By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    10 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    7 months ago
    Latest News
    Meskipun….
    3 days ago
    Sebelum Laudato Si’, SD Kanisius Kenalan Sudah Merawat Lingkungan
    4 days ago
    Ziarah Batin Rosario: Mengubah Keputusasaan Menjadi Harapan
    5 days ago
    100 Tahun Gereja Kota Baru, Kini Giliran Generasi Berikutnya Bekerja
    6 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Ziarah Batin Rosario: Mengubah Keputusasaan Menjadi Harapan
    5 days ago
    Membangun Bumi dan Langit yang Baru dari Lingkungan Kita
    2 weeks ago
    Calon Arang dan Batas yang Kabur antara Cinta, Kebaikan, dan Kejahatan
    2 weeks ago
    Tuhan Bukan Pendukung Tim Mana Pun
    3 months ago
    Menulis untuk Menghidupkan Literasi: Jejak Sunyi Angela Yurmani Giawa
    3 months ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Katekismus Laudato Si’ Tak Dicetak Ulang, Kini Tersedia dalam Edisi Digital
    4 days ago
    Paus Leo XIV Soroti Bahaya Clickbait dalam Pesan Hari Komunikasi Sosial 2027
    4 days ago
    Becoming Christ’s Influencers: Asian Digital Missionaries Called to “Whisper” Jesus
    3 weeks ago
    Asia’s First Catholic Digital Missionary Assembly Opens New Path for Digital Mission
    3 weeks ago
    Asian Digital Missionaries Urged to Move from Influencers to Witnesses
    3 weeks ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    10 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    10 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    1 year ago
    Latest News
    100 Tahun Gereja Kota Baru, Kini Giliran Generasi Berikutnya Bekerja
    6 days ago
    KPTT Salatiga Menggerakkan Safari Ekologi: Dipanggil untuk Berakar, Diutus untuk Merawat
    2 weeks ago
    Misa Syukur UGM 2026, Romo Tanto Ajak Mahasiswa Tidak Membawa “Tong Sampah” Luka ke Tahun Akademik Baru
    2 weeks ago
    Menggambar sebagai Jalan Kebebasan: Romo Danang Belajar dari Anak-anak Pemulung
    3 weeks ago
  • Yayasan Sesawi
    • VISI MISI YAYASAN SESAWI
    • Susunan Pengurus Yayasan
    • ALAMAT KANTOR YAYASAN SESAWI
    • DONASI untuk YAYASAN SESAWI
    • Dukung Panggilan
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    6 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    6 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    6 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    5 months ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    6 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    6 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    6 months ago
  • Dupang
Reading: Kita Seperti Nuh yang Sedang Menunggu Air Surut
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
IDEARenungan

Kita Seperti Nuh yang Sedang Menunggu Air Surut

Ketika akhirnya Nuh dan keluarganya menapakkan kaki di tanah kering, tindakan pertama yang ia lakukan bukanlah membangun tempat tinggal.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: February 18, 2025 9:24 am
By Gabriel Abdi Susanto 2 years ago
Share
4 Min Read
SHARE

RABU, 19 Februari 2025

Setelah empat puluh hari berlalu, Nuh membuka jendela bahtera dan melepaskan burung-burung ke langit. Seekor burung gagak terbang tanpa arah, sementara burung merpati kembali karena belum menemukan tempat untuk beristirahat. Namun, harapan muncul ketika merpati itu akhirnya kembali dengan sehelai daun zaitun di paruhnya. Itu adalah pertanda bahwa air bah mulai surut, bahwa kehidupan dapat dimulai kembali. Kejadian 8:6-13 bukan hanya kisah tentang bertahannya manusia dan binatang dari bencana besar, tetapi juga tentang kesabaran dalam menantikan tanda pemulihan. Nuh tidak tergesa-gesa, ia menunggu dengan iman, memahami bahwa pemulihan sejati berasal dari Tuhan.

Ketika akhirnya Nuh dan keluarganya menapakkan kaki di tanah kering, tindakan pertama yang ia lakukan bukanlah membangun tempat tinggal, melainkan membangun mezbah. Dalam Kejadian 8:20-22, persembahan syukur yang ia naikkan melambangkan pengakuan atas kasih setia Tuhan. Tuhan, yang melihat hati manusia cenderung jahat sejak kecil, tetap berjanji untuk tidak lagi menghancurkan bumi dengan air bah. Janji itu bukanlah jaminan bahwa manusia akan selalu setia, melainkan sebuah perjanjian kasih yang bertahan di tengah kerapuhan manusia. Walter Brueggemann dalam “Genesis: Interpretation” (1982) menyebut momen ini sebagai “restorasi hubungan yang bukan berdasarkan kelayakan manusia, melainkan kemurahan hati Tuhan.”

Di seberang waktu dan sejarah, Markus 8:22-26 juga mengisahkan proses pemulihan, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Yesus dan murid-muridnya tiba di Betsaida, dan seorang buta dibawa kepada-Nya. Dengan penuh kelembutan, Yesus memimpin orang itu ke luar desa, menjamah matanya, dan bertanya, “Sudahkah engkau melihat sesuatu?” Yang buta itu mulai melihat, tetapi belum jelas. Maka Yesus kembali menjamahnya, dan penglihatannya pun menjadi sempurna.

Mengapa Yesus menyembuhkan secara bertahap? NT Wright dalam “Mark for Everyone” (2001) menjelaskan bahwa kisah ini bukan hanya tentang kesembuhan fisik, tetapi juga tentang perjalanan iman. Sama seperti air bah yang tidak surut dalam sekejap, pemulihan sering kali terjadi dalam tahapan, dalam proses yang mengajarkan kepercayaan dan ketekunan. Orang buta itu melambangkan para murid yang belum sepenuhnya memahami siapa Yesus. Mereka telah melihat mukjizat-mukjizat-Nya, tetapi belum menangkap sepenuhnya makna kehadiran-Nya. Seperti burung merpati yang kembali sebelum menemukan tempat beristirahat, pemahaman iman sering kali tidak langsung sempurna—ia membutuhkan waktu, pengalaman, dan sentuhan kedua dari Tuhan.

Ketika Nuh mempersembahkan kurban syukur, ia menatap langit yang baru setelah badai besar. Ketika orang buta itu mulai melihat, ia menatap dunia dengan mata yang diperbarui. Keduanya mengalami kasih Tuhan yang tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga memulihkan. Henri Nouwen dalam “The Return of the Prodigal Son” (1992) menulis bahwa perjalanan iman adalah perjalanan yang sering kali penuh ketidaktahuan, namun di tengah perjalanan itu, Tuhan selalu memberikan tanda-tanda harapan.

Kita semua, dalam banyak cara, adalah seperti Nuh yang menunggu air surut atau seperti orang buta di Betsaida yang masih berusaha melihat dengan jelas. Namun, dalam setiap proses itu, ada janji pemulihan, ada tangan Tuhan yang setia membimbing, ada harapan yang menguatkan. Dan ketika saatnya tiba, seperti Nuh yang menghirup udara segar di tanah yang kering, atau seperti si buta yang akhirnya dapat melihat dengan jelas, kita akan menyadari bahwa Tuhan telah menyertai setiap langkah kita.

Daftar Pustaka:

  • Brueggemann, Walter. Genesis: Interpretation. Atlanta: John Knox Press, 1982.
  • Nouwen, Henri. The Return of the Prodigal Son. New York: Doubleday, 1992.
  • Wright, N.T. Mark for Everyone. Louisville: Westminster John Knox Press, 2001.

You Might Also Like

Ziarah ke Makam Paus Fransiskus; Kesederhanaan Itu Menyentuhku

Nilai Hidup Bukan pada Apa yang Kita Miliki

Wasiat Paus Fransiskus Terkait Penguburannya

Kesetiaan Allah Tak Pernah Gagal Menopang Mereka yang Berharap Pada-Nya

Allah Mengikat Perjanjian dengan Abraham

TAGGED:air surutheadlinehendri nouwennuh
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Semuanya Memiliki Alasan
Next Article Dan Tuhan Membentangkan Pelangi di Langit
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Meskipun….
  • Katekismus Laudato Si’ Tak Dicetak Ulang, Kini Tersedia dalam Edisi Digital
  • Paus Leo XIV Soroti Bahaya Clickbait dalam Pesan Hari Komunikasi Sosial 2027
  • Sebelum Laudato Si’, SD Kanisius Kenalan Sudah Merawat Lingkungan
  • Ziarah Batin Rosario: Mengubah Keputusasaan Menjadi Harapan

Recent Comments

  1. odemus witono on Aku Percaya Pengampunan Dosa: Dari Kegelapan Trauma Menuju Rahmat Transendental
  2. Anita on Aku Percaya Pengampunan Dosa: Dari Kegelapan Trauma Menuju Rahmat Transendental
  3. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  4. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  5. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?