ROMA — Sepuluh tahun setelah Kongregasi Jenderal ke-36 (GC36), Serikat Jesus melihat tiga hal sebagai bagian penting dari warisan pertemuan tersebut: discernment bersama, kolaborasi yang lebih mendalam, dan jejaring yang lebih terarah.
Hal itu disampaikan Tom Greene, SJ, dalam artikel yang diterbitkan Kantor Komunikasi Kuria Jenderal Serikat Jesus pada 7 Oktober 2026. Menurut Greene, GC36 tidak hanya menghasilkan sejumlah dekret, tetapi juga memperjelas cara Serikat Jesus menjalankan misinya di tengah perubahan zaman.
Greene mengenang GC36 sebagai pengalaman yang mempertemukan para Jesuit dari berbagai belahan dunia untuk berdoa, berdiskusi, dan mencari kehendak Allah bagi masa depan Serikat Jesus. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai perjumpaan yang membawa penghiburan dan rasa syukur.
Namun, menurutnya, makna GC36 tidak berhenti pada pengalaman personal para peserta. Kongregasi tersebut memperjelas sebuah way of proceeding atau cara bertindak yang semakin penting bagi Serikat Jesus: membedakan bersama secara lebih setia, berkolaborasi secara lebih mendalam, dan membangun jejaring secara lebih sadar.
Belajar dari para sahabat pertama
Greene menjelaskan bahwa GC36 kembali melihat pengalaman historis dan spiritual para sahabat pertama Santo Ignatius Loyola di Venesia. Pengalaman tersebut kemudian direfleksikan untuk melihat apa yang dapat dipelajari Serikat Jesus pada zaman sekarang.
Dari refleksi itu muncul penekanan pada tiga karakter penting dalam diri seorang Jesuit maupun karya Jesuit: discernment, collaboration, dan networking.
Ketiga hal tersebut sebenarnya bukan gagasan baru. Namun, menurut Greene, GC36 memberikan perhatian khusus dengan menjadikannya sebagai dimensi penting dalam menjalankan misi Serikat Jesus. Kongregasi sebelumnya, misalnya, lebih banyak membahas tema-tema seperti pendidikan atau hidup religius.
Dengan melihat kembali pengalaman para sahabat pertama, para peserta GC36 secara bersama-sama merasakan panggilan untuk memperdalam cara Serikat Jesus melakukan discernment, berkolaborasi, dan membangun jejaring.
Discernment menjadi cara menjalankan misi
Dalam sepuluh tahun setelah GC36, tiga penekanan tersebut tidak berhenti sebagai gagasan yang dibicarakan dalam ruang sidang. Menurut Greene, ketiganya ikut membentuk cara baru Serikat Jesus menjalankan misi.
Salah satu contohnya adalah proses discernment bersama yang menghasilkan Universal Apostolic Preferences (UAP). Proses tersebut melibatkan para Jesuit dari berbagai provinsi dan regio, para rekan dalam misi, serta berbagai jejaring Serikat Jesus.
Proses discernment bersama itu kemudian menghasilkan empat prioritas apostolik yang menjadi fokus misi Serikat Jesus. UAP tersebut telah diteguhkan oleh Paus Fransiskus dan, menurut artikel Greene, juga oleh Paus Leo XIV.
Praktik discernment bersama itu kemudian terus dikembangkan dalam berbagai proses internal Serikat Jesus, termasuk pembahasan mengenai kaul kemiskinan dan penyusunan rencana provinsi.
Greene melihat perkembangan tersebut sebagai buah dari keterbukaan untuk mendengarkan Roh Kudus. Cara kerja yang lebih inklusif itu juga sejalan dengan perkembangan dalam Gereja Katolik yang semakin menekankan sinodalitas.
Dari “memiliki kolaborator” menjadi “menjadi kolaborator”
Pemahaman mengenai kolaborasi juga mengalami perkembangan. Greene mengutip penekanan Superior Jenderal Serikat Jesus, Arturo Sosa, mengenai perubahan cara pandang dari “having collaborators” menjadi “being collaborators”.
Perubahan istilah tersebut menunjukkan pergeseran pemahaman mengenai posisi umat awam dalam misi Serikat Jesus. Mereka tidak lagi sekadar dipandang sebagai orang-orang yang membantu karya para Jesuit. Banyak kolaborator awam kini ikut menopang dan mengembangkan misi bersama para Jesuit, bahkan dalam situasi ketika tidak ada Jesuit yang hadir.
Menurut Greene, perkembangan tersebut masih membutuhkan refleksi lebih lanjut. Pertemuan para Superior Mayor Serikat Jesus pada 2025, menurutnya, menunjukkan bahwa kolaborasi awam merupakan salah satu bidang yang akan terus berkembang, termasuk kemungkinan keterlibatan umat awam dalam tata kelola beberapa provinsi Serikat Jesus.
Dari “memiliki jejaring” menjadi “menjadi jejaring”
Hal serupa terjadi dalam cara Serikat Jesus memahami jejaring. Dengan menggunakan istilah yang pernah dikemukakan Sosa, Greene menyebut adanya pergeseran dari “having networks” menjadi “being networks”.
Jejaring, dalam pemahaman ini, bukan sekadar kumpulan lembaga yang memiliki daftar surat elektronik dan bertemu beberapa kali dalam setahun. Jejaring harus menjadi ruang untuk bekerja bersama dalam tema-tema yang sama, berbagi sumber daya, dan menggerakkan komunitas untuk melakukan aksi.
Greene memberi contoh jejaring yang bekerja bersama dalam berbagai tema serta mengerahkan sumber daya dan komunitas untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana alam.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Namun, perkembangan menuju jejaring yang autentik dan efektif menjadi sesuatu yang menggembirakan.
Bertemu sebagai “sahabat dalam Tuhan”
Pada bagian akhir refleksinya, Greene kembali mengenang pengalaman mengikuti GC36. Baginya, kemampuan para Jesuit dari berbagai negara untuk berkumpul, berdoa, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama merupakan sebuah anugerah.
Di tengah situasi dunia ketika banyak organisasi internasional menghadapi konflik dan perpecahan, pengalaman para Jesuit berkumpul sebagai “friends in the Lord” atau “sahabat dalam Tuhan” menjadi sesuatu yang patut disyukuri.
Pengalaman tersebut, menurut Greene, juga mencerminkan jenis penghiburan yang pernah ditekankan Paus Fransiskus kepada Serikat Jesus.
Sepuluh tahun setelah GC36, warisan kongregasi tersebut dengan demikian tidak hanya terlihat dalam dokumen dan dekret yang dihasilkan. Warisannya juga tampak dalam cara Serikat Jesus berusaha membedakan bersama, berkolaborasi dengan para mitra dalam misi, dan membangun jejaring yang mampu bergerak bersama untuk menjawab kebutuhan dunia.

