Pembahasan Santo Thomas Aquinas tentang kehidupan Kristus mencapai puncaknya dalam penjelasan yang sangat mendalam dan agung mengenai misteri Paskah: Sengsara, Wafat, Kebangkitan, Kenaikan, serta kemuliaan Kristus yang berkuasa di sebelah kanan Bapa.
Perlu kita ingat bahwa bagi Aquinas, seluruh tindakan dan penderitaan dalam hidup Kristus bersifat menyelamatkan. Namun, dalam peristiwa-peristiwa terakhir ini, keselamatan itu tampak dalam bentuk yang paling kuat, paling padat, dan paling jelas. Seluruh karya Kristus memuncak di sini.
Aquinas menjelaskan bahwa dalam Sengsara dan Kebangkitan Kristus, kita dapat melihat dua jenis perantaraan (mediasi), yaitu mediasi naik (ascending mediation) dan mediasi turun (descending mediation).
Mediasi naik adalah tindakan Kristus sebagai manusia yang berdoa dan memohon kepada Bapa bagi kita. Dalam hal ini, Kristus bertindak sebagai wakil manusia di hadapan Allah. Contohnya adalah doa Yesus di salib:
“Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Di sini, Kristus sebagai manusia memohonkan belas kasih bagi umat manusia.
Sebaliknya, mediasi turun adalah tindakan Kristus sebagai Allah-manusia yang, melalui kemanusiaan-Nya, menyalurkan rahmat ilahi kepada manusia. Artinya, melalui tindakan manusiawi-Nya, Ia memberikan kehidupan ilahi kepada dunia. Contohnya adalah perkataan Yesus kepada penjahat yang bertobat:
“Hari ini juga engkau akan bersama Aku di dalam Firdaus.”
Dalam hal ini, Kristus memberikan rahmat keselamatan secara langsung.
Kedua aspek ini penting untuk dipahami bersama jika kita ingin mengerti secara utuh bagaimana penebusan terjadi.
Ketika Aquinas membahas Sengsara Kristus, ia pertama-tama menegaskan bahwa sebenarnya tidak mutlak perlu bagi Kristus untuk menderita demi menyelamatkan manusia. Allah bisa saja menyelamatkan dunia dengan cara lain. Namun, sangat pantas dan tepat (fitting) bahwa keselamatan itu terjadi melalui penderitaan Kristus.
Mengapa demikian?
Yang paling utama, karena penderitaan Kristus bersifat mendidik dan mengajar kita.
Pertama, kita belajar tentang betapa beratnya dosa manusia. Fakta bahwa Allah sendiri rela menjadi manusia dan mengalami kematian yang menyakitkan di tangan manusia menunjukkan betapa seriusnya kejahatan manusia.
Kedua, kita melihat kedalaman kasih Allah. Allah sebenarnya tidak perlu menderita sedemikian rupa untuk menyelamatkan kita, tetapi Ia memilih jalan itu untuk menyatakan betapa besar kasih-Nya kepada dunia.
Penderitaan Kristus juga sangat nyata dan sangat berat.
Aquinas menjelaskan bahwa Kristus mengalami:
- Hukuman mati yang kejam, didahului oleh penyiksaan dan penghinaan publik
- Rasa sakit fisik yang luar biasa pada bagian-bagian tubuh yang paling sensitif
- Pengkhianatan dan ditinggalkan oleh para sahabat
- Penolakan oleh bangsa-Nya sendiri
- Hukuman dari pemerintah
- Perlakuan kejam dari musuh-musuh-Nya
Semua ini Ia alami baik secara jasmani maupun batin.
Lebih dalam lagi, Kristus mengalami kesadaran penuh akan kedalaman dosa manusia. Ia menghadapi kenyataan ini dengan kasih yang paling murni, sehingga juga mengalami kesedihan dan penderitaan hati yang paling dalam—lebih dalam daripada siapa pun dalam sejarah manusia.
Namun demikian, di tengah penderitaan itu, Kristus tidak sepenuhnya tanpa penghiburan. Dalam jiwa manusiawi-Nya, Ia tetap:
- Mengetahui Bapa
- Menyadari bahwa melalui Sengsara-Nya sedang terjadi kemenangan ilahi
- Memiliki harapan pasti akan Kebangkitan
Lalu, bagaimana penderitaan Kristus menyelamatkan dunia?
Yesus tidak menghendaki kejahatan yang menimpa-Nya. Penyiksaan dan penyaliban adalah hasil dari dosa manusia. Hal itu justru menyingkapkan kegagalan moral umat manusia secara terang-benderang.
