Penulis: Romo Odemus Bei Witono SJ, Direktur Perkumpulan Strada
Perjalanan saya sebagai seorang Jesuit membawa saya menyusuri jengkal-jengkal wilayah yang sangat kontras—mulai dari derap langkah pelayanan yang bersahaja di pedalaman Nabire, waktu itu masuk Provinsi Papua, hingga dinamika kehidupan perkotaan yang melaju cepat di Jakarta. Di tanah Papua, saya menyaksikan bagaimana rekan-rekan awam bekerja dengan dedikasi total di tengah keterbatasan sarana, menjaga nyala harapan dan iman masyarakat lokal.
Sementara di Jakarta, di tengah bentang lanskap profesional yang kompleks, saya kembali berjumpa dengan para awam yang mendedikasikan waktu, pikiran, dan bakat terbaik mereka demi karya-karya Kerasulan Serikat Jesus. Dari pulau ke pulau, dari perbatasan hingga pusat kota, ada satu benang merah mendasar yang terus saya temui: Serikat Jesus tidak pernah dan tidak bisa berjalan sendirian.
Kolaborasi dengan awam bukanlah sekadar strategi darurat untuk mengatasi berkurangnya jumlah imam Jesuit. Lebih dari itu, kolaborasi adalah panggilan teologis dan konversi rohani.
Bagi saya pribadi, serta bagi siapa pun yang berkarya dalam lingkup Ignasian, semangat ini dibentuk dan dituntun oleh warisan pemikiran dua Superior Jenderal Serikat Jesus: Pater Peter-Hans Kolvenbach, SJ dan Pater Adolfo Nicolás, SJ.
Pelajaran dari para Superior Jenderal: Rekan Misi, Bukan Sekadar Pembantu
Dalam Kongregasi Jenderal ke-34 pada tahun 1995, Pater Peter-Hans Kolvenbach memelopori pengakuan tegas bahwa kemitraan dengan awam adalah perahmatan pada zaman kita dan harapan untuk masa depan. Kolvenbach menggeser paradigma lama secara mendasar. Rekan-rekan awam tidak lagi dipandang sebagai sekadar pembantu karya Jesuit, melainkan mitra yang berbagi tanggung jawab penuh atas Misi Kristus (co-responsibility).
Beliau mengingatkan kita bahwa martabat pembaptisan memberi setiap orang awam peran yang sangat krusial dalam perutusan Gereja.
Landasan teologis tersebut kemudian diperdalam oleh Pater Adolfo Nicolás. Melalui sudut pandang missioner yang segar, Pater Nicolás menekankan konsep Missio Dei, yaitu pemahaman bahwa misi adalah milik Allah sendiri. Allah sudah bekerja di dalam dunia dan di hati setiap manusia jauh sebelum para Jesuit tiba di suatu tempat.
Oleh karena itu, kita para Jesuit tidak mendominasi Misi Allah; kita justru dipanggil menjadi kolaborator bersama awam untuk mendengarkan dan menemukan tempat di mana Allah sedang bekerja. Pater Nicolás juga mewanti-wanti kita agar terhindar dari bahaya globalisasi kedangkalan.
Beliau mengajak para Jesuit dan mitra awam untuk mengolah kedalaman rohani, berpikir kritis, serta berani keluar dari zona nyaman agar pelayanan yang diberikan benar-benar menyentuh akar persoalan manusia modern.
Merajut Tiga Pilar: Mengenali, Merawat, dan Mengembangkan
Pengalaman bermitra secara langsung di lapangan—baik bersama para guru, penggerak komunitas, hingga para profesional—menunjukkan bahwa menjaga nyala api kebanggaan dan kebersamaan ini memerlukan langkah-langkah nyata yang saling berkaitan.
Proses tersebut selalu dimulai dengan keberanian untuk mengenali. Mengenali berarti melihat rekan awam bukan sebagai sekadar tenaga kerja, melainkan sebagai pribadi yang dipanggil oleh Allah dengan karisma dan keahlian unik mereka. Hal ini terwujud ketika kita berani membuka ruang diskresi bersama, mengajak rekan awam masuk ke dalam proses pembedaan roh (discernment) dan pengambilan keputusan, bukan sekadar meminta mereka mengeksekusi keputusan yang telah dibuat oleh para Jesuit.
Selain itu, mengenali juga menuntut kita untuk menghargai kepemimpinan awam dengan memberi kepercayaan penuh kepada mereka untuk menduduki posisi-posisi strategis dalam lembaga pendidikan dan kerasulan.
Selanjutnya, kebanggaan dan rasa kepemilikan terhadap Misi Ignasian perlu dirawat secara berkelanjutan melalui proses formasi yang utuh. Formasi nilai-nilai Ignasian, seperti pendampingan spiritual, retret, atau latihan rohani yang disesuaikan dengan konteks hidup awam, sangat penting untuk diberikan.
Saat para guru dan staf memahami konsep Magis, Cura Personalis, dan prinsip Men and Women for and with Others, kerja harian mereka di dalam kelas berubah dari sekadar profesi menjadi sebuah panggilan hidup.
Namun demikian, merawat tidak hanya berhenti pada pembinaan rohani; merawat juga berarti memperhatikan keadilan sosial dan kesejahteraan para mitra kerja secara layak. Kebanggaan Kerasulan Jesuit harus tercermin secara nyata dalam tata kelola lembaga yang adil dan humanistis.
Akhirnya, semangat kebersamaan ini harus dikembangkan dengan memberi ruang agar mitra awam dapat berinovasi dan membawa pemikiran-pemikiran baru yang relevan dengan zaman.
Pemberian otonomi yang bertanggung jawab memungkinkan guru dan staf memiliki kebebasan kreatif untuk mengolah metode pembelajaran, riset, atau pelayanan sosial berbasis konteks lokal mereka—seperti yang saya alami saat belajar banyak dari kearifan lokal masyarakat di Nabire.
Di saat yang sama, kita perlu mendorong lahirnya kelompok-kelompok berbagi iman di tempat kerja, sehingga hubungan kerja tidak bersifat mekanis, melainkan bertransformasi menjadi sebuah komunitas pertemanan dalam Tuhan (apostolic community of friends in the Lord).
Menatap Masa Depan Kebersamaan
Mengembangkan semangat dan kebanggaan guru serta kolaborator Jesuit pada akhirnya bukan soal mempertahankan keberlangsungan institusi atau melanggengkan nama besar Jesuit. Ini adalah soal merawat perutusan Injil secara nyata di tengah dunia.
Ketika seorang guru di Nabire dengan gigih mengajar anak-anak di pedalaman, atau ketika seorang pendidik dan staf di Jakarta berjuang membentuk generasi muda yang cerdas serta berhati nurani, di sanalah Missio Dei hadir dan bekerja.
Sebagai seorang Jesuit, saya bersyukur dan bangga boleh berjalan bersama para awam. Pembelajaran berharga dari Pater Kolvenbach dan Pater Nicolás terus meneguhkan kita semua bahwa kebanggaan sejati seorang kolaborator Jesuit bukanlah karena bekerja untuk Serikat Jesus, melainkan karena berjalan bersama Kristus dalam melayani dunia.
