MUNTILAN — Bagi Romo Danang Bramasti, menggambar bukan sekadar kegiatan membuat garis, bentuk, dan warna di atas kertas. Sejak kecil, menggambar telah menjadi cara dia untuk bercerita dan mengungkapkan apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami.
“Menurut orang tua, saya mulai melukis saat masih balita,” ujar Romo Danang. Ia mengenang masa kecil ketika dirinya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggambar. Bahkan, ketika sebuah gambar belum selesai, ia tidak berhenti meskipun harus menggambar hingga tengah malam.
Apa yang digambarnya pun sederhana: apa saja yang ia lihat dan menarik perhatiannya, terutama ketika bepergian bersama keluarga.
Bagi Romo Danang, kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi sebuah cara untuk berbicara. Sebagai seorang imam Yesuit, ia melihat menggambar sebagai cara bercerita secara merdeka.
“Sebagai seorang Imam Yesuit pun menggambar adalah bercerita dengan merdeka,” katanya. Melalui gambar, seseorang dapat menyampaikan sesuatu tanpa harus takut apakah orang lain akan langsung memahami atau menyukainya.
Justru, ketika sebuah lukisan tidak mudah dicerna, ia makin tertarik. Ada ruang bagi orang lain untuk bertanya dan mencari tahu cerita di balik gambar tersebut.
Belajar dari Anak-anak Pemulung
Kecintaan Romo Danang pada dunia gambar kemudian membawanya pada pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan seni.
Ketika kuliah di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung, ia mulai mengajar menggambar. Ia masuk UNPAR pada 1988 dan sekitar 1992, ketika aktivitas perkuliahan mulai tidak terlalu padat, ia mulai mengajar anak-anak menggambar.
Anak-anak yang datang ternyata bukan hanya anak sekolah. Banyak di antara mereka adalah anak-anak pemulung yang tinggal di rumah-rumah kontrakan di sekitar Simpang Dago, Bandung. Dan ia terkejut melihat cara mereka menggambar.
Anak-anak pemulung dan anak jalanan itu menggambar dengan bebas. Mereka tidak terlalu memikirkan apakah gambarnya bagus atau jelek, apakah akan dinilai, atau apakah akan dimarahi.
Sebaliknya, anak-anak sekolah yang mengikuti kegiatan tersebut cenderung lebih berhati-hati. Mereka ragu-ragu, bahkan sering mengganti kertas ketika merasa gambarnya tidak bagus.
Pengalaman tersebut membuat Romo Danang teringat pada pengalaman masa sekolahnya sendiri. Ia pernah menggambar sebuah pohon dengan daun berwarna merah. Guru memarahinya di depan kelas karena menurut sang guru daun seharusnya berwarna hijau. Padahal, daun berwarna merah yang digambarnya merupakan gambaran dari apa yang ia lihat di rumah.
Pada kesempatan lain, gambar orang yang dibuatnya juga dikoreksi langsung oleh guru menggunakan bolpoin. Sejak saat itu, ia mengaku kehilangan semangat untuk menggambar dalam konteks pelajaran di sekolah.
Pengalaman masa kecil tersebut kembali muncul ketika ia melihat anak-anak pemulung menggambar tanpa rasa takut. “Mereka tidak takut akan dimarahi gurunya, dinilai, dikritisi, dianggap jelek,” ujarnya.
Dari situlah ia justru merasa bahwa dirinya mulai lagi belajar menggambar. “Sebenarnya saya tidak mengajar anak-anak menggambar, tapi justru sebaliknya saya belajar menggambar dari mereka,” katanya.
Ia mengingat ungkapan Pablo Picasso bahwa gambar terbaik adalah gambar anak-anak. Bagi Romo Danang, pengalaman bersama anak-anak pemulung dan anak jalanan membuatnya menemukan kembali kebebasan yang pernah hilang dalam dirinya.
Gambar yang Menceritakan Kehidupan
Yang menarik bagi Romo Danang adalah isi gambar anak-anak tersebut. Anak-anak pemulung tidak sekadar menggambar objek yang diperintahkan. Mereka menggambar kehidupan mereka sendiri. Sambil menggambar, mereka bercerita tentang kegiatan sehari-hari, termasuk pengalaman ketika memulung atau mengemis di jalan.
Salah satu gambar yang paling membekas dalam ingatannya adalah gambar sebuah rumah dengan titik-titik hujan yang masuk hingga ke dalam rumah. Romo Danang kemudian mendatangi rumah anak tersebut. Ia terkejut ketika melihat bahwa rumah yang ditempati anak itu ternyata hanya terbuat dari kardus, seperti kardus televisi atau lemari es.
“Tidak heran gambar rumah mereka itu ketika hujan ya sampai masuk ke rumah,” katanya.
Gambar tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa anak-anak menggambar berdasarkan apa yang benar-benar mereka alami dan rasakan. Pengalaman itu membuat Romo Danang semakin yakin bahwa belajar menggambar secara otentik merupakan sesuatu yang penting.
Di sekolah, anak-anak sering kali belajar menggambar dengan berbagai aturan: warna harus rapi, tidak boleh keluar garis, tidak boleh kotor, dan harus mengikuti instruksi tertentu. Dalam kelas yang ia dampingi, anak-anak justru diberi ruang untuk bebas.
Bahkan, anak-anak sekolah akhirnya memiliki dua versi gambar: satu gambar untuk memenuhi tugas di sekolah dan satu lagi gambar yang mereka buat untuk “Om Danang”, panggilan mereka kepada Romo Danang ketika mengajar menggambar di Bandung.

Menggambar untuk Berani Bersuara
Bagi Romo Danang, pengalaman tersebut akhirnya tidak berhenti pada kegiatan menggambar. Ia melihat seni sebagai salah satu cara mendampingi dan mendidik anak-anak agar berani menjadi diri sendiri. “Jangan takut, beranilah bersuara secara otentik apa adanya,” pesannya.
Anak-anak didorong untuk menggambar apa yang mereka lihat dan rasakan. Dari warna dan bentuk yang mereka pilih, Romo Danang bahkan dapat menangkap suasana hati mereka. Ia pernah bertanya kepada seorang anak mengapa wajah yang digambarnya menggunakan begitu banyak warna. Jawaban anak itu sederhana sekaligus sangat jujur: “Karena perasaan saya nano-nano.”
Bagi Romo Danang, jawaban tersebut menunjukkan bagaimana anak dapat mengekspresikan perasaan secara jujur ketika diberi ruang untuk melakukannya.
Karena itu, ia berharap pengalaman menggambar tidak hanya membuat anak-anak mampu menghasilkan karya seni. Lebih jauh, mereka diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berani berbicara, menyampaikan pendapat, mengemukakan ide, dan mengekspresikan diri dalam kehidupan sehari-hari.
“Menggambar dengan demikian bagi saya adalah cara saya berbicara dengan merdeka,” kata Romo Danang.
Lihat Koleksi Lukisan Anak-anak yang diajari Rm Danang Bramasti
Anda yang tertarik untuk membeli dipersilakan kontak langsung ke Rm Danang Bramasti SJ. Seluruh dana hasil penjualan digunakan untuk keperluan sekolah Kanisius Cabang Magelang
