SELASA, 6 MEI 2025
Di jalan menuju Damaskus, langit tidak selalu cerah. Ada awan gelap yang menutup cahaya, ada batu-batu yang dilemparkan dengan amarah, dan ada darah yang tumpah demi kesaksian akan sebuah nama: Yesus dari Nazaret. Dalam Kisah Para Rasul 7:51–8:1a, kita menyaksikan babak tragis dari hidup Stefanus, di mana kesetiaannya kepada Kristus menjadikannya martir pertama Gereja. Ia tidak hanya berbicara dengan keberanian yang luar biasa, tetapi juga menatap langit yang terbuka dan melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. Tatapannya tertuju pada kemuliaan, bahkan ketika batu-batu menghantam tubuhnya. Dalam kematiannya, Stefanus tidak hanya menunjukkan iman, tetapi menghidupi doa yang diajarkan oleh Gurunya: “Ya Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.”
Mazmur 31 hadir sebagai nyanyian jiwa yang tertindas namun penuh harap. “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku…” — seruan ini adalah gema dari jiwa yang percaya, bahkan saat dunia runtuh di sekelilingnya. Dalam bait-baitnya, kita mendengar bisikan lembut dari mereka yang disalahpahami, yang dirugikan, yang memilih untuk tetap berpegang pada kasih setia Tuhan ketika semua yang lain mengkhianati.
Lalu kita sampai pada Injil Yohanes 6:30–35, di mana orang-orang bertanya kepada Yesus tentang tanda, seolah mukjizat-mukjizat sebelumnya belum cukup. Mereka meminta roti dari surga seperti yang diberikan kepada nenek moyang mereka di padang gurun. Tetapi Yesus menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar makanan untuk tubuh. “Akulah roti hidup,” kata-Nya. Ini bukan sekadar metafora puitis. Ini adalah deklarasi kasih Allah yang menjadi nyata: bahwa dalam Dia, manusia menemukan makanan yang tak pernah habis, kekuatan yang tidak melemah, pengharapan yang tidak pupus.
Roti hidup itu tidak melindungi Stefanus dari kematian, tetapi memberinya keberanian untuk menatap kematian sebagai pintu menuju hidup yang lebih sejati. Roti itu tidak mengubah dunia secara instan, tetapi mengubah hati yang memakannya—menjadikannya berani, teguh, dan penuh kasih bahkan di hadapan kebencian.
Teolog Scott Hahn dalam “The Lamb’s Supper” (1999) menafsirkan penderitaan para martir sebagai bagian dari perjamuan surgawi. Dalam penderitaan itu, umat percaya menyatu dengan Kristus, Sang Anak Domba yang disembelih namun menang. Sedangkan Raymond Brown dalam “The Gospel According to John” (1970) mencatat bahwa Yohanes 6 adalah pusat dari pemahaman iman akan Ekaristi: Yesus bukan hanya memberi roti, Ia adalah Roti itu sendiri—yang memberikan diri-Nya sepenuhnya, tubuh dan darah, bagi hidup dunia.
Refleksi ini mengajak kita bertanya dalam hening: apa arti roti bagi kita hari ini? Apakah kita mencarinya hanya sebagai pemenuh kebutuhan jasmani, atau kita benar-benar lapar akan kehadiran-Nya yang memberi hidup kekal? Di tengah dunia yang sering melemparkan ‘batu’ kepada siapa pun yang bersaksi tentang kebenaran, adakah kita tetap bertahan seperti Stefanus? Ataukah kita bersembunyi di balik kerumunan yang menuntut mukjizat, namun tidak ingin menyerahkan hidup?
Yesus tidak hanya menjawab kelaparan jasmani, Ia menantang kelaparan terdalam manusia—kelaparan akan makna, akan kehadiran, akan cinta yang tidak meninggalkan. Dan di meja Ekaristi, roti itu dipecah lagi dan lagi, menjadi tanda bahwa kasih Allah tidak akan pernah habis. Stefanus telah memakan roti itu, dan ia tidak takut menghadapi maut.
Hari ini, saat kita merenungkan bacaan-bacaan ini, marilah kita mendekat ke meja roti yang hidup itu, bukan sebagai penonton yang menuntut tanda, tetapi sebagai murid yang lapar dan siap diberi makan. Dalam setiap bagian dari tubuh-Nya, kita menemukan kekuatan untuk tetap setia, bahkan ketika dunia menjadi gelap. Karena Roti itu bukan hanya makanan—Roti itu adalah Kristus sendiri.
Daftar Pustaka:
- Hahn, Scott. The Lamb’s Supper: The Mass as Heaven on Earth. New York: Doubleday, 1999.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John (I-XII). Garden City, NY: Doubleday, 1970.
- Wright, N.T. Surprised by Hope. New York: HarperOne, 2008.
