By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    10 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    10 months ago
    Latest News
    WUJA President Calls on People of All Faiths to Unite in Prayer for Pope Leo XIV
    7 days ago
    Sepuluh Tahun GC36, Jesuit Tekankan Discernment, Kolaborasi, dan Jejaring
    2 weeks ago
    Yayasan Sesawi Serah Terima Kepengurusan, Dorong Penguatan Tata Kelola dan Karya
    2 weeks ago
    Meskipun….
    3 weeks ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Ziarah Batin Rosario: Mengubah Keputusasaan Menjadi Harapan
    3 weeks ago
    Membangun Bumi dan Langit yang Baru dari Lingkungan Kita
    1 month ago
    Calon Arang dan Batas yang Kabur antara Cinta, Kebaikan, dan Kejahatan
    1 month ago
    Tuhan Bukan Pendukung Tim Mana Pun
    3 months ago
    Menulis untuk Menghidupkan Literasi: Jejak Sunyi Angela Yurmani Giawa
    4 months ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Katekismus Laudato Si’ Tak Dicetak Ulang, Kini Tersedia dalam Edisi Digital
    3 weeks ago
    Paus Leo XIV Soroti Bahaya Clickbait dalam Pesan Hari Komunikasi Sosial 2027
    3 weeks ago
    Becoming Christ’s Influencers: Asian Digital Missionaries Called to “Whisper” Jesus
    1 month ago
    Asia’s First Catholic Digital Missionary Assembly Opens New Path for Digital Mission
    1 month ago
    Asian Digital Missionaries Urged to Move from Influencers to Witnesses
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    11 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    11 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    1 year ago
    Latest News
    Temu Kolese 2026: Sembilan Ratusan Siswa Membuat Keributan
    1 week ago
    Sepuluh Tahun GC36, Jesuit Tekankan Discernment, Kolaborasi, dan Jejaring
    2 weeks ago
    Yayasan Sesawi Serah Terima Kepengurusan, Dorong Penguatan Tata Kelola dan Karya
    2 weeks ago
    100 Tahun Gereja Kota Baru, Kini Giliran Generasi Berikutnya Bekerja
    3 weeks ago
  • Yayasan Sesawi
    • VISI MISI YAYASAN SESAWI
    • Susunan Pengurus Yayasan
    • ALAMAT KANTOR YAYASAN SESAWI
    • DONASI untuk YAYASAN SESAWI
    • Dukung Panggilan
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    7 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    7 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    7 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    5 months ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    7 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    7 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    7 months ago
  • Dupang
Reading: Kepemimpinan Kristiani Pastor Theodorus G. Ruing, OCD dalam Pendampingan Orang Muda Katolik
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
BONAVENTURAGEREJA SEMESTAOrang Kudus

Kepemimpinan Kristiani Pastor Theodorus G. Ruing, OCD dalam Pendampingan Orang Muda Katolik

inigoway
Last updated: June 5, 2026 5:54 am
By inigoway 5 months ago
Share
17 Min Read
SHARE

PENULIS: Yola Centia br Pinem, Mahasiswi STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan

Kepemimpinan merupakan elemen krusial yang menopang roda kehidupan manusia, mulai dari lingkup terkecil seperti keluarga, hingga ranah yang lebih luas seperti masyarakat, organisasi, dan Gereja. Namun, di dalam tubuh Gereja, esensi kepemimpinan mengalami pergeseran makna yang radikal. Kepemimpinan tidak lagi dipandang sebagai panggung kekuasaan untuk mengatur atau memerintah orang lain, melainkan sebuah panggilan suci untuk melayani. Seorang pemimpin Kristiani sejati dituntut menjadi kompas moral, teladan hidup, sekaligus sahabat yang siap mendampingi mereka yang dipimpinnya. Pola ini berakar kuat pada teladan Yesus Kristus sendiri, yang hadir ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

Dalam dinamika Gereja Katolik masa kini, salah satu medan pelayanan yang paling menantang dan krusial adalah pendampingan terhadap Orang Muda Katolik (OMK). Kaum muda bukan sekadar pelengkap bangku gereja; mereka adalah tunas bangsa dan generasi penerus yang membawa potensi masif bagi masa depan Gereja dan sosial.

