Penulis: Anna Marsyana Berutu Mahasiswa STP Santo Bonaventura KAM
Pemimpin yang Turun Tangan, Bukan Cuci Tangan
Ketua OMK Stasi Santo Polikarpus Suka Makmur berhasil membuktikan sebuah fakta penting: bahwa model kepemimpinan pelayanan masih menjadi magnet dan kekuatan utama yang paling ampuh dalam usaha membangun fondasi iman serta merawat rasa kebersamaan di kalangan kaum muda Katolik. Di tengah-tengah kepungan berbagai macam tantangan riil yang dihadapi generasi muda hari ini—mulai dari candu paparan algoritma media sosial hingga tren penurunan keterlibatan pemuda dalam aktivitas hidup menggereja—kehadiran sosok pemimpin yang mampu tampil memberikan keteladanan nyata menjadi sesuatu yang sangat krusial. Potret keindahan pelayanan inilah yang tampak jelas dalam dinamika kehidupan komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Santo Polikarpus Suka Makmur, Paroki Santa Maria Ratu Damai Subulussalam, Keuskupan Sibolga.
Berdasarkan hasil observasi langsung di lapangan, komunitas OMK yang beranggotakan 25 orang ini memperlihatkan ikatan kebersamaan yang sangat solid dan hangat. Setelah ditelusuri lebih dalam, salah satu faktor kunci di balik harmonisnya atmosfer tersebut ternyata bersumber dari gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh sang Ketua OMK, Robeli Kristian Nainggolan. Sangat kontras dengan stereotip pemimpin pada umumnya yang identik dengan formalitas garis komando, hobi melempar perintah, atau pamer kuasa, Robeli secara sadar lebih memilih untuk menempatkan dirinya sebagai pelayan bagi komunitasnya. Ia tidak hanya piawai dalam merancang atau mengarahkan jalannya sebuah kegiatan, melainkan selalu memastikan dirinya ikut terjun langsung di lapangan, bekerja memeras keringat bersama-sama dengan seluruh anggotanya. Bagi Robeli, esensi menjadi seorang pemimpin sama sekali bukan tentang berada di posisi atas untuk mengontrol orang lain.
“Saya punya keyakinan bahwa seorang pemimpin harus menjadi orang pertama yang bersedia turun melayani. Kalau kita menuntut agar anggota kita bisa aktif bergerak, maka kita sebagai pemimpin wajib memberikan contoh konkretnya terlebih dahulu. Itulah mengapa saya selalu berusaha untuk hadir secara utuh di tengah-tengah mereka, bekerja bareng, dan mendengarkan keluh kesah mereka secara langsung,” ungkap Robeli dengan penuh ketulusan. Pendekatan kepemimpinan yang membaur dan tanpa sekat ego inilah yang pada akhirnya membuat seluruh anggota OMK merasa sangat dihargai keberadaannya, sehingga memicu rasa memiliki yang tinggi di dalam komunitas.
Meneladani Keteguhan Santo Polikarpus
Semangat pelayanan yang dipraktikkan dalam komunitas OMK Suka Makmur ini sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan merupakan usaha sadar untuk menghidupi kembali nilai-nilai luhur dari santo pelindung stasi mereka, yaitu Santo Polikarpus. Nilai-nilai hidup dari sang santo martir masa Gereja perdana tersebut coba diinternalisasikan ke dalam detak nadi aktivitas komunitas sehari-hari. Dalam catatan sejarah, Santo Polikarpus dikenal luas sebagai sosok gembala yang memiliki kesetiaan total tanpa syarat kepada Kristus hingga detik terakhir hidupnya. Warisan berupa keteguhan iman, keberanian moral dalam mempertahankan prinsip kebenaran, serta kobaran semangat pelayanannya yang tulus menjadi warisan spiritual yang tetap sangat relevan untuk diadopsi oleh kaum muda di era modern ini.
Nilai-nilai luhur itulah yang coba dirawat dan ditanamkan oleh Robeli bersama rekan-rekannya dalam setiap jengkal kegiatan pelayanan OMK Suka Makmur. Semangat kasih yang tulus, rasa tanggung jawab atas tugas, kesetiaan pada komitmen, serta kebersamaan terus dipupuk secara konsisten. Menurut kacamata Robeli, tantangan terbesar bagi kaum muda zaman sekarang sebenarnya bukan cuma soal padatnya kesibukan harian atau urusan akademis semata, melainkan bagaimana cara menjaga agar api komitmen iman tersebut tetap menyala konsisten di tengah gempuran opsi duniawi.
“Tantangan zaman sekarang itu luar biasa, dunia luar menawarkan banyak hal yang menggiurkan dan mendistrasi. Karena itulah, di dalam komunitas OMK ini kami harus bisa menjadi sistem pendukung yang saling menguatkan satu sama lain. Harapan terbesar saya adalah OMK Suka Makmur tidak hanya sekadar aktif berkumpul atau meramaikan acara seremonial saja, melainkan benar-benar bisa bertumbuh kualitas rohaninya sebagai murid-murid Kristus yang sejati,” harap Robeli optimis.
Harapan yang keluar dari lubuk hati sang ketua ini sekaligus menjadi kompas penunjuk arah bagi masa depan pelayanan OMK Stasi Santo Polikarpus Suka Makmur ke depan. Di tengah arus perubahan zaman yang bergulir sangat cepat, komunitas kecil ini berhasil memberikan kesaksian hidup yang indah kepada dunia: bahwa kepemimpinan pelayanan yang tulus akan selalu memiliki tempat spesial di hati anak muda. Ketika seorang pemimpin bersedia hadir meruntuhkan ego jabatannya untuk tampil sebagai teladan sekaligus sahabat karib bagi anggotanya, maka aktivitas pelayanan tidak akan pernah dirasakan sebagai sebuah beban birokrasi yang melelahkan, melainkan akan bertransformasi menjadi sebuah panggilan jiwa yang dijalani bersama dengan penuh sukacita. Lewat percikan semangat Santo Polikarpus, OMK Suka Makmur terus berkomitmen untuk tampil menjadi komunitas yang hidup, terus bertumbuh subur dalam iman, serta mampu membawa lentera harapan yang cerah bagi Gereja dan masyarakat di lingkungan sekitarnya.
