Yogyakarta, 12 September 2026 — Tahun akademik baru bukan hanya tentang kembali ke ruang kuliah, bertemu teman, menyelesaikan tugas, atau mengejar capaian akademik. Bagi Vikaris Episkopalis Yogyakarta Timur Romo Marcelinus Tanto, Pr., awal tahun akademik juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang selama ini dibawa dalam perjalanan hidup—termasuk kesalahan, kekecewaan, dendam, dan luka yang belum selesai.
Pesan itu disampaikan Romo Tanto dalam homili pada Misa Syukur Universitas Gadjah Mada (UGM) 2026 di Kapel St. Athanasius, kompleks Fasilitas Kerohanian UGM, Sabtu (12/9/2026). Misa tersebut menjadi bagian dari perayaan pembukaan Tahun Akademik 2026/2027.
Romo Tanto mengawali homilinya dengan mengakui bahwa pesan bacaan Kitab Suci pada sore itu bukanlah pesan yang ringan. Bacaan berbicara tentang kesalahan dan pengampunan, sementara para mahasiswa sendiri sedang memasuki tahun akademik baru yang sudah memiliki tantangan tersendiri.
Ia mengajak umat tidak buru-buru menghindari pesan yang terasa berat, tetapi justru mencoba menemukan sesuatu yang dapat disyukuri di dalamnya.
Menurut Romo Tanto, kehidupan manusia memang tidak selalu berjalan dalam keadaan baik. Ada saat-saat ketika seseorang mengalami situasi yang naik dan turun, melakukan kesalahan, merasa kesal, mengalami kekecewaan, kemudian berhadapan dengan kebutuhan untuk mengampuni. Karena itu, pesan tentang kesalahan dan pengampunan dalam Injil dapat sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut terutama relevan bagi mahasiswa yang sedang menjalani berbagai dinamika kehidupan di perguruan tinggi. Ada mahasiswa yang sudah satu atau dua tahun berada di UGM dan memasuki semester baru. Ada pula mahasiswa baru yang baru saja datang ke Yogyakarta dari berbagai daerah. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, mencari tempat tinggal, mengenal teman-teman baru, hingga menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan kehidupan sebagai mahasiswa.
Romo Tanto menggambarkan situasi itu dengan humor yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ada yang sibuk mencari tempat kos melalui internet, mencari berbagai kebutuhan perkuliahan, bahkan mahasiswa baru harus memikirkan berbagai perlengkapan yang diperlukan untuk menjalani kehidupan di Yogyakarta.
Namun, di tengah semua itu, menurut Romo Tanto, ada satu hal yang sering kali tidak disadari: seseorang bukan hanya membawa barang-barang fisik ketika kembali ke tempat kuliah, tetapi juga dapat membawa beban emosional dari masa lalu.
Pengampunan Bukan Matematika
Dalam homilinya, Romo Tanto kemudian mengajak umat memahami jawaban Yesus kepada Petrus mengenai berapa kali seseorang harus mengampuni saudaranya yang berbuat salah.
Petrus bertanya apakah pengampunan harus diberikan sampai tujuh kali. Yesus menjawab bukan hanya tujuh kali, melainkan “sampai 70 kali tujuh kali”. Bagi Romo Tanto, jawaban tersebut bukanlah ajakan untuk menghitung pengampunan hingga angka tertentu.
Ia menyebutnya sebagai “matematika Yesus”, yang berbeda dengan matematika manusia. “Apakah kemudian kita itu terus menghitung sampai 490? Tidak. Pengampunan itu bukan matematika. Pengampunan itu juga bukan sistem poin yang kemudian ada limitnya, ada kuotanya,” ujar Romo Tanto.
Pengampunan, lanjutnya, tidak memiliki batas seperti sebuah kuota. Persoalannya kemudian adalah apakah manusia bersedia menjadikan Tuhan sebagai ukuran, atau tetap menjadikan dirinya sendiri sebagai ukuran.
Menurut Romo Tanto, ketika ukuran yang digunakan adalah diri sendiri, manusia akan cenderung membuat batas. Seseorang akan mengingat berapa kali dirinya telah disakiti, seberapa besar kesalahan orang lain, atau berapa kali ia harus memberikan kesempatan.
Namun, ketika ukuran yang digunakan adalah kasih Tuhan, pengampunan menjadi sesuatu yang tidak terbatas.
Romo Tanto kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki utang sangat besar kepada rajanya. Utang itu begitu besar sehingga secara manusiawi hampir tidak mungkin dilunasi. Namun, sang raja memilih menghapus seluruh utang tersebut.
Persoalannya, setelah menerima pengampunan yang begitu besar, hamba itu justru tidak mampu memberikan pengampunan kepada orang lain yang memiliki utang jauh lebih kecil kepadanya.
Di sinilah, menurut Romo Tanto, manusia sering kali berada dalam situasi yang sama. Ketika datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan, manusia berharap Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Namun, ketika orang lain melakukan kesalahan terhadap dirinya, memberikan pengampunan ternyata tidak selalu mudah.
“Berbuat salah itu manusiawi, tapi mengampuni itu adalah tindakan ilahi,” tegasnya.
Bukan Hanya Mengampuni Orang Lain
Yang menarik, Romo Tanto tidak berhenti pada ajakan untuk mengampuni orang lain. Ia juga membawa umat pada persoalan yang lebih personal: mengampuni diri sendiri.
Menurutnya, manusia dapat mengalami kekecewaan atau peristiwa berat yang terus membebani dirinya. Luka tersebut dapat membuat seseorang sulit melangkah karena pikirannya terus kembali kepada apa yang telah terjadi.
Karena itu, pengampunan tidak hanya berkaitan dengan orang yang telah menyakiti kita. Ada kalanya seseorang juga perlu berdamai dengan dirinya sendiri.
Romo Tanto mengajak mahasiswa menggunakan awal tahun akademik sebagai momentum untuk memulai kembali perjalanan. Setelah masa liburan berakhir, mahasiswa kembali ke kampus dengan berbagai perlengkapan. Ada bekal yang dibawa orang tua, perlengkapan untuk kamar kos, rice cooker, hingga bantal dan guling.
Semua itu adalah barang-barang yang membantu mahasiswa menjalani kehidupannya dengan lebih nyaman.
Tetapi, kata Romo Tanto, jangan sampai ada “barang bawaan” lain yang ikut dibawa: dendam, kekesalan, kekecewaan, dan luka lama.
“Dendammu juga kadang kala bisa dibawa datang ke tempat ini. Kekesalanmu kadang kala juga dibawa. Luka yang dulunya di sana juga datang ke sini ikut dibawa,” ujarnya.
Beban semacam itu, menurutnya, sering kali dibawa tanpa disadari.

“Jangan Membawa Tong Sampah”
Dari gambaran itulah muncul salah satu bagian paling kuat dalam homili Romo Tanto: jangan membawa “tong sampah” ke dalam tahun akademik yang baru.
Ia menggambarkan dendam dan luka sebagai sesuatu seperti tong sampah yang terus dibawa ke mana-mana. Padahal, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa saja sudah memiliki banyak tantangan. Karena itu, tidak perlu menambah beban dengan membawa terus berbagai luka yang seharusnya mulai dilepaskan.
Romo Tanto mengajak mahasiswa masuk ke dalam keheningan dan berbicara kepada Tuhan melalui doa.
Mahasiswa diajak berani mengakui: ada kekesalan, ada kekecewaan, ada luka. Bukan untuk terus memeliharanya, tetapi untuk menghadapinya di hadapan Tuhan.
Ia menyadari bahwa proses tersebut tidak mudah. Namun, menurutnya, langkah pertama adalah menerima kenyataan bahwa luka itu memang ada.
Setelah mengakuinya, seseorang dapat memohon rahmat Tuhan agar mampu mengampuni dirinya sendiri dan menerima pengalaman berat tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Romo Tanto kemudian menggunakan istilah yang sangat dekat dengan kehidupan digital mahasiswa: “empty recycle bin.”
Jika dendam dan luka diibaratkan sebagai isi tong sampah, maka mahasiswa diajak secara perlahan mengosongkannya. Bukan dengan menghapus pengalaman seolah-olah pengalaman tersebut tidak pernah terjadi, tetapi dengan memohon rahmat agar luka itu tidak lagi menjadi beban yang menghalangi langkah.
“Memohon rahmat supaya menerima luka-luka itu supaya tidak membebani ketika saya melangkah,” katanya.
Dengan cara itu, pengampunan menjadi sebuah proses spiritual. Seseorang tidak sekadar mengatakan bahwa dirinya sudah memaafkan, tetapi terus memohon rahmat Tuhan untuk mampu melepaskan beban yang masih melekat.
Masa Lalu Tidak Bisa Diubah
Bagi Romo Tanto, pesan pengampunan tersebut menjadi penting justru karena mahasiswa sedang berada di awal perjalanan yang baru. Ia mengajak mahasiswa tidak terus-menerus terjebak dalam apa yang sudah terjadi.
Masa lalu tidak dapat diubah, tetapi masa depan masih dapat dirangkai dan diupayakan. Karena itu, awal tahun akademik dapat menjadi kesempatan untuk berjalan dengan langkah yang lebih ringan. Masih ada banyak hal yang akan dihadapi di depan. Akan ada tantangan baru, tugas baru, perjumpaan baru, dan berbagai pengalaman baru.
Semua itu akan lebih mudah dijalani apabila seseorang tidak terus menambah beban dirinya dengan hal-hal yang sebenarnya sudah terjadi.
“Sudah masa lalu itu masih ada masa depan. Masa lalu gak bisa diubah. Masa depan yang terus kita bisa rangkai, kita bisa upayakan,” kata Romo Tanto.
Karena itu, ia mengajak umat memohon rahmat Allah agar pengampunan dapat meringankan langkah mereka dalam menjalani perjalanan selanjutnya.
Pesan tersebut kemudian diteruskan dalam doa umat setelah homili. Umat memohon agar pengalaman menerima kasih dan pengampunan Allah mendorong mereka membawa “kegembiraan pengampunan kepada dunia”. Doa juga dipanjatkan bagi para pemimpin Gereja, para pemimpin masyarakat, serta seluruh sivitas akademika UGM.
Mahasiswa Tidak Berjalan Sendirian
Pesan Romo Tanto mengenai keberanian memulai kembali kemudian mendapat dimensi pastoral melalui pengantar Rm. Agustinus Daryanto, SJ, Pastor Pendamping Mahasiswa – Pastoral Mahasiswa Yogyakarta.
Dalam sambutannya setelah Misa, Rm. Daryanto juga memperkenalkan para frater yang akan mendampingi keluarga mahasiswa Katolik di berbagai fakultas UGM.
Ia menyampaikan rasa syukur karena komunitas Katolik di UGM terus bertumbuh dan semakin memiliki bentuk. Menurutnya, kehadiran Kapel St. Athanasius menjadi penting karena tempat tersebut dapat menjadi “rumah” bagi komunitas Katolik UGM.
Rm. Daryanto juga mengapresiasi dukungan UGM terhadap kegiatan kerohanian komunitas Katolik, serta peran dosen dan tenaga kependidikan Katolik yang ikut mendampingi mahasiswa, termasuk ketika mahasiswa membutuhkan tempat untuk berkonsultasi, berbagi persoalan, maupun mencari dukungan dalam berbagai kebutuhan mereka.
Menurutnya, pendampingan itu merupakan bagian dari kehadiran Gereja di tengah kehidupan mahasiswa. Karena itu, para frater yang diperkenalkan akan menjadi pendamping bagi kelompok-kelompok mahasiswa Katolik di berbagai fakultas UGM. Ia berpesan agar para mahasiswa menerima dan membuka diri terhadap kehadiran para pendamping tersebut.
Dengan gaya yang ringan, ia bahkan mengatakan, “Jangan dicuekin. Kalau di-chat dibalas WA.” Ia menyebut kehadiran para frater tersebut sebagai salah satu bentuk nyata kehadiran Gereja untuk menemani perjalanan iman mahasiswa di UGM.
Pada akhirnya, homili Romo Tanto dan pengantar Rm. Daryanto menghadirkan dua sisi yang saling melengkapi dalam mengawali tahun akademik baru. Romo Tanto mengajak mahasiswa melihat ke dalam diri—mengakui luka, belajar mengampuni, dan melepaskan beban masa lalu. Sementara Rm. Daryanto mengingatkan bahwa dalam perjalanan itu mahasiswa tidak sendirian karena ada komunitas dan Gereja yang hadir untuk mendampingi.
Dengan hati yang lebih ringan dan dukungan komunitas, mahasiswa diajak memasuki Tahun Akademik 2026/2027 bukan hanya untuk mengejar keberhasilan akademik, tetapi juga untuk bertumbuh dalam iman dan menjadi pribadi yang mampu menghadirkan kasih serta pengampunan bagi sesama.