Sayangnya, jalan yang mereka tempuh di era modern ini tidaklah mudah. Perkembangan zaman yang begitu masif turut membawa badai tantangan yang kompleks—mulai dari jeratan pergaulan bebas, memudarnya kepekaan rohani akibat arus sekularisasi, paparan negatif media sosial, hingga krisis identitas dan hilangnya arah hidup.

Melihat realitas ini, kaum muda tidak bisa dibiarkan berjalan sendirian. Mereka membutuhkan pendampingan autentik yang mampu menuntun mereka bertumbuh seimbang dalam iman, karakter, dan relasi sosial. Proses ini memerlukan figur pemimpin yang bersedia menanggalkan jubah formalitasnya untuk hadir sebagai sahabat karib yang berjalan beriringan bersama mereka. Pemimpin yang berani menyelami dunia kaum muda akan jauh lebih peka dalam memahami gejolak, kebutuhan, serta pergulatan batin yang sedang mereka alami. Di sinilah kepemimpinan Kristiani yang sarat akan nilai kasih, pelayanan, kerendahan hati, dan keteladanan menemukan urgensinya.

Salah satu mahaguru rohani yang mewariskan visi indah ini adalah Santo Marcellin Champagnat. Ia dikenal memiliki cinta yang melimpah dan komitmen total terhadap perkembangan generasi muda. Bagi Champagnat, pemimpin sejati harus mau melangkah ke tengah-tengah kaum muda dan membaur bersama mereka. Kepemimpinan baginya adalah seni merawat kemanusiaan dan mendukung perkembangan pribadi sesama, bukan sarana pamer otoritas.

Semangat hidup Santo Marcellin Champagnat ini rupanya hidup dan terwujud nyata dalam diri Pastor Theodorus G. Ruing, OCD selaku Moderator OMK di Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai. Berdasarkan hasil observasi, gaya kepemimpinan Pastor Theodorus merefleksikan kepedulian yang sangat mendalam terhadap masa depan rohani dan sosial kaum muda di parokinya. Beliau menolak menjadi pemimpin yang berjarak; sebaliknya, beliau membangun jembatan relasi yang hangat dengan para anggota OMK.

Melalui rangkaian kegiatan yang dinamis—seperti perayaan Ekaristi OMK, camping rohani, ruang kreasi olahraga dan seni, hingga sesi sharing santai—kepemimpinannya secara konsisten mengedepankan nilai kebersamaan dan pendampingan yang utuh. Karakter kepemimpinannya yang sederhana, rendah hati, dan penuh perhatian menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum muda. Artikel ini akan mengulas lebih dalam bagaimana corak kepemimpinan Kristiani yang dijalankan oleh Pastor Theodorus G. Ruing, OCD, serta bagaimana nilai-nilai luhur Santo Marcellin Champagnat dihidupkan dalam pelayanan pastoral OMK tersebut.

Kepemimpinan Kristiani sebagai Poros Pelayanan

Kepemimpinan Kristiani memiliki keunikan yang membedakannya secara mencolok dari model kepemimpinan sekuler pada umumnya. Ketika dunia mengaitkan kepemimpinan dengan akumulasi kekuasaan, privilese, atau keuntungan pribadi, kepemimpinan Kristiani justru menuntut kerelaan untuk mengosongkan diri demi pelayanan. Fondasi dari seluruh pergerakan ini adalah Yesus Kristus, sang Gembala Agung yang dengan sukarela merendahkan diri-Nya demi melayani umat manusia. Melalui kisah Injil, Yesus mengajari kita bahwa esensi seorang pemimpin terletak pada hati yang penuh bela rasa, kerendahan hati yang tulus, serta keberanian untuk mendahulukan kepentingan sesama di atas kepentingan diri sendiri.

