MUNTILAN, Jawa Tengah — Yayasan Kanisius Cabang Magelang terus mendorong para siswanya untuk berani melanjutkan pendidikan ke sekolah-sekolah yang selama ini mereka anggap sulit dijangkau. Upaya itu dilakukan tidak hanya dengan memberikan pendampingan akademik, tetapi juga membantu membuka akses terhadap beasiswa dan keringanan biaya pendidikan.
Kepala Yayasan Kanisius Cabang Magelang, Romo Danang Bramasti SJ, mengatakan program tersebut berangkat dari kenyataan bahwa sebagian siswa Kanisius sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi kurang percaya diri untuk mengikuti seleksi sekolah yang dianggap elit.
“Para siswa tidak berani, mereka minder, takut masuk ke sekolah-sekolah yang menurut mereka itu elit sekali,” kata Romo di Muntilan, Jawa Tengah, Minggu (30/8/2026).
Menurut dia, kekhawatiran siswa bukan hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga biaya pendidikan. Karena itu, yayasan berusaha mendampingi mereka sejak persiapan masuk sekolah.
Salah satu bentuk pendampingan dilakukan melalui penguatan kemampuan matematika dan bahasa Inggris. Untuk matematika, Yayasan Kanisius menggandeng Romo Eko Budi Santoso SJ, doktor pendidikan matematika dari Manila. Sementara bahasa Inggris diberikan oleh Jacobus Yuli Triastadi yang telah berjalan selama sekitar empat tahun.
Pendampingan tersebut pada awalnya ditujukan bagi siswa yang ingin masuk ke De Britto. Dalam perkembangannya, semakin banyak siswa yang berani mencoba sekolah lain, antara lain Kolese Loyola, SMA PL Van Lith, dan SMK Tarakanita Magelang.
Yayasan, kata Romo Danang, juga berusaha memastikan persoalan biaya tidak menjadi penghalang bagi siswa yang memang memiliki kemampuan tetapi berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Dalam proses penerimaan, yayasan mendorong siswa mengikuti tes dan seleksi sebagaimana peserta lainnya. Namun, bagi siswa yang diterima dan memang tidak mampu secara finansial, yayasan akan membantu mengupayakan beasiswa atau keringanan biaya melalui mekanisme wawancara keuangan di sekolah tujuan.
“Kalau memang tidak mampu, saya minta beasiswa atau keringanan lewat wawancara keuangan di sekolah yang dituju,” ujarnya.
Pendampingan itu mulai menunjukkan hasil. Romo Danang menyebut saat ini terdapat 17 alumni Kanisius yang bersekolah di De Britto. Empat siswa dari program tersebut disebut masuk pada tahun terakhir.
Ia melihat keberhasilan siswa menembus sekolah-sekolah tersebut sebagai sebuah “jembatan emas” yang dapat membuka wawasan dan peluang lebih luas bagi mereka.
“Menjadi jembatan emas mereka untuk terbang ke mana pun. Mau ke Paris, ke Jerman, mereka terbuka wawasannya setelah sekolah di sekolah seperti itu,” katanya.
Program pendampingan dilakukan secara rutin. Pelatihan matematika bersama Romo Eko, misalnya, berlangsung mulai Agustus dan dilaksanakan setiap Sabtu. Pertemuan berlangsung sekitar pukul 08.00 hingga 12.00. Sementara pendampingan bahasa Inggris juga diberikan secara berkala.
Bahkan, peserta program disebut terus bertambah. Jika pada awalnya jumlah peserta sekitar enam orang, kemudian meningkat menjadi delapan orang dan kini mencapai sekitar 17 siswa.
Program serupa juga menjangkau siswa Kanisius dari daerah lain. Romo Danang menyebut ada siswa dari Kanisius Temanggung yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke Kolese Loyola.
Namun, menurut Romo Danang, keberhasilan siswa masuk sekolah lanjutan tidak cukup hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Ketika sudah masuk sekolah baru, mereka perlu memiliki kesiapan mental, terutama dalam hal disiplin dan kerja keras.
Ia mengaku pernah mendapati siswa yang akhirnya mengundurkan diri dari sekolah lanjutan. Dalam salah satu kasus, persoalannya bukan biaya, melainkan siswa merasa tuntutan akademiknya terlalu berat.
Karena itu, Yayasan Kanisius kini memberi perhatian lebih pada pembentukan mental siswa sebelum dan sesudah mereka masuk ke sekolah tujuan.
“Yang ditempa itu memang mental, terutama disiplin,” ujarnya.
Disiplin tersebut, lanjut dia, diwujudkan dalam kebiasaan sederhana: belajar ketika menghadapi ulangan, mengerjakan tugas, dan mampu memenuhi tenggat waktu yang relatif singkat.
Pengalaman para alumni juga digunakan sebagai bahan evaluasi. Yayasan Kanisius secara berkala menemui alumni yang telah bersekolah di tempat lain untuk mengetahui perkembangan mereka, kesulitan yang dihadapi, serta bentuk bantuan yang masih diperlukan.
“Feedback itu penting. Jadi mereka masuk itu juga bisa di-feedback untuk sekolah,” kata Romo Danang.
Khusus bagi siswa kelas 11 dan 12, pendampingan juga diarahkan agar mereka mulai memikirkan pendidikan setelah SMA. Menurut dia, siswa kelas 12 semestinya sudah mulai menentukan pilihan universitas lebih awal karena informasi dan kesempatan beasiswa biasanya tersedia sebelum tahun ajaran baru.
“Kalau sudah Januari, Februari baru cari, biasanya beasiswanya sudah habis,” ujarnya.
Bagi Romo Danang, program tersebut bukanlah bentuk paksaan kepada siswa untuk memilih sekolah tertentu. Keputusan tetap berada di tangan siswa. Yayasan berusaha memberikan pendampingan agar pilihan tersebut benar-benar dipahami dan dijalani dengan tanggung jawab.
“Ini bukan paksaan, tetapi sukarela,” katanya.
Dengan pola pendampingan tersebut, Yayasan Kanisius Cabang Magelang berharap semakin banyak siswa berani keluar dari keterbatasan rasa minder, mengenali kemampuan dirinya, serta memanfaatkan kesempatan pendidikan yang lebih luas.