Namun, Kristus dengan rela menerima penderitaan itu. Ia membiarkan diri-Nya menjadi sasaran kejahatan manusia, bukan karena Ia menginginkan kejahatan, tetapi karena Ia ingin menyatakan kasih-Nya kepada dunia.
Dalam penerimaan yang penuh kasih ini, Kristus melakukan tindakan yang bernilai pahala (meritorius) bagi keselamatan kita.
Menurut Aquinas, inti dari semua ini adalah kasih (charity).
Kristus taat kepada Bapa bukan sekadar kewajiban, tetapi karena kasih. Bahkan sampai mati di salib, Ia tetap taat dalam kasih. Dalam tindakan ini, Ia mempersembahkan kepada Allah suatu kasih manusiawi yang sempurna—kasih yang nilainya tak terhingga.
Mengapa tak terhingga? Karena Kristus bukan hanya manusia, tetapi juga Allah. Maka, tindakan manusiawi-Nya memiliki martabat ilahi.
Penebusan berarti pendamaian—mempersatukan kembali Allah dan manusia. Kristus mampu melakukannya karena:
- Ia manusia tanpa dosa
- Ia memiliki martabat ilahi yang tak terbatas
Melalui penderitaan-Nya yang dijalani dalam kasih, Ia mendamaikan manusia dengan Allah.
Apa hasil dari Sengsara Kristus?
Melalui jasa Kristus:
- Kita dibebaskan dari dosa
- Kita dilepaskan dari kuasa kejahatan dan iblis
- Kita dibebaskan dari hukuman akibat dosa
- Kita diperdamaikan dengan Allah
- Kita diberi kemungkinan untuk hidup kekal
Namun, semua ini tidak terjadi secara otomatis. Manusia tetap harus bekerja sama dengan rahmat Kristus agar dapat menerima buah keselamatan tersebut.
Kristus yang telah dimuliakan mampu memberikan rahmat ini kepada kita, bukan hanya sebagai Allah, tetapi juga sebagai manusia—melalui mediasi turun yang telah dijelaskan sebelumnya.
Bagaimana dengan Kebangkitan Kristus?
Aquinas memberikan beberapa alasan mengapa Kebangkitan itu perlu:
- Menunjukkan keadilan Allah
Kasih dan ketaatan Kristus harus dimuliakan, dan ketidakbersalahan-Nya harus dibuktikan. - Meneguhkan iman
Kebangkitan membuktikan bahwa Kristus sungguh adalah Anak Allah. - Menguatkan harapan
Kristus adalah yang pertama bangkit, dan menjadi jaminan bahwa kita pun akan bangkit. - Mengarahkan hidup kita
Kebangkitan mengajak kita hidup baru dan mengarahkan kita pada kebahagiaan kekal.
Dalam Kebangkitan, kemanusiaan Kristus dimuliakan sepenuhnya—baik jiwa maupun tubuh-Nya.
Dalam jiwa-Nya:
- Kebahagiaan ilahi memenuhi seluruh diri-Nya
- Rahmat mengalir ke semua kemampuan jiwa dan tubuh
Seluruh keberadaan manusiawi Kristus dipenuhi dan dipancarkan oleh kemuliaan ilahi.
Dalam tubuh-Nya:
- Tubuh-Nya tetap sama, tetapi diangkat ke tingkat yang lebih tinggi
- Tubuh-Nya menjadi “rohani” (spiritualized), bukan dalam arti tidak berwujud, tetapi sepenuhnya dikuasai oleh jiwa
Tubuh Kristus yang bangkit memiliki sifat-sifat baru:
- Tidak dapat menderita lagi (impassible)
- Tidak dapat binasa (incorruptible)
- Halus dan lincah (subtle dan agile)
- Sepenuhnya tunduk pada jiwa
Karena itu, Ia dapat:
- Menampakkan diri kapan saja kepada para murid
- Menyatakan kemuliaan-Nya melalui tubuh-Nya
Contohnya terlihat dalam penampakan kepada para rasul, dan juga kepada Saulus (Paulus), ketika cahaya kemuliaan Kristus menyinari dirinya.
Dengan semua ini, kemanusiaan Kristus dimuliakan untuk selama-lamanya. Ia kini berkuasa dalam sejarah dan menjadi sumber awal dari ciptaan baru—sebuah hidup baru yang ditawarkan kepada seluruh umat manusia.
