Spiritualitas Ignasian tidak hanya berbicara tentang doa dalam arti yang sempit. Ia juga mengajak manusia membaca pengalaman hidup, mengenali gerak batin, melakukan refleksi dan diskresi, lalu menemukan kehadiran Tuhan dalam seluruh kenyataan. Karena itu, pengalaman seni dapat menjadi salah satu ruang penting bagi manusia untuk mengenali dirinya sekaligus membuka diri kepada Tuhan.
Refleksi tersebut mengemuka dalam webinar “Spiritualitas Ignasian dan Seni”, yang diselenggarakan Pusat Studi Ignasian Universitas Sanata Dharma bersama Kampus Ministri Universitas Sanata Dharma, pada Rabu (23/09/2026). Webinar tersebut merupakan pertemuan ketujuh sekaligus penutup rangkaian webinar mengenai spiritualitas Ignasian dan tantangan zaman dan dimoderatori oleh Frater Alexander Barry Ekaputra, SJ.
Webinar menghadirkan dua pengalaman seni yang berbeda: seni lukis yang dibagikan Kepala Yayasan Kanisius Cabang Magelang Rm Antonius Padua Danang Bramasti SJ dan seni musik yang dibawakan Dr drg Alma Linggar Jonarta MKes atau yang lebih dikenal dengan panggilan Damian Alma, pencipta lagu Doa Komuni Spiritual. Keduanya berangkat dari medium yang berbeda. Danang berbicara melalui warna, bentuk, simbol dan ruang pada kanvas. Alma berbicara melalui suara, melodi, nyanyian dan pengalaman musikal.
Namun, di balik perbedaan medium itu terdapat sebuah titik temu: seni dapat menjadi jalan untuk mengolah pengalaman manusia dan menemukan Tuhan dalam segala hal.
Webinar tersebut merupakan pertemuan ketujuh sekaligus penutup dari rangkaian webinar bertema memasuki dunia dan menjawab tantangan zaman melalui pencarian makna spiritualitas Ignasian pada zaman ini. Sepanjang rangkaian itu, spiritualitas Ignasian dibicarakan dari berbagai perspektif, antara lain pendidikan, keadilan sosial, dialog antaragama, ilmu pengetahuan dan seni. Dalam pertemuan terakhir, seni menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana pengalaman spiritual dapat hadir melalui karya kreatif manusia.
Seni sebagai bahasa pengalaman manusia
Bagi Rm Danang, seni bukan sekadar keterampilan. Ia merupakan bahasa.
Sebagai seorang seniman, ia mengatakan bahwa cara berbicaranya adalah melalui seni. Sejak kecil ia sudah menggambar dan menggunakan gambar untuk bercerita. Bahasa yang digunakannya bukan terutama kata-kata, melainkan warna, bentuk dan komposisi ruang. Dalam kerangka semiotika, semua itu merupakan simbol yang memungkinkan manusia menyampaikan sesuatu yang dialaminya.
Karena itu, bagi Danang, menjadi seniman tidak terpisah dari perjalanan panggilannya sebagai seorang Yesuit. Ia bahkan menggunakan ungkapan “seniman Jesuