Pada Sabtu, 28 Maret 2026 (Sabtu Pekan V Prapaskah), bacaan liturgi (Yeh 37:21–28; Yer 31:10.11–12ab.13; Yoh 11:45–56) menghadirkan sebuah ketegangan yang dalam: di satu sisi Allah menjanjikan pemulihan dan kesatuan, di sisi lain manusia justru merencanakan penolakan dan kematian. Dalam Injil Yohanes, setelah mukjizat kebangkitan Lazarus, banyak orang mulai percaya kepada Yesus, tetapi para pemimpin agama justru memutuskan untuk membunuh-Nya.
Nabi Yehezkiel membawa kabar pengharapan besar: Allah akan mengumpulkan umat-Nya yang tercerai-berai, menjadikan mereka satu bangsa, satu raja, dan mengikat perjanjian damai yang kekal. Gambaran ini bukan hanya tentang pemulihan politik, tetapi tentang pemulihan relasi—antara Allah dan umat, serta antar sesama. Allah ingin menghadirkan kesatuan yang lahir dari kasih, bukan dari paksaan. “Tempat kediaman-Ku akan ada di tengah-tengah mereka,” demikian sabda Tuhan. Ini adalah kerinduan Allah: tinggal bersama umat-Nya.
Namun Injil memperlihatkan ironi. Ketika Allah sedang bekerja memulihkan dan menyatukan, manusia justru bereaksi dengan ketakutan dan perhitungan. Imam besar Kayafas bahkan berkata bahwa lebih baik satu orang mati untuk bangsa itu daripada seluruh bangsa binasa. Secara tidak sadar, ia mengucapkan nubuat: kematian Yesus memang akan menjadi jalan keselamatan. Tetapi motivasinya bukan iman, melainkan ketakutan kehilangan kekuasaan.
Dalam terang Spiritualitas Ignasian, kita diajak melihat dinamika batin yang bekerja di sini. Ada dua gerak roh: yang satu menuju keterbukaan, iman, dan kesatuan; yang lain menuju ketakutan, kontrol, dan penolakan. Orang-orang yang percaya kepada Yesus mengalami konsolasi—hati mereka terbuka oleh karya Allah. Sebaliknya, para pemimpin mengalami desolasi—mereka terjebak dalam kecemasan dan akhirnya memilih menutup diri terhadap kebenaran.
Ini menjadi cermin bagi hidup kita. Tidak jarang kita seperti para pemimpin itu: ketika Allah bekerja dengan cara yang tidak kita kontrol, kita menjadi gelisah. Kita takut kehilangan posisi, kenyamanan, atau kepastian. Dalam discernment Ignasian, penting untuk mengenali bahwa tidak semua rasa takut berasal dari Allah. Ketakutan yang membuat kita menutup diri, mengeraskan hati, dan menolak kebaikan sering kali bukan berasal dari Roh Tuhan.
Mazmur hari ini berbicara tentang Tuhan yang mengumpulkan dan menebus umat-Nya, mengubah dukacita menjadi sukacita. Ini selaras dengan janji Yehezkiel: Allah adalah Pribadi yang menyatukan, bukan memecah-belah. Maka setiap pilihan yang kita buat—apakah itu dalam keluarga, komunitas, atau pekerjaan—dapat kita uji: apakah ini membawa pada kesatuan atau justru perpecahan?
Menjelang akhir Injil, Yesus memilih untuk menyingkir ke daerah Efraim. Ia tidak melarikan diri, tetapi membaca waktu dengan bijaksana. Dalam Spiritualitas Ignasian, ini adalah bagian dari kebijaksanaan rohani: tahu kapan harus bertindak dan kapan harus menunggu. Kesetiaan kepada Allah tidak selalu berarti konfrontasi langsung; kadang ia berarti kesabaran yang penuh kesadaran akan waktu Tuhan.
Masa Prapaskah yang semakin mendekati Pekan Suci ini mengajak kita masuk lebih dalam ke dalam misteri Kristus: Ia yang membawa kehidupan justru menghadapi kematian. Namun justru melalui jalan itu, Allah menyatukan umat-Nya. Di sinilah paradoks iman: kehidupan lahir dari pengorbanan, kesatuan lahir dari kasih yang rela memberi diri.
Maka hari ini kita diajak untuk bertanya dalam keheningan: di mana aku dipanggil untuk menjadi pembawa kesatuan? Di mana aku masih membiarkan ketakutan menguasai keputusan-keputusanku? Dan apakah aku berani percaya bahwa bahkan dalam situasi yang tampak gelap, Allah sedang bekerja menghadirkan kehidupan?
Karena pada akhirnya, Allah setia pada janji-Nya: Ia akan tinggal di tengah umat-Nya. Dan ketika kita membuka hati untuk mengikuti-Nya, kita pun menjadi bagian dari karya besar itu—karya pemulihan, kesatuan, dan kasih yang tidak pernah berakhir.
