjadi di tempat umum. Yosef takut kekaguman manusia akan mengotori kemurnian hatinya dan menjauhkannya dari Allah. Baginya, ia tetaplah “keledai kecil” yang tidak punya apa-apa selain kemurahan hati penciptanya.
Empat Pilar Pelayanan “Romo yang Tertinggal”
Pengalaman masa lalunya sebagai orang yang terpinggirkan justru membentuk karakter pastoral Yosef menjadi sangat unik dan membumi. Gaya pelayanannya dapat dipetakan dalam empat fokus utama:
- Pembinaan Iman yang Sederhana: Karena pernah mengalami rasanya sulit belajar, Yosef memiliki empati yang luar biasa terhadap kaum awam yang tidak berpendidikan dan anak-anak. Saat mengajar katekismus, ia membuang jauh-jauh istilah teologi yang rumit. Ia menggunakan bahasa tutur yang sederhana, kaya cerita, dan penuh kasih.
- Gembala di Kamar Pengakuan Dosa: Sebagai bapa pengakuan, ia dikenal sangat lembut. Yosef tahu persis rasanya bingung dan merasa jauh dari Tuhan. Kepada para penyesal dosa, ia tidak pernah menghardik. Ia selalu menekankan bahwa kelemahan manusia adalah ruang di mana rahmat Tuhan justru mengalir paling deras.
- Solidaritas Kaum Miskin: Pernah hidup dalam kemiskinan ekstrem membuat Yosef memandang orang miskin dan sakit sebagai personifikasi nyata dari wajah Yesus yang menderita. Setiap kali biara memberinya jatah makanan atau pakaian layak, ia akan langsung memberikannya kepada kaum papa di jalanan hingga dirinya sendiri tidak menyisakan apa-apa.
- Doa sebagai Poros Hidup: Bagi Yosef, liturgi adalah jantung kehidupan. Ia merayakan Misa Kudus dengan sangat khidmat, lambat, dan sering kali berurai air mata. Ia mengajarkan umatnya untuk berdoa bukan dengan retorika kata yang indah, melainkan dengan ketulusan hati yang utuh.
Ujian Pengasingan dan Sunyinya Jalan Salib
Ketenaran Yosef sebagai “Romo yang bisa terbang” segera memicu alarm kewaspadaan di otoritas tertinggi Gereja. Pada masa itu, institusi sangat berhati-hati terhadap fenomena mistis guna menghindari penyesatan atau histeria massa. Yosef pun harus menghadapi interogasi ketat dari Inkuisisi.
Sanksi berat pun jatuh: ia diasingkan.
Selama bertahun-tahun, Yosef dipindahkan secara sembunyi-sembunyi dari satu biara terpencil ke biara lainnya. Ia dikurung dalam pengawasan ketat, dilarang merayakan Misa bersama umat, dan diisolasi dari dunia luar. Bagi seorang pelayan masyarakat, ini adalah hukuman yang mematikan karakter.
Namun, di sinilah letak kesucian sejati Yosef diuji. Ia menerima ketidakadilan itu tanpa satu pun kalimat keluhan. Ia memilih diam, taat pada keputusan pimpinan, dan menganggap kurungan sunyi itu sebagai caranya ikut memikul salib Kristus. Dalam kesendirian yang pekat, hubungan mistisnya dengan Allah justru semakin matang.
Akhir Perjalanan dan Warisan Abadi
Setelah seumur hidup setia berada di barisan paling belakang namun diangkat tinggi oleh mukjizat, Santo Yosef dari Cupertino mengembuskan napas terakhirnya pada 18 September 1663 dalam usia 60 tahun.
Gereja Katolik akhirnya membersihkan namanya dari segala prasangka masalalu. Ia digelari beato pada tahun 1753 dan resmi diangkat sebagai Santo (orang suci) pada tahun 1767 oleh Paus Klemens XIII.
Kini, Santo Yosef dari Cupertino dihormati di seluruh dunia sebagai santo pelindung para pelajar, mereka yang menghadapi ujian, dan orang-orang yang mengalami kesulitan belajar.
Kisah hidup sang lelaki yang terbang ini meninggalkan sebuah esai jurnalistik kehidupan yang tajam bagi manusia modern: bahwa di hadapan Tuhan, ukuran kemuliaan tidak pernah dilihat dari angka IQ, tebalnya dompet, atau tingginya jabatan. Tuhan hanya mencari hati yang murni dan pasrah secara total. Yosef membuktikan bahwa mereka yang dianggap “terbang rendah” dan tak berharga di mata dunia, justru bisa menjadi jiwa yang paling tinggi terbang mendekati takhta surgawi.
Penulis: Jesnika Siburian, Mahasiswi Semester VI STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan
