JAKARTA — “Yang jahat mati karena cinta. Yang baik hidup penuh dusta.”
Kalimat itu terdengar seperti paradoks. Tetapi justru di situlah daya tarik Musikal Calon Arang, pertunjukan terbaru EKI Dance Company bersama Indonesia Kaya yang dipentaskan pada 17–20 September 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Legenda tentang Calon Arang selama ini lebih mudah dikenali sebagai kisah tentang perempuan sakti yang menggunakan ilmu hitam dan menebarkan ketakutan. Dalam versi musikal ini, kisah tersebut ditempatkan dalam ruang yang lebih manusiawi: tentang seorang ibu, seorang anak, cinta, tipu daya, dan keputusan-keputusan moral yang tidak selalu hitam putih.
Calon Arang bukan hanya seorang penyihir. Ia adalah seorang ibu yang mencintai putrinya, Ratna Manggali. Sementara Bahula datang membawa misi yang secara moral tampak benar: menghentikan kekuatan Calon Arang yang dianggap membahayakan masyarakat.
Tetapi untuk menjalankan misi itu, Bahula harus mendekati Ratna Manggali.
Di titik inilah cerita menjadi menarik. Kebaikan membutuhkan siasat. Cinta menjadi jalan menuju pengkhianatan. Dan seseorang yang dianggap jahat ternyata memiliki kemampuan mencintai dengan sangat dalam.
Ketika yang baik tidak selalu sederhana
Kisah-kisah tradisional sering kali membagi dunia secara sederhana: ada yang baik dan ada yang jahat. Yang baik harus menang, sementara yang jahat harus dikalahkan.
Namun pengalaman manusia sehari-hari jauh lebih rumit.
Seseorang dapat melakukan sesuatu yang baik dengan motif yang tidak sepenuhnya bersih. Sebaliknya, seseorang yang melakukan kesalahan tidak otomatis kehilangan seluruh sisi kemanusiaannya.
Di sinilah Calon Arang dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar legenda.
Persoalannya bukan hanya siapa yang benar dan siapa yang salah. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: apa yang terjadi ketika cinta, kebenaran, dan kepentingan bersama saling berhadapan?
Calon Arang mencintai anaknya. Bahula menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Empu Barada ingin menghentikan ancaman yang menimpa masyarakat. Masing-masing memiliki alasan.
Tetapi alasan yang baik tidak selalu membuat setiap tindakan menjadi baik.
Pertanyaan seperti ini membuat sebuah legenda lama tetap hidup. Sebab manusia modern pun terus berhadapan dengan situasi serupa: memilih antara kesetiaan dan kebenaran, antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, antara mencintai seseorang dan mengatakan kepadanya sesuatu yang mungkin menyakitkan.
Cinta tidak selalu menyelamatkan
Yang paling menarik dari kisah ini mungkin justru bukan ilmu sihir Calon Arang, melainkan cintanya sebagai seorang ibu.
Cinta biasanya kita bayangkan sebagai kekuatan yang menyelamatkan. Tetapi cinta juga dapat menjadi tempat manusia paling rentan.
Karena mencintai, seseorang dapat menjadi takut kehilangan. Karena takut kehilangan, seseorang dapat melakukan apa saja untuk melindungi yang dicintainya.
Dalam konteks itu, pertanyaan moralnya berubah.
Bukan lagi sekadar: “Apakah kamu mencintai?”
Melainkan: “Apa yang kamu lakukan karena cinta?”
Pertanyaan kedua jauh lebih sulit.
Sebab cinta yang tidak disertai kebijaksanaan dapat berubah menjadi kepemilikan. Perlindungan dapat berubah menjadi kontrol. Kesetiaan dapat berubah menjadi pembenaran. Dan pengorbanan dapat berubah menjadi alasan untuk melukai orang lain.
Karena itu, kisah Calon Arang dapat dibaca sebagai kisah tentang bagaimana manusia bergulat dengan cinta yang sangat kuat—dan bagaimana cinta tersebut dapat membawa seseorang menuju keputusan yang tidak sederhana.
Legenda lama, pertanyaan manusia sekarang
Ara Ajisiwi, yang menyutradarai sekaligus memerankan Calon Arang, mengatakan bahwa kisah tersebut mengajak penonton melihat kembali batas antara baik dan jahat secara lebih manusiawi.
“Kisah Calon Arang mengajak kita merenungkan kembali batasan antara baik dan jahat secara lebih manusiawi,” ujarnya.
Pilihan untuk membawa legenda ini ke dalam musikal modern menjadi menarik karena budaya tidak hanya hidup ketika masa lalu dipertahankan persis seperti bentuk aslinya. Budaya juga hidup ketika generasi baru menemukan pertanyaan baru di dalam cerita lama.
EKI Dance Company, yang berdiri sejak 1996, telah mengembangkan berbagai karya pertunjukan yang mempertemukan tradisi dengan bentuk artistik kontemporer. Calon Arang menjadi bagian dari perjalanan tersebut, setelah sebelumnya menghadirkan karya seperti Ken Dedes, Perempuan Punya Cerita, dan Lutung Kasarung.
Dengan musik, koreografi, akting, dan teknologi panggung, cerita lama mendapatkan bahasa baru.
Tetapi yang membuatnya tetap relevan bukan terutama teknologi panggungnya.
Yang membuatnya relevan adalah pertanyaan tentang manusia.
Membaca manusia di balik legenda
Pada akhirnya, Calon Arang dapat dibaca sebagai sebuah cerita tentang manusia yang berusaha menentukan apa yang benar ketika situasinya tidak sederhana.
Kita mungkin tidak lagi hidup di Desa Girah. Kita tidak berhadapan dengan kitab sakti atau ilmu hitam. Namun kita tetap berhadapan dengan ketakutan, cinta, ambisi, kesetiaan, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan moral.
Kita pun sering menemukan diri berada di posisi yang sama dengan tokoh-tokoh dalam cerita: ingin melakukan sesuatu yang benar, tetapi harus memilih cara; ingin melindungi seseorang, tetapi mungkin harus berbohong; ingin setia, tetapi menemukan bahwa kesetiaan tanpa kritik dapat membawa akibat buruk.
Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting yang ditinggalkan Calon Arang bukanlah siapa yang baik dan siapa yang jahat.
Pertanyaannya adalah:
Ketika kita merasa berada di pihak yang benar, apakah kita masih bersedia memeriksa cara kita memperlakukan orang lain?
Dan ketika kita mencintai seseorang, apakah cinta itu membuat kita semakin mampu menghormati kebebasannya—atau justru membuat kita ingin memilikinya?
Legenda lama akhirnya menjadi cermin.
Di dalamnya kita tidak hanya melihat Calon Arang, Bahula, Ratna Manggali, atau Empu Barada.
Kita melihat diri kita sendiri.