Oleh karena itu, keberhasilan kepemimpinan Kristiani tidak boleh diukur secara kaku lewat indikator angka atau kesuksesan administratif sebuah program organisasi semata. Parameter sejatinya adalah transformasi kualitas manusia: sejauh mana pemimpin mampu merangkul dan membantu orang-orang yang digembalakannya tumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh dan berkualitas.

Dalam konteks pendampingan OMK, pendekatan normatif yang hanya mengandalkan aturan kaku atau instruksi searah sudah tidak lagi efektif. Kaum muda hari ini merindukan aksi nyata dan perhatian yang tulus. Mereka membutuhkan ruang aman di mana suara mereka didengarkan, pergulatan mereka dipahami, dan eksistensi mereka diakui.

Potret kepemimpinan yang melayani ini teraplikasi dengan indah dalam pelayanan Pastor Theodorus G. Ruing, OCD. Beliau tidak menempatkan dirinya di atas menara gading yang hanya pandai menitahkan instruksi dari balik meja. Dalam setiap dinamika, Pastor Theodorus terjun langsung, melayani berdampingan, dan ikut melebur dalam keringat kegiatan bersama kaum muda. Keterlibatan aktif ini menjadi bukti autentik bahwa pelayanan adalah detak jantung dari kepemimpinannya. Dampaknya, sekat-sekat formalitas antara pastor dan umat muda runtuh. Kedekatan emosional yang sehat ini membuat kaum muda merasa diterima, dihargai, dan diwongkan di dalam rumah rohani bernama Gereja. Dari iklim yang sehat inilah keterbukaan pastoral dapat bertumbuh dengan subur.

Meneladani Jejak Spiritual Santo Marcellin Champagnat

Santo Marcellin Champagnat menempati posisi historis yang istimewa dalam tradisi pendidikan dan pendampingan kaum muda Katolik. Ia meyakini sebuah prinsip emas: untuk mendidik kaum muda, kita harus mencintai mereka terlebih dahulu, dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih serta perhatian yang adil. Landasan berpikir inilah yang membuat Champagnat selalu mengutamakan pendekatan relasional yang humanis daripada pendekatan yang bersifat legalistik.

Bagi Champagnat, kehadiran fisik dan batin seorang pemimpin di tengah-tengah kelompoknya adalah harga mati. Pemimpin dilarang keras menciptakan jarak artifisial atau merasa statusnya lebih tinggi dari anggotanya. Sebaliknya, ia harus menjadi figur yang hangat, mudah didekati, dan penuh empati.

Garis spiritualitas Champagnat inilah yang terefleksi jelas dalam laku pastoral Pastor Theodorus G. Ruing, OCD. Beliau tampil sebagai pemimpin yang meruntuhkan dinding pemisah. Dalam setiap helatan acara OMK, kehadiran beliau bukan sekadar formalitas pembukaan, melainkan sebagai bagian utuh dari kebersamaan komunitas. Gaya kepemimpinan yang membumi ini terbukti ampuh menciptakan atmosfer yang nyaman bagi OMK. Ketika rasa nyaman itu hadir, kaum muda tidak akan ragu untuk membuka diri dan menceritakan pergulatan hidup mereka.

Lebih jauh, Pastor Theodorus sangat jeli memperhatikan perkembangan iman sekaligus sisi personal dari masing-masing individu OMK. Fokus utamanya bukan sekadar kemegahan acara eksternal, melainkan proses internal pendampingan jiwa-jiwa muda agar semakin matang seiring berjalannya waktu. Benang merah antara warisan Santo Marcellin Champagnat dan Pastor Theodorus terletak pada komitmen mereka untuk menempatkan kaum muda sebagai prioritas, semangat melayani tanpa pamrih, dan visi untuk berjalan bersama sebagai satu keluarga besar.

Menjadi Sahabat di Tengah Badai Pergulatan Kaum Muda

Di tengah gempuran realitas modern yang serba cepat, kehadiran sosok pemimpin yang dekat dan berlapang dada menjadi oase yang sangat dinantikan oleh generasi muda. Realitas hari ini menunjukkan banyak anak muda yang diam-diam berjuang melawan monster batinnya sendiri: mulai dari krisis rasa percaya diri, konflik internal keluarga yang membekas, tekanan sosial teman sebaya (peer pressure), hingga kekosongan eksistensial dan disorientasi iman. Dalam situasi rentan ini, khotbah teoretis yang dogmatis sering kali kehilangan taringnya. Mereka tidak butuh dihakimi; mereka butuh didengarkan dan dipahami oleh sosok pembimbing yang bijaksana.

Menjawab jeritan sunyi ini, Pastor Theodorus G. Ruing, OCD hadir menawarkan model kepemimpinan yang merangkul. Beliau melampaui batas-batas birokrasi jabatan formalnya sebagai pastor paroki. Beliau menyediakan telinga untuk mendengarkan keluh kesah, hati untuk memahami kekecewaan, dan waktu untuk menemani proses pencarian jati diri anggota OMK.

Kedekatan yang inklusif ini bukanlah slogan tanpa bukti. Hal itu terekam nyata dari kesetiaan beliau untuk hadir dalam setiap sendi kehidupan OMK. Kita bisa menjumpai beliau mendampingi kekhusyukan Misa OMK, ikut tertawa di tenda-tenda camping rohani, bersorak mendukung di lapangan olahraga, hingga duduk melingkar dalam sesi sharing iman yang mendalam. Kehadiran yang konstan ini mengirimkan sinyal psikologis yang kuat kepada OMK bahwa mereka berharga, dicintai, dan diakui. Ketika jembatan kepercayaan (trust) telah kokoh terbangun, maka proses penanaman nilai iman, formasi karakter, dan transfer nilai-nilai Kristiani dapat mengalir masuk ke dalam sanubari kaum muda dengan sangat natural.

“Rengkuh dan Tumbuh”: Filosofi dan Arah Pelayanan

Salah satu permata paling berharga dalam corak kepemimpinan Pastor Theodorus G. Ruing, OCD adalah motto pelayanan yang beliau usung: “Rengkuh dan Tumbuh”. Rangkaian kata yang sederhana ini sesungguhnya menyimpan teologi pastoral yang sangat mendalam bagi pelayanan kepemudaan.

  • Merengkuh (Aspek Kasih): Kata ini merepresentasikan tindakan aktif untuk mendekat, merangkul, dan menerima kaum muda apa adanya, lengkap dengan segala kerapuhan, latar belakang, dan keunikan mereka. Merengkuh menuntut pemimpin untuk menurunkan ego, menyingkirkan sikap menghakimi, dan membuka lebar pintu hatinya demi mendengarkan serta berjalan bersama anggota komunitas.
  • Tumbuh (Aspek Visi): Menegaskan bahwa kepemimpinan Kristiani tidak boleh berhenti hanya pada kenyamanan relasi emosional atau sekadar berkumpul bersama. Pemimpin memikul tanggung jawab visioner untuk memastikan bahwa setiap individu yang dirangkul mengalami eskalasi kualitas hidup yang lebih baik. Pertumbuhan ini mencakup spektrum yang luas: matang dalam kedewasaan iman, kokoh dalam integritas karakter, dan berdampak positif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Filosofi ini menjadi bukti otentik bahwa kepemimpinan Kristiani sejati sama sekali bebas dari syahwat kekuasaan. Fokus utamanya murni tertuju pada kualitas relasi dan komitmen jangka panjang dalam proses pendampingan demi pertumbuhan bersama di dalam bait komunitas.

Program Kerja Strategis sebagai Inkubator Pembinaan OMK

Visi besar “Rengkuh dan Tumbuh” tersebut kemudian diejawantahkan secara taktis oleh Pastor Theodorus G. Ruing, OCD melalui berbagai program kerja kreatif yang berfungsi sebagai inkubator pertumbuhan OMK. Ragam kegiatan ini dirancang secara holistik untuk menyentuh berbagai aspek kemanusiaan orang muda:

  1. Misa Bulanan OMK (Spiritualitas & Liturgi): Kegiatan ini didesain khusus agar kaum muda dapat merayakan misteri iman dengan cara yang relevan bagi jiwa muda mereka. Melalui altar ini, mereka dibantu untuk memperdalam relasi personal dengan Tuhan sekaligus mempererat tali persekutuan antar-anggota dalam suasana liturgi yang hidup.
  2. Camping Rohani (Formasi Karakter & Alam): Mengambil jeda dari rutinitas harian, kaum muda diajak masuk ke alam terbuka untuk merefleksikan kehadiran Allah. Di sini mereka belajar menurunkan ego, melatih kemandirian, dan mengasah kepekaan sosial melalui ritme hidup berkomunitas yang intens.
  3. Pekan Olahraga dan Seni / PORSENI (Kreativitas & Kerja Sama): Menjadi saluran sehat bagi energi meluap dan talenta seni-olahraga kaum muda. Di arena ini, nilai-nilai sportivitas, daya juang, dan soliditas kerja sama tim ditempa secara menyenangkan.
  4. Sesi Sharing Mandiri (Ruang Dialog & Empati): Sebuah forum intim di mana masker sosial dilepaskan. Setiap anak muda diberikan panggung aman untuk menumpahkan pengalaman hidup, berbagi beban pergulatan, ataupun mendeklarasikan mimpi masa depan mereka. Kehadiran setia Pastor dalam ruang ini mempertegas wajah kepemimpinan Kristiani yang siap menyediakan waktu untuk mendengarkan dengan penuh empati.

Keteladanan Hidup: Khotbah Tanpa Kata yang Menggerakkan

Di atas semua teknik manajemen organisasi, instrumen paling ampuh dalam kepemimpinan Kristiani adalah otentisitas keteladanan hidup. Kredibilitas seorang pemimpin tidak diuji dari seberapa fasih ia berorasi atau seberapa hebat ia menyusun regulasi, melainkan dari keselarasan antara ucapan dan tindakan nyatanya sehari-hari.

Berdasarkan potret pelayanan di lapangan, Pastor Theodorus G. Ruing, OCD sukses menyuguhkan khotbah visual yang bertenaga lewat gaya hidupnya yang bersahaja, sikap yang rendah hati, dan pancaran kasih yang tulus saat menemani OMK. Teladan ini memunculkan rasa hormat yang organik, bukan rasa takut yang dipaksakan.

Keteladanan visual ini berbanding lurus dengan psikologi kaum muda yang cenderung lebih mudah menyerap nilai melalui apa yang mereka lihat (role model) ketimbang apa yang sekadar mereka dengar berupa deretan nasihat. Ketika melihat pemimpin mereka konsisten menghidupi nilai kasih, akuntabel dalam tanggung jawab, sabar menghadapi dinamika, dan memiliki kepedulian yang konkret, maka secara tidak langsung akan memantik api semangat di dalam diri anggota komunitas untuk menduplikasi kebaikan yang sama. Keteladanan inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya iklim komunitas yang sehat, harmonis, dan penuh persaudaraan.

Refleksi Esensial bagi Kepemimpinan Masa Depan

Pola pelayanan yang diukir oleh Pastor Theodorus G. Ruing, OCD memberikan konfirmasi teologis yang indah bagi kita semua: ketika kepemimpinan Kristiani dijalankan dengan setia pada poros kasih dan pelayanan, ia akan selalu melahirkan buah-buah perubahan yang positif dan transformatif bagi kaum muda. Kaum muda tidak membutuhkan sosok penguasa yang feodal; mereka mendambakan figur gembala yang hadir secara utuh dan peduli secara riil pada detak kehidupan mereka. Atmosfer pelayanan yang inklusif ini terbukti berhasil membuat orang muda merasa memiliki rumah rohani yang aman di dalam Gereja.

Gereja masa kini sangat membutuhkan model kepemimpinan transformatif seperti ini di semua lini pelayanan. Tantangan zaman yang kian kompleks menuntut Gereja untuk menghadirkan pemimpin yang tidak sekadar mahir berwacana, tetapi berani menjadi benteng teladan dan rekan seperjalanan bagi generasi muda. Warisan api semangat Santo Marcellin Champagnat yang dihidupkan kembali lewat ketulusan pelayanan Pastor Theodorus menjadi pengingat abadi bagi kita semua bahwa kepemimpinan Kristiani, pada titik puncaknya, harus selalu diwujudkan melalui bahasa kasih yang konkret, pelayanan yang membumi, dan kepedulian yang tak berkesudahan bagi sesama.

Kesimpulan

Melalui seluruh rangkaian observasi dan refleksi mendalam ini, kita dapat menarik kesimpulan yang kokoh bahwa model kepemimpinan Pastor Theodorus G. Ruing, OCD selaku Moderator OMK di Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai adalah potret nyata dari kepemimpinan Kristiani yang autentik. Kepemimpinannya berhasil mengintegrasikan secara harmonis antara tugas struktural dan spiritualitas pelayanan yang berakar pada kasih, ketulusan, serta keteladanan hidup yang nyata.

Kiprah pastoral beliau memiliki resonansi dan keselarasan yang sangat tinggi dengan kharisma Santo Marcellin Champagnat yang senantiasa menaruh perhatian premium pada pendampingan holistik kaum muda melalui pendekatan kasih yang merangkul. Keberanian beliau untuk melebur langsung dalam dinamika kehidupan OMK menegaskan prinsip bahwa memimpin berarti bersedia berjalan bersama sebagai satu korps komunitas.

Melalui aneka program kerja yang dinamis, OMK paroki diposisikan dalam sebuah ekosistem subur tempat iman mereka dirawat, karakter mereka ditempa, dan persaudaraan mereka dirajut. Akhirnya, melalui panji motto “Rengkuh dan Tumbuh,” Pastor Theodorus mengingatkan kita kembali akan sebuah kebenaran fundamental: bahwa di dalam rahim Gereja, memimpin tidak pernah tentang penguasaan takhta, melainkan tentang komitmen agung untuk merangkul kerapuhan manusia dan menuntunnya berjalan bersama menuju kesempurnaan kasih Allah. Pola kepemimpinan melayani inilah yang harus terus disemai, dirawat, dan diwariskan di dalam gerak langkah Gereja, agar lahir generasi baru yang beriman teguh, bertanggung jawab penuh, dan memiliki hati yang berdenting bagi sesama.

You Might Also Like

Christus Vivit dan Jalan Kekudusan Kaum Muda: Carlo Acutis Ikon Iman Milenial

Vatikan Tetapkan Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”

Para Uskup Asia Serukan Perdamaian Global, Kecam Kekerasan dan Ajak Dialog

Mother Teresa dari Kalkuta: Pelayanan yang Berlandaskan Kasih dan Kerendahan Hati

Pemimpin yang Melayani: Kepemimpinan Santo Yustinus Martir dalam Praktik KDPS Stasi Santo Yoseph Pagar Jati

TAGGED:bonaventuraMarcellin ChampagnatOCDParoki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjaipendampingan OMKpergulatan kaum mudasahabatsang Gembala Agungstpstp bonaventuraTheodorus G. Ruingyesus kristus
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
Previous Article Santo Thomas Aquinas: Teladan Kebijaksanaan, Iman, dan Semangat Mencari Kebenaran
Next Article Santo Serafinus dan Kepemimpinan OMK: Teladan Pelayanan bagi Kaum Muda Gereja
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • WUJA President Calls on People of All Faiths to Unite in Prayer for Pope Leo XIV
  • Temu Kolese 2026: Sembilan Ratusan Siswa Membuat Keributan
  • Sepuluh Tahun GC36, Jesuit Tekankan Discernment, Kolaborasi, dan Jejaring
  • Yayasan Sesawi Serah Terima Kepengurusan, Dorong Penguatan Tata Kelola dan Karya
  • Meskipun….

Recent Comments

  1. odemus witono on Aku Percaya Pengampunan Dosa: Dari Kegelapan Trauma Menuju Rahmat Transendental
  2. Anita on Aku Percaya Pengampunan Dosa: Dari Kegelapan Trauma Menuju Rahmat Transendental
  3. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  4. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  5. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?