NABIRE — Ketika banyak sekolah sibuk mengejar target akademik dan nilai ujian, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville di Nabire memilih mengajarkan hal yang jarang mendapat ruang di kelas: bagaimana mendengarkan orang lain, membangun kepercayaan, dan hidup bersama di tengah perbedaan.
Selama 11–17 Mei 2026, ratusan siswa kelas X dan XI mengikuti Workshop–Rekoleksi Intercultural Understanding yang menghadirkan pengalaman belajar tidak biasa. Tidak ada tekanan ujian, tidak ada hafalan materi, dan tidak banyak ceramah panjang.
Sebaliknya, para siswa diajak duduk melingkar, berjalan bersama dalam keheningan, berbicara dari hati ke hati, hingga berbagi cerita tentang budaya dan kehidupan keluarga mereka.
Program ini difasilitasi oleh Dr. Roberto Vale, peneliti asal Brasil yang mendalami tema kepercayaan dalam relasi antarbudaya. Workshop tersebut mengangkat tema Who I Am, How We Connect, Why We Trust.
Bagi banyak siswa, kegiatan itu menjadi pengalaman pertama untuk benar-benar mengenal teman-teman mereka sendiri.
Di sekolah yang dihuni pelajar dari berbagai latar belakang budaya Papua dan Nusantara itu, para peserta berasal dari suku Mee, Moni, Biak, Serui, Ambon, Kei, Batak, Jawa, Toraja, dan banyak lainnya.
Mereka diminta membawa cerita tentang identitas budaya masing-masing: bahasa daerah, rumah adat, makanan tradisional, kebiasaan keluarga, hingga nilai-nilai yang diwariskan orang tua.
Dari sana, percakapan berkembang menjadi lebih personal.
“Yang saya dapat yaitu bisa mengenal budaya dari suku-suku lain,” ujar seorang siswa saat sesi refleksi penutupan.
Siswa lain mengaku baru menyadari bahwa teman-temannya memiliki latar budaya yang sangat berbeda, tetapi tetap memiliki nilai hidup yang sama.
“Walaupun kami berbeda-beda, tapi kami tetap bersama tanpa membeda-bedakan,” katanya.
Workshop tersebut dirancang sangat interaktif. Sebagian besar kegiatan dilakukan melalui permainan kelompok, latihan komunikasi, refleksi pribadi, seni, dan gerak tubuh. Para siswa tidak hanya diajak memahami teori tentang keberagaman, tetapi mengalami langsung dinamika hidup bersama.
Salah satu sesi yang paling berkesan adalah latihan membangun percakapan mendalam melalui seni bertanya.
Di tengah budaya komunikasi digital yang serba cepat dan dangkal, para siswa justru belajar bagaimana mengajukan pertanyaan yang mampu membuka empati.
Roberto Vale mengatakan kemampuan membuat pertanyaan yang baik merupakan keterampilan hidup yang semakin penting di masa depan.
“Jika kalian mampu membuat pertanyaan yang baik, kalian tidak mudah kesepian, kalian mampu belajar dari siapa saja, dan kalian lebih mampu menyelesaikan konflik secara manusiawi,” ujarnya.
Bagi para siswa, sesi itu menjadi pengalaman baru. Mereka belajar bahwa percakapan yang baik bukan sekadar berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Yang paling saya ingat adalah bagaimana membuat percakapan menjadi lebih dalam dengan pertanyaan yang berkualitas,” kata seorang peserta.
Momen paling emosional terjadi pada malam refleksi di sekitar api unggun. Dalam suasana sederhana dan tanpa sekat formal, para siswa melakukan examen bersama sambil membagikan pengalaman yang mereka alami selama seminggu.
Anak-anak yang biasanya hanya berkumpul dengan kelompok tertentu mulai berani membuka diri dan membangun relasi baru.
Hari terakhir workshop ditutup dengan tema trust across cultures atau membangun rasa percaya di tengah keragaman budaya. Para peserta menjalani walking meditation dan percakapan berpasangan bersama “teman Emaus”.
Mereka diminta merefleksikan pertanyaan sederhana: apa yang membuat seseorang merasa aman, diterima, dan dipercaya?
Jawaban-jawaban para siswa menunjukkan bahwa kebutuhan paling dasar manusia ternyata sama: diterima tanpa dihakimi.
“Apa yang saya dapatkan adalah bagaimana membuat orang percaya kepada kita, dan bagaimana mempertahankan rasa percaya itu,” ujar salah satu siswa.
Selain melibatkan siswa, pihak sekolah juga mengadakan sesi khusus bagi guru mengenai cara membangun ruang kelas yang sehat dan penuh kepercayaan di tengah keberagaman budaya dan sosial-ekonomi siswa.
Bagi Kolese Le Cocq, pendidikan seperti ini menjadi semakin penting di Papua, wilayah yang selama ini lebih sering diberitakan karena konflik dan persoalan sosial.
Melalui pengalaman sederhana selama satu minggu, sekolah ingin menunjukkan bahwa Papua juga memiliki ruang-ruang harapan: tempat anak-anak muda belajar berdialog, saling mendengar, dan bertumbuh bersama sebagai komunitas.
Workshop ini sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan tentang kemanusiaan tidak selalu membutuhkan ruang mewah atau teknologi canggih. Kadang, perubahan justru lahir dari percakapan sederhana di bawah langit malam, di sekitar api unggun, ketika anak-anak muda mulai berani saling mendengar.
Dan dari ruang sederhana itu, lahir satu kesadaran yang terus diulang oleh para siswa:
“Kami berbeda-beda, tapi kami tetap bersama.”
