Jakarta — Aula, ruang diskusi, hingga halaman Gereja Katedral Jakarta akan menjadi panggung refleksi panjang tentang pemikiran Franz Magnis-Suseno sepanjang rangkaian Dies Natalis ke-57 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Kampus filsafat itu memilih tema “Magnis untuk Indonesia” untuk menandai ulang tahun ke-90 rohaniwan Jesuit yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu suara moral publik Indonesia.
Puncak perayaan akan berlangsung pada 26 Mei 2026 melalui misa syukur di Katedral Jakarta yang dipimpin Kardinal Ignatius Suharyo. Seusai misa, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, tokoh lintas agama, alumni, dan sahabat STF Driyarkara.
Bagi STF Driyarkara, Katedral bukan sekadar lokasi seremonial. Kompleks itu dipilih karena dianggap merepresentasikan tiga jejak utama pemikiran Magnis: etika politik, teologi, dan dialog antaragama.
Graha Pemuda di area Katedral, misalnya, dipandang sebagai simbol keterlibatan Magnis dalam dinamika sosial-politik Indonesia. Gedung yang dahulu bernama Katholieke Jongelingenbond itu pernah menjadi lokasi sidang pertama Kongres Pemuda II pada 1928. STF Driyarkara melihat ruang itu sebagai metafora keterlibatan filsafat dalam kehidupan publik—sesuatu yang selama ini lekat dengan Magnis.
“Dies Natalis ini bukan sekadar perayaan ulang tahun seorang tokoh, tetapi upaya membaca kembali kontribusi pemikiran Magnis bagi Indonesia hari ini,” ujar Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Romo Wawan Setiadi SJ, di Jakarta, Kamis (14/05/2026).
Menurut Wawan, Magnis dikenal luas sebagai filsuf yang konsisten berbicara tentang etika kekuasaan, demokrasi, dan martabat manusia. Dalam banyak momentum politik Indonesia, ia hadir sebagai intelektual publik yang kerap mengingatkan pentingnya keberanian moral dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Selain etika politik, STF Driyarkara juga menyoroti kontribusi Magnis di bidang teologi. Selama bertahun-tahun ia mengajar Filsafat Ketuhanan dan aktif menulis refleksi tentang Gereja Katolik Indonesia pasca Konsili Vatikan II. Karena itu, misa syukur di Katedral dipandang memiliki makna simbolik tersendiri.
Perayaan itu juga akan melibatkan pimpinan ordo Jesuit dan Fransiskan, dua komunitas religius yang bersama Keuskupan Agung Jakarta mendirikan STF Driyarkara hampir enam dekade lalu.
Tema ketiga yang diangkat adalah dialog antaragama. Dalam konteks Indonesia yang plural, STF Driyarkara memandang keterlibatan Magnis dalam forum lintas iman sebagai bagian penting dari warisan intelektualnya. Karena itu, Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Katedral dan Masjid Istiqlal disebut sebagai simbol penting perayaan tahun ini.
Lokasi itu pernah dikunjungi Paus Fransiskus saat lawatannya ke Indonesia dan dianggap merepresentasikan semangat perjumpaan lintas agama yang selama ini juga diperjuangkan Magnis.
Rangkaian Dies Natalis sendiri dimulai sejak Februari melalui seminar bertema “Pemikiran Magnis untuk Indonesia”. Seminar itu menghadirkan Fransisco Budi Hardiman, Adrianus Sunarko, dan Siti Musdah Mulia dengan moderator Ayu Utami.
Selain forum akademik, panitia juga menggelar berbagai kegiatan mahasiswa dan kebudayaan: pemutaran film, lomba debat, kompetisi esai, hingga pekan kuliah terbuka yang membahas isu-isu mutakhir seperti kecerdasan artifisial, demokrasi, oligarki, sains, dan agama.
Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah pemutaran perdana film dokumenter The Philosopher’s Journey karya Marselli Sumarno pada 16 Mei 2026. Film berdurasi 70 menit itu merekam perjalanan Magnis sebagai rohaniwan, pemikir, sekaligus figur moral di ruang publik Indonesia.
Lewat seluruh rangkaian ini, kata Wawan, STF Driyarkara ingin menunjukkan bahwa filsafat tidak berhenti di ruang kuliah. Dalam sosok Magnis, filsafat justru hadir di tengah pergulatan demokrasi, agama, teknologi, dan kehidupan sosial Indonesia hari ini.
