Yogyakarta – Pendidikan tinggi Jesuit di seluruh dunia harus memperkuat kolaborasi lintas negara dan lintas institusi untuk menjawab tantangan global, mulai dari krisis identitas, kesehatan mental mahasiswa, kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, hingga meningkatnya kesenjangan sosial. Seruan tersebut disampaikan Fr. Joseph Christie SJ, Sekretaris Pendidikan Tinggi Serikat Yesus di Kuria Jenderal Roma, dalam presentasinya pada World Union of Jesuit Alumni Congress XI yang berlangsung di Auditorium Driyarkara, Kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia, Kamis (30/7/2026).
Dalam presentasi yang mengulas perkembangan jejaring pendidikan tinggi Jesuit di dunia, Fr. Christie menjelaskan bahwa pendidikan tinggi baru memiliki sekretariat tersendiri di Kuria Jenderal Serikat Yesus sejak tahun 2007. Sebelumnya, pendidikan dasar, menengah, dan tinggi berada di bawah satu sekretariat yang sama. Pemisahan tersebut menjadi tonggak penting yang memungkinkan karya pendidikan tinggi Jesuit berkembang menjadi jejaring global yang semakin terintegrasi.
Ia kemudian menelusuri perjalanan lahirnya International Association of Jesuit Universities (IAJU), yang diawali dengan pembentukan Sekretariat Pendidikan Tinggi pada Januari 2007. Pertemuan internasional pertama di Mexico City pada 2010 mengusung tema Networking Jesuit Higher Education for a Globalizing World, yang kemudian berkembang melalui Sidang Melbourne tahun 2015 hingga akhirnya melahirkan IAJU secara resmi pada Sidang Bilbao, Spanyol, tahun 2018.
Mengutip Superior Jenderal Serikat Yesus saat itu, Pater Adolfo Nicolás SJ, Fr. Christie mengatakan bahwa globalisasi telah melahirkan “globalisasi kedangkalan” (globalization of superficiality), sehingga pendidikan tinggi Jesuit dipanggil menghadirkan kedalaman berpikir, imajinasi, dan refleksi kritis sebagai ciri khas tradisi Ignasian. Sementara itu, Superior Jenderal Serikat Yesus saat ini, Pater Arturo Sosa SJ, menegaskan bahwa universitas Jesuit harus mendidik manusia yang mampu melihat dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, menghargai budaya lain, dan membangun keadilan sosial, persaudaraan, serta kesetaraan.
Fr. Christie menjelaskan bahwa saat ini jaringan pendidikan tinggi Jesuit merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Berawal dari pendirian Roman College—kini Universitas Gregoriana—pada tahun 1551, jaringan tersebut kini mencakup 177 institusi pendidikan tinggi dengan sekitar 800.000 mahasiswa penuh waktu, bahkan melampaui satu juta mahasiswa jika termasuk program paruh waktu. Menurutnya, tujuan utama IAJU bukan sekadar memperluas jaringan, tetapi mendorong refleksi bersama mengenai misi pendidikan tinggi Jesuit, memperkuat kolaborasi antarinstitusi, mengembangkan pelayanan pendidikan tinggi, serta memperluas akses pendidikan bagi kelompok miskin dan mereka yang hidup di wilayah-wilayah terpinggirkan.
Untuk menjalankan misi tersebut, IAJU mengoordinasikan enam konferensi regional, yakni Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Pasifik. Menurut Fr. Christie, peran IAJU bukan mengelola universitas secara operasional, melainkan memberikan arah strategis sesuai visi Serikat Yesus dan keputusan Kongregasi Jenderal.
Dalam paparannya, Fr. Christie juga mengidentifikasi sejumlah tantangan besar yang dihadapi pendidikan tinggi Jesuit dewasa ini. Tantangan pertama adalah menjaga identitas dan misi universitas Jesuit di tengah arus materialisme dan sekularisme. Ia mengutip Pater Arturo Sosa SJ yang menegaskan bahwa identitas universitas Jesuit tidak ditentukan oleh banyaknya Jesuit yang berkarya di dalamnya, melainkan oleh budaya bersama, semangat Ignasian, dan komitmen terhadap misi yang sama.
Selain itu, survei terhadap para rektor universitas Jesuit menunjukkan bahwa kesehatan mental mahasiswa, terutama pascapandemi COVID-19, menjadi perhatian serius. Tantangan lain meliputi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan dan penelitian, meningkatnya biaya pendidikan yang menghambat akses kaum miskin, pembinaan iman di tengah masyarakat yang semakin plural dan sekuler, dinamika sosial-politik yang tidak kondusif di berbagai negara, keterbatasan finansial, lemahnya kolaborasi antarlembaga, serta semakin berkurangnya jumlah Jesuit yang berkarya di universitas-universitas Jesuit.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, IAJU menetapkan delapan prioritas strategis untuk beberapa tahun ke depan. Prioritas itu meliputi penguatan identitas dan misi Jesuit, integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan, peningkatan kesejahteraan holistik mahasiswa, pembangunan perdamaian dan rekonsiliasi, pendidikan kewargaan global dan demokrasi, ekologi integral, paradigma baru pendidikan bisnis yang inspiratif, serta peningkatan akses pendidikan tinggi bagi kaum miskin dan mereka yang tersingkir. Untuk setiap prioritas, IAJU membentuk satuan tugas internasional yang menyusun rencana aksi dan implementasi di berbagai wilayah.
Fr. Christie mengatakan bahwa arah utama IAJU ke depan adalah memperkuat kolaborasi global. Berbagai jejaring profesi telah dibangun, mulai dari sekolah bisnis, sekolah teknik, hingga pengembangan jaringan sekolah hukum dan fakultas pendidikan. Selain itu, program pertukaran mahasiswa antarinstitusi Jesuit terus diperluas melalui Margins Exchange Program, sementara Jesuit Worldwide Learning menyediakan pendidikan daring bagi para pengungsi, migran, dan masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal.
IAJU juga mengembangkan Global Research Alliance of Jesuit Universities, sebuah konsorsium penelitian internasional yang diluncurkan pada Sidang Bogotá tahun 2025 dan telah menggelar konferensi pertamanya di Manila pada Maret 2026. Menurut Fr. Christie, jejaring riset ini diharapkan memperkuat kontribusi intelektual universitas Jesuit terhadap persoalan-persoalan global yang mendesak.
Salah satu proyek besar yang tengah dipersiapkan adalah pendirian Arrupe Center for Peace and Reconciliation di Hiroshima, Jepang. Pusat ini akan dibangun di lokasi bersejarah tempat Pater Pedro Arrupe SJ pernah merawat para korban bom atom Hiroshima pada tahun 1945. Lembaga tersebut direncanakan mulai beroperasi pada 2028 dengan fokus pada pembaruan spiritual, pendidikan perdamaian, demokrasi, dan rekonsiliasi melalui berbagai program sertifikat maupun program pascasarjana.
Selain itu, IAJU juga tengah mengembangkan Jesuit Global Platform, sebuah platform pembelajaran global yang bertujuan menyediakan program-program pendidikan berbasis misi bagi masyarakat yang hidup di daerah perbatasan, wilayah konflik, maupun kelompok-kelompok yang selama ini sulit dijangkau oleh pendidikan tinggi konvensional.
Menutup presentasinya, Fr. Christie mengungkapkan tiga mandat yang diberikan Superior Jenderal Serikat Yesus kepada Sekretariat Pendidikan Tinggi. Pertama, memperkuat pendidikan tinggi Jesuit di Afrika yang masih berkembang. Kedua, meningkatkan penelitian ilmiah yang relevan dengan tantangan dunia saat ini sehingga universitas Jesuit semakin berperan sebagai otoritas intelektual Gereja. Ketiga, mengembangkan berbagai inisiatif nyata untuk menjangkau kaum miskin dan mereka yang hidup di wilayah-wilayah pinggiran. Menurutnya, ketiga mandat tersebut akan menjadi arah utama pengembangan pendidikan tinggi Jesuit dalam beberapa tahun mendatang.
Mengakhiri paparannya, Fr. Christie mengajak seluruh universitas Jesuit, para alumni, serta seluruh mitra karya untuk semakin memperkuat jejaring global demi menghadirkan pendidikan tinggi yang setia pada identitas Ignasian sekaligus mampu memberikan jawaban nyata bagi berbagai persoalan kemanusiaan abad ke-21.
