Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengajak Gereja Kota Baru tidak berhenti pada nostalgia satu abad, tetapi meneruskan jejak rahmat melalui Gereja yang semakin terbuka, peka, dan hadir bagi masyarakat.
YOGYAKARTA — Perayaan 100 tahun Gereja Santo Antonius Padua Kota Baru Yogyakarta tidak dimaksudkan sebagai titik akhir sebuah perjalanan. Bagi Mgr. Robertus Rubiyatmoko, satu abad sejarah justru menjadi momentum untuk bertanya lebih jauh: setelah pesta perayaan selesai, apa yang akan dikerjakan Gereja Kota Baru untuk memasuki abad berikutnya?
Pertanyaan itu disampaikan Uskup Agung Semarang dalam homili Misa Syukur 100 Tahun Gereja Santo Antonius Padua Kota Baru, Sabtu, 26 September 2026. Perayaan tersebut mengusung tema “Gereja Kota Baru: Teman Seperjalanan dalam Pengharapan.”
Mgr. Rubiyatmoko menegaskan, 100 tahun Gereja Kota Baru tidak pertama-tama harus dilihat dari bangunan yang telah berdiri selama satu abad. Yang lebih penting adalah perjalanan umat yang bersama-sama membentuk komunitas iman dan terus menghidupkan Gereja dari generasi ke generasi.
Karena itu, perayaan satu abad tidak boleh berhenti pada mengenang sejarah, menyelenggarakan pesta, atau menerbitkan buku. “Seratus tahun yang lalu orang lain telah bekerja di kebun anggur ini. Sekarang giliran kita untuk bekerja,” demikian inti ajakan Mgr. Rubiyatmoko dalam homilinya.
Bagi Uskup Agung Semarang, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena Gereja memasuki zaman dengan tantangan yang terus berubah. Gereja Kota Baru tidak cukup hanya mempertahankan apa yang telah diwariskan. Ia perlu membaca kebutuhan manusia pada zaman sekarang dan masa yang akan datang.
Dari tujuh jejak rahmat menuju jejak baru
Perjalanan satu abad Gereja Kota Baru telah dirangkum dalam buku Tujuh Jejak Rahmat. Mgr. Rubiyatmoko melihat buku tersebut bukan sekadar dokumentasi sejarah, tetapi sebagai bahan untuk membaca pengalaman iman dan menentukan langkah selanjutnya.
Tujuh jejak itu mencakup awal misi abad ke-20, kekhasan Gereja Kota Baru sebagai gereja yang terbuka, perhatian terhadap kaum muda, kerja sama lintas agama, pelayanan sosial, serta tantangan Gereja untuk terus bergerak ke depan.
“Tujuh Jejak Rahmat” tersebut, menurutnya, tidak boleh hanya disimpan sebagai kenangan. Pengalaman iman selama satu abad harus dikembangkan menjadi langkah baru. Karena itu, ia mengajak umat menemukan apa yang disebutnya sebagai “bundelan kedelapan”.
Bundelan kedelapan itu adalah Gereja yang semakin terbuka bagi semua orang; Gereja tempat setiap orang dapat menemukan Tuhan, menemukan sahabat, dan akhirnya menemukan pengharapan dalam kehidupan.
Dengan demikian, warisan 100 tahun pertama bukan sesuatu yang hanya disimpan, melainkan sesuatu yang ditanamkan kepada generasi berikutnya. “Warisan terbaik 100 tahun pertama bukanlah sesuatu yang kita simpan, namun mesti kita tanamkan pada generasi berikutnya,” demikian pesan Mgr. Rubiyatmoko.
Gereja terbuka harus semakin peka
Bagi Mgr. Rubiyatmoko, semangat keterbukaan menjadi salah satu kekhasan yang perlu terus dikembangkan oleh Gereja Kota Baru. Keterbukaan tersebut bukan sekadar membuka pintu gedung gereja. Gereja juga dipanggil untuk membuka hati dan tangan bagi mereka yang membutuhkan.
