SALATIGA — Pengalaman menyentuh tanah, menanam cabai, merawat tanaman, hingga berinteraksi dengan hewan merupakan cara sederhana dan efektif untuk membangun kedekatan, koneksi antara manusia dengan alam.
Semangat itulah yang dibawa Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) melalui Safari Ekologi, yang digelar untuk memperingati ulang tahun ke-61 (1 September 1965) lembaga kursus pertanian dan peternakan tersebut. KPTT merupakan salah satu karya Ordo Serikat Yesus di Indonesia yang berada di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Safari Ekologi mengusung tema “Dipanggil untuk Berakar, Diutus untuk Merawat.”
Kegiatan di Paroki Girisonta, Semarang, Jawa Tengah – Indonesia pada 20 September 2026 merupakan Safari Ekologi yang kedua. Kegiatan pertama dilaksanakan di Paroki Semarang Indah, sementara kegiatan berikutnya direncanakan akan diadakan di Paroki Bongsari, Semarang – Jawa Tengah pada 3–4 Oktober dan Paroki Gedangan, Semarang pada 18 Oktober. Dan akan dilanjutkan sepanjang sisa tahun ini.
Pelaksanaan Safari Ekologi disesuaikan dengan kondisi masing-masing paroki. Jika kegiatan ini dapat berkembang menjadi program rutin, KPTT berharap dapat terus melaksanakannya. Ke depan, kegiatan juga akan diarahkan ke sekolah-sekolah.
Menurut Direktur KPTT Bruder Antonius Dieng Karnedi SJ, yang kerap dipanggil Bruder Dieng, Safari Ekologi merupakan bagian dari upaya KPTT untuk melakukan “gerak keluar”. KPTT ingin melayani sesama dengan membawa pengetahuan dan pengalaman mengenai pertanian, peternakan, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup langsung kepada masyarakat, terutama umat di paroki-paroki.
“Gerak keluar KPTT, ingin melayani sesama dengan mempromosikan kepedulian terhadap lingkungan hidup kepada banyak orang, terutama umat paroki-paroki,” ujar Br. Dieng.
Anak-anak belajar menanam
Salah satu sasaran utama Safari Ekologi adalah anak-anak. Dalam kegiatan di paroki, lebih dari 100 anak PIA (Pembinaan Iman Anak), termasuk anak-anak dari Sekolah Dasar Kanisius (sekolah yang dikelola para Jesuit di Jawa Tengah dan Yogyakarta), dilibatkan dalam praktik menanam.
Mereka tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai lingkungan hidup, tetapi juga diajak mengenal media tanam, berbagai jenis tanaman, dan belajar menanam secara langsung. Tanaman yang digunakan antara lain terong, cabai, dan berbagai jenis sawi yang berukuran relatif pendek.
Setelah menanam, anak-anak dapat membawa pulang tanaman tersebut. Dengan demikian, pengalaman yang mereka peroleh di paroki dapat diteruskan di rumah. “Anak-anak bisa membawa pulang tanaman itu. Koneksinya di situ,” kata Br. Dieng.
Bagi KPTT, kegiatan tersebut bukan sekadar mengajarkan cara menanam. Pengalaman menyentuh tanah dan merawat tanaman diharapkan menjadi awal bagi anak-anak untuk membangun hubungan (koneksi) yang lebih dekat dengan alam.
Orang tua belajar urban farming
Selain kegiatan untuk anak-anak, orang tua (individu dewasa) mendapatkan kesempatan mengikuti workshop urban farming.
Dalam workshop tersebut, peserta diajak memahami pentingnya pertanian bagi kehidupan masyarakat. Pertanian tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan. Jika lingkungan sekitar mendukung, kegiatan pertanian dapat berjalan dengan baik. Sebaliknya, kerusakan lingkungan akan berdampak pada pertanian.
Pertanian dengan berbagai produknya juga dapat menjadi salah satu solusi untuk menyediakan makanan sehat sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Konteks ini menjadi penting karena Oktober (tanggal 16) juga berkaitan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia. Melalui kegiatan tersebut, KPTT berharap umat semakin peduli terhadap persoalan pangan dan melihat berbagai kemungkinan untuk berkontribusi dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Peserta workshop diperkenalkan dengan berbagai pendekatan pertanian yang dapat diterapkan di wilayah perkotaan. Misalnya, memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar rumah, menggunakan polybag, memanfaatkan barang-barang bekas sebagai media tanam, membuat raised bed, vertical garden, hidroponik, hingga indoor farming atau pertanian di dalam ruangan.
Pengolahan sampah organik melalui composting juga diperkenalkan sebagai bagian dari kegiatan.
Salah satu model yang diajarkan adalah hugelkultur, model pertanian yang berasal dari Jerman. Dalam model ini dibuat bedeng yang lebih tinggi. Di dalam bedeng terdapat susunan kayu bekas, ranting, dan daun. Di atasnya kemudian diletakkan pupuk dan topsoil sebelum bedeng ditanami.
Bahan-bahan organik yang berada di dalam bedeng akan terurai secara perlahan sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman.
Pertanian sebagai jalan membangun kedekatan dengan alam
Namun, bagi KPTT, pertanian dan peternakan bukan hanya persoalan teknik produksi pangan.
Keduanya juga dapat menjadi sarana atau latihan bagi anak-anak, remaja, maupun orang tua untuk membangun bonding dan koneksi yang lebih dekat dengan lingkungan alam sekitar.
Menurut Bruder Dieng, orang yang tidak pernah berinteraksi dengan alam akan mengalami kesulitan ketika berbicara mengenai lingkungan hidup. Karena itu, Safari Ekologi tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga pengalaman langsung berinteraksi dengan alam.
“Kalau orang tidak pernah berinteraksi dengan alam, sulit bicara dengan lingkungan hidup,” ujarnya.
Karena itu, ketika datang ke paroki, KPTT membawa pengetahuan dan pengalaman yang mungkin selama ini hanya sedikit bersinggungan dengan kehidupan umat.
Dalam kegiatan tertentu, KPTT juga membawa hewan ternak seperti marmot dan piglet. Anak-anak diberi kesempatan berinteraksi dengan hewan-hewan tersebut, termasuk memberi mereka makanan.
Pengalaman sederhana itu diharapkan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengalami secara langsung hubungan dengan makhluk hidup lainnya.
Menghubungkan iman dan kepedulian lingkungan
Safari Ekologi juga menghubungkan perhatian terhadap lingkungan dengan kehidupan iman.
Dalam perayaan Misa, umat diajak merefleksikan perhatian terhadap lingkungan hidup melalui semangat Laudato Si’, spiritualitas manusia ekologis, serta Arah dan Dasar Keuskupan Agung Semarang.
Bagi KPTT, perhatian terhadap lingkungan tidak hanya menyangkut persoalan teknis pertanian. Kepedulian ekologis juga merupakan bagian dari cara manusia memahami dirinya sebagai bagian dari alam dan kehidupan bersama.
Namun, tidak semua umat dapat datang ke KPTT untuk belajar. Karena itu, KPTT memilih untuk mendatangi mereka.
Gagasan inilah yang menjadi bagian dari semangat “gerak keluar” KPTT. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimiliki KPTT dibawa langsung ke tengah umat melalui paroki-paroki.
Sejumlah paroki menyambut baik kegiatan tersebut karena Safari Ekologi sekaligus membantu mereka merealisasikan program lingkungan hidup di tingkat paroki.
Dari paroki menuju sekolah
Pelaksanaan Safari Ekologi disesuaikan dengan kondisi masing-masing paroki. Di Paroki Girisonta, kegiatan berlangsung sekitar pukul 07.00 hingga 12.00 dan di antara rangkaian kegiatan terdapat perayaan Misa. Di Paroki Bongsari, kegiatan direncanakan berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu, pada 3–4 Oktober. Sementara kegiatan di Gedangan dijadwalkan pada 18 Oktober.
KPTT berharap Safari Ekologi dapat berkembang menjadi program rutin sepanjang tahun. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing paroki. Ke depan, sasaran kegiatan juga akan diperluas ke sekolah-sekolah.
Dengan demikian, Safari Ekologi tidak berhenti sebagai kegiatan dalam rangka ulang tahun KPTT ke-61. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya membawa pendidikan ekologis lebih dekat kepada masyarakat.
Anak-anak belajar menanam. Orang tua belajar memanfaatkan ruang yang tersedia untuk pertanian. Umat diajak melihat hubungan antara pertanian, lingkungan, kesehatan, dan ketahanan pangan. Pada saat yang sama, mereka juga diajak membangun kembali hubungan dengan alam melalui pengalaman langsung.
Merawat KPTT dan melanjutkan karya
Bagi Bruder Dieng, pengalaman belajar pertanian dan peternakan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara manusia dan alam.
Safari Ekologi karena itu menjadi bentuk nyata dari tema “Dipanggil untuk Berakar, Diutus untuk Merawat.” KPTT tidak hanya mengajak umat untuk mengenal tanah dan tanaman, tetapi juga mengajak mereka mengalami kembali hubungan dengan alam dan meneruskan pengalaman itu dalam kehidupan sehari-hari. Di luar kegiatan Safari Ekologi, masyarakat yang tertarik mempelajari pertanian dan peternakan juga dapat datang ke KPTT untuk belajar.
“Setelah 61 tahun berkarya di bidang pertanian dan peternakan, KPTT kini membawa pengalaman tersebut keluar dari lingkungan lembaga menuju paroki, sekolah, keluarga, dan komunitas—agar semakin banyak orang dapat belajar menanam, merawat, dan pada akhirnya menemukan kembali kedekatannya dengan alam,”ujar Br. Dieng.
Dalam rangkaian peringatan ulang tahun ke-61, KPTT juga mengadakan penggalangan dana untuk renovasi asrama putra. Fasilitas KPTT yang telah digunakan selama 61 tahun sudah cukup tua dan membutuhkan renovasi. Penggalangan dana tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin mendukung. Anda yang ingin mendukung karya Serikat Jesus yang satu ini bisa menghubungi Bruder atau langsung transfer ke nomor rekening dan Kode QR di bawah ini.
Email: diengsj@jesuits.id
An. Yayasan Taman Tani, Bank Mandiri: 13600-30561-622, Bank BCA: 013-444-9191

