By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    9 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    9 months ago
    Latest News
    Membangun Bumi dan Langit yang Baru dari Lingkungan Kita
    28 minutes ago
    Menggambar sebagai Jalan Kebebasan: Romo Danang Belajar dari Anak-anak Pemulung
    2 weeks ago
    Berjalan Bersama Rekan Jesuit dan Awam
    37 minutes ago
    From the City of Students to the City of Industry: What Does WUJA 2026 Mean for Us?
    1 month ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Membangun Bumi dan Langit yang Baru dari Lingkungan Kita
    35 minutes ago
    Calon Arang dan Batas yang Kabur antara Cinta, Kebaikan, dan Kejahatan
    5 days ago
    Tuhan Bukan Pendukung Tim Mana Pun
    2 months ago
    Menulis untuk Menghidupkan Literasi: Jejak Sunyi Angela Yurmani Giawa
    3 months ago
    Di Balik Banyak Peran, Selalu Ada Ruang untuk Bersyukur
    3 months ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Becoming Christ’s Influencers: Asian Digital Missionaries Called to “Whisper” Jesus
    2 weeks ago
    Asia’s First Catholic Digital Missionary Assembly Opens New Path for Digital Mission
    2 weeks ago
    Asian Digital Missionaries Urged to Move from Influencers to Witnesses
    2 weeks ago
    Relikwi Santo Petrus Tiba di Flores Timur, Menjadi Tanda Persekutuan dengan Gereja Universal
    2 months ago
    Petrus dan Paulus: dari Kerapuhan Menuju Batu Karang dan Saksi Kristus
    3 months ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    10 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    10 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    1 year ago
    Latest News
    Misa Syukur UGM 2026, Romo Tanto Ajak Mahasiswa Tidak Membawa “Tong Sampah” Luka ke Tahun Akademik Baru
    5 days ago
    Menggambar sebagai Jalan Kebebasan: Romo Danang Belajar dari Anak-anak Pemulung
    2 weeks ago
    Berjalan Bersama Rekan Jesuit dan Awam
    37 minutes ago
    Yayasan Kanisius Magelang Dorong Siswa Berani Menembus Sekolah Berkualitas
    3 weeks ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    6 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    6 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    6 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    4 months ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    6 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    6 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    6 months ago
Reading: Membangun Bumi dan Langit yang Baru dari Lingkungan Kita
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
IDEAIGNASIANALatihan RohaniRenungan

Membangun Bumi dan Langit yang Baru dari Lingkungan Kita

Romo Odemus Bei Witono SJ
Last updated: September 22, 2026 2:25 am
By Romo Odemus Bei Witono SJ 35 minutes ago
Share
5 Min Read
SHARE

Malam itu, teras rumah salah satu warga lingkungan tampak lebih hangat dari biasanya. Lampu gantung yang agak kekuningan membiaskan cahaya ke arah deretan kursi yang disusun rapih. Canda tawa renyah, sapaan hangat, dan pelukan singkat menyambut setiap sahabat lingkungan yang melangkahkan kaki masuk.

Tidak ada batasan usia, status sosial, atau latar belakang yang membedakan; semua hadir sebagai kawan seperjalanan. Suasana akrab dan bersahabat langsung terasa, meleburkan segala keletihan setelah seharian bergelut dengan rutinitas. Kumpul bareng ini bukan sekadar agenda rutin harian, melainkan sebuah jeda yang dirindukan—sebuah ruang aman di mana persaudaraan dirayakan secara sederhana namun mendalam.

Setelah kehangatan tegur sapa mencairkan suasana, pertemuan dilanjutkan dengan sesi pendalaman Kitab Suci dan sharing bersama. Di tengah lingkaran persaudaraan itu, Kitab Suci dibuka. Fokus permenungan malam itu tertuju pada dua perikop yang sangat transformatif: Surat Efesus dan Kitab Wahyu. Dalam suasana yang hening dan penuh khidmat, bacaan dibacakan, mengundang setiap yang hadir untuk merenungkan kembali peran mereka di tengah dunia yang makin terfragmentasi.

Gema warta dari Efesus 2:14 menjadi fondasi awal permenungan: “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempertunggal kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perselisihan.”

Tembok pemisah dalam konteks zaman modern tidak lagi selalu berwujud batasan fisik atau prasangka antara suku dan bangsa semata, melainkan juga tembok egoisme, prasangka buruk, ketakutan, dan ketidakpedulian yang kerap kita bangun di dalam hati kita sendiri. Tembok-tembok itulah yang menyekat manusia dari sesamanya dan membuat hubungan antarwarga menjadi dingin.

Pendalaman Kitab Suci semakin berbobot ketika permenungan dilanjutkan ke Kitab Wahyu 21:1, yang menyuarakan pengharapan eskatologis: “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu.” Janji tentang langit dan bumi yang baru ini bukanlah sekadar janji tentang tempat di masa depan setelah kematian, melainkan sebuah panggilan iman untuk diwujudkan sejak hari ini, di sini, dan di bumi yang kita pijak saat ini.

Dalam sesi sharing bersama, para sahabat lingkungan saling membagikan permenungan dan pengalaman hidup secara jujur. Banyak yang menyadari betapa mudahnya kita terjebak dalam prasangka dan keengganan untuk menyapa tetangga atau mereka yang berbeda pandangan.

Namun, lewat permenungan atas Sabda Allah, muncul sebuah kesadaran bersama: bahwa untuk menghadirkan “bumi dan langit yang baru”, manusia tidak bisa menunggu keajaiban turun dari langit begitu saja.

Pembaruan itu idealnya dimulai dari merubuhkan tembok-tembok perselisihan yang ada di sekitar kita terlebih dahulu. Menghancurkan tembok pemisah membutuhkan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman, mendengarkan tanpa menghakimi, serta membuka diri terhadap perbedaan.

Panggilan untuk menjadi agen perdamaian dan pembawa harmoni bukanlah sebuah teori abstrak yang rumit. Ia berakar pada dua hal dasar yang sangat membumi: empati dan kepedulian. Empati memungkinkan kita untuk merasakan penderitaan, kecemasan, dan harapan sesama, sementara kepedulian mendorong kita untuk melakukan tindakan nyata.

Ketika kita mampu menaruh rasa peduli terhadap tetangga yang sedang tertimpa musibah, mendengarkan cerita sahabat yang sedang berbeban berat, atau sekadar merawat kebersihan dan keasrian lingkungan bersama, saat itulah kita sedang merubuhkan tembok pemisah dan menenun harmoni kehidupan.

Selesai pendalaman Kitab Suci dan refleksi mendalam, acara malam itu ditutup dengan makan malam bersama. Hidangan yang disajikan sangat sederhana—makanan rumahan hasil swadaya warga yang dibawa secara gotong royong.

Namun, justru dalam kesederhanaan itulah semangat kebersamaan memancar begitu kuat. Di meja makan, tidak ada lagi sekat formalitas. Makanan dibagi rata, mangkuk dan piring berpindah dari tangan ke tangan diiringi tawa dan percakapan ringan.

Makan malam bersama ini menjadi simbol nyata dari apa yang baru saja direfleksikan: sebuah perjamuan persaudaraan di mana semua orang diterima, dihargai, dan dikenyangkan oleh rasa kebersamaan.

Malam semakin larut ketika satu per satu sahabat lingkungan berpamitan pulang. Namun, ada sesuatu yang berbeda yang dibawakan malam itu. Mereka tidak hanya pulang membawa perut yang kenyang atau kenangan akan obrolan manis, tetapi juga membawa benih kerinduan untuk berubah.

Pertemuan di lingkungan kecil ini telah menyalakan kembali api komitmen untuk menjadi agen perdamaian di dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat luas.

Merubuhkan tembok pemisah memang memerlukan proses dan keberanian terus-menerus. Namun, ketika kita memulainya dari langkah kecil—lewat empati yang tulus, kepedulian yang konsisten, dan semangat kebersamaan yang dipelihara—kita sesungguhnya sedang berpartisipasi aktif dalam karya pembaruan Allah.

Mari kita melangkah keluar, merubuhkan sekat prasangka, dan menghadirkan harmoni kehidupan, demi berdirinya bumi dan langit yang baru di dalam lingkungan kita sendiri.

You Might Also Like

Kisah Anak yang Hilang Bukan Hanya Tentang Si Bungsu

Iman Bukanlah Pelarian dari Kenyataan

Iman yang Melampaui Kondisi Kita Saat Ini

Nilai Hidup Bukan pada Apa yang Kita Miliki

Bukan Isapan Jempol, Yesus Menyertai Kita Sampai Akhir Zaman

TAGGED:agen perdamaianapi komitmencerita sahabatheadlinemakan malam bersamapendalaman Kitab Sucipertemuan lingkunganrefleksi mendalam
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Romo Odemus Bei Witono SJ
Kolumnis dan Pemerhati Pendidikan
Previous Article Calon Arang dan Batas yang Kabur antara Cinta, Kebaikan, dan Kejahatan
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Membangun Bumi dan Langit yang Baru dari Lingkungan Kita
  • Calon Arang dan Batas yang Kabur antara Cinta, Kebaikan, dan Kejahatan
  • Misa Syukur UGM 2026, Romo Tanto Ajak Mahasiswa Tidak Membawa “Tong Sampah” Luka ke Tahun Akademik Baru
  • Becoming Christ’s Influencers: Asian Digital Missionaries Called to “Whisper” Jesus
  • Asia’s First Catholic Digital Missionary Assembly Opens New Path for Digital Mission

Recent Comments

  1. odemus witono on Aku Percaya Pengampunan Dosa: Dari Kegelapan Trauma Menuju Rahmat Transendental
  2. Anita on Aku Percaya Pengampunan Dosa: Dari Kegelapan Trauma Menuju Rahmat Transendental
  3. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  4. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  5. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?