Orang muda harus merasa diterima. Anak-anak perlu menemukan ruang untuk bertumbuh. Keluarga-keluarga yang menghadapi persoalan perlu didampingi. Lansia tidak boleh ditinggalkan. Mereka yang miskin, difabel, kesepian, terluka, maupun mereka yang sedang mencari Tuhan perlu menemukan tempat di mana mereka tidak dihakimi, tetapi ditemani.
Dalam konteks tersebut, Mgr. Rubiyatmoko juga mengingatkan bahwa pelayanan sosial Gereja harus terus membaca kenyataan masyarakat.
Ia menyinggung semakin banyaknya dana sosial yang tersalurkan sebagai sesuatu yang menggembirakan sekaligus perlu menjadi perhatian. Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan bahwa dana sosial menjangkau orang-orang yang membutuhkan. Namun di sisi lain, meningkatnya kebutuhan dapat menjadi tanda adanya persoalan ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat.
Gereja, karena itu, dipanggil untuk memiliki kepekaan hati dan keterbukaan terhadap realitas yang terjadi di sekitarnya.
Seluruh paroki menjadi ruang pembinaan iman
Memasuki abad kedua, Mgr. Rubiyatmoko juga mengingatkan pentingnya pembinaan iman yang tidak berhenti pada perayaan-perayaan sakramental.
Seluruh kehidupan paroki, menurutnya, perlu menjadi ruang formasi iman, mulai dari anak-anak, kaum muda, orang dewasa hingga lanjut usia. Gereja tidak cukup menjadi tempat umat datang untuk mengikuti Ekaristi, tetapi menjadi ruang untuk menemukan Tuhan dan bertumbuh sebagai murid Kristus bersama orang lain.
Semangat tersebut membutuhkan kebersamaan.
Mengutip pesan Rasul Paulus dalam bacaan kedua, Mgr. Rubiyatmoko mengajak umat untuk sehati dan sepikir, tidak mencari kepentingan sendiri, melainkan memberikan perhatian kepada orang lain serta meneladan Kristus yang mengosongkan diri untuk melayani.
Dengan semangat itu, berjalan bersama berarti bukan hanya berjalan berdampingan, tetapi juga berdialog, berembuk, mengambil keputusan bersama, dan menghadapi tantangan bersama.
Kota Baru sebagai laboratorium misi dan pastoral
Ajakan untuk memasuki abad kedua dengan keberanian membaca tanda-tanda zaman mendapat penguatan dari Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ, Provinsial Serikat Yesus Provinsi Indonesia.
Mewakili Provinsi Indonesia Serikat Yesus, Rm. Bagus menyebut Gereja Kota Baru sebagai “laboratorium misi” dan “laboratorium pastoral”. Menurutnya, sepanjang sejarahnya Gereja Kota Baru telah menjadi ruang untuk membaca tantangan secara lebih tajam dan mencari tanggapan pastoral yang kreatif.
Ia melihat karakter tersebut dalam berbagai perkembangan Gereja Kota Baru, mulai dari misi, pastoral, perhatian terhadap kaum muda, eklesiologi, hingga pelayanan sosial dan gagasan tentang Gereja yang terbuka.
Karena itu, memasuki seratus tahun kedua, tantangannya bukan menjadi sama seperti sebelumnya, melainkan tetap memiliki keberanian untuk membaca perubahan dan meresponsnya.
Rm. Bagus menegaskan bahwa “laboratorium” yang dimaksud bukan tempat mencoba-coba tanpa arah, melainkan ruang untuk melihat kenyataan dengan teliti, mencurahkan energi, merespons secara kreatif, dan mengajak semakin banyak orang terlibat.

Teman seperjalanan bukan sekadar slogan
Sementara itu, Rm. Marcellinus Tanto, Pr, Vikaris Episkopal Yogyakarta Timur, menyoroti tema “Teman Seperjalanan dalam Pengharapan” dari sisi pribadi-pribadi yang menghidupkan perjalanan Gereja.
Menurutnya, perjalanan 100 tahun tidak terutama berbicara tentang “apa”, tetapi tentang “siapa”—orang-orang yang sejak awal menanamkan dan meneruskan kehidupan iman di Gereja Kota Baru.
Para misionaris, imam, umat, kaum muda, pengurus, kelompok kategorial, dan banyak pribadi lainnya menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Karena itu, Gereja Kota Baru diharapkan sungguh-sungguh menjadi teman seperjalanan bagi siapa pun yang datang. Gereja tidak dibatasi hanya oleh ikatan teritorial, tetapi membuka diri kepada siapa saja yang berkehendak baik dan ingin terlibat dalam kehidupan komunitas.
Keterbukaan itu juga mencakup mereka yang tersingkir, difabel, dan berkekurangan.
Rm. Tanto menilai perjalanan Gereja Kota Baru selama ini telah menjadi bagian dari dinamika pastoral yang memberi inspirasi, bahkan menjadi semacam laboratorium karya pastoral bagi lingkungan Gereja yang lebih luas.
Seabad yang berawal dari karya misi
Gagasan tentang Gereja terbuka dan laboratorium pastoral tersebut memiliki akar panjang dalam sejarah Gereja Kota Baru.
Karya misi di kawasan Yogyakarta berkembang pada awal abad ke-20. Pada 1918, Romo Fransiskus Strater, SJ, menggunakan sebuah rumah di kawasan Kota Baru sebagai pastoran, tempat pengajaran agama, tempat ibadah, sekaligus tempat pembinaan.
Perkembangan karya tersebut kemudian berkaitan erat dengan pembangunan Kolese Santo Ignatius atau Kolsani. Ketika kapel kolese tidak lagi mampu menampung pertumbuhan umat, muncul kebutuhan untuk membangun gereja yang lebih besar.
Pada 26 September 1926, gedung Gereja Santo Antonius Padua diberkati oleh Mgr. A. van Velsen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia pada masa itu. Nama Santo Antonius dari Padua dipilih sebagai pelindung gereja.
Pada masa awal, Gereja Kota Baru masih berstatus sebagai stasi dari Paroki Kidul Loji. Paroki Kota Baru kemudian menjadi paroki mandiri pada 1 Januari 1934.
Perjalanan berikutnya berlangsung melewati berbagai perubahan zaman, termasuk pendudukan Jepang, masa perjuangan kemerdekaan, perkembangan karya pendidikan, serta pemekaran wilayah pelayanan yang kemudian melahirkan sejumlah paroki baru.
Seiring perjalanan waktu, Kota Baru juga membangun identitas sebagai gereja yang terbuka. Perhatian terhadap kaum muda, pelayanan sosial, pendidikan, kebudayaan, kerja sama lintas agama, dan berbagai bentuk keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari perjalanan pastoralnya.
Memasuki abad kedua
Kini, setelah satu abad perjalanan, tantangan Gereja Kota Baru bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan warisan yang ada, melainkan bagaimana membuat warisan tersebut tetap hidup dan relevan.
Pesan Mgr. Rubiyatmoko, yang diperkuat oleh refleksi Rm. Bagus dan Rm. Tanto, mengarah pada satu titik: Gereja Kota Baru dipanggil untuk terus bergerak.
Sejarah memberi fondasi. Tujuh jejak rahmat memberi bahan untuk berefleksi. Namun abad kedua membutuhkan tindakan baru.
Gereja Kota Baru diharapkan tetap menjadi Gereja yang terbuka, peka terhadap tanda-tanda zaman, dekat dengan kaum muda, berpihak kepada mereka yang membutuhkan, membangun persaudaraan, dan menghadirkan pengharapan.
Dengan demikian, tema “Gereja Kota Baru: Teman Seperjalanan dalam Pengharapan” tidak berhenti sebagai tema perayaan satu abad.
Tema itu menjadi arah perjalanan berikutnya: agar semakin banyak orang yang datang ke Gereja Kota Baru dapat menemukan Tuhan, menemukan sahabat, dan menemukan kembali pengharapan. Seratus tahun pertama telah menjadi jejak rahmat. Abad kedua kini menanti jejak yang akan ditorehkan oleh generasi berikutnya.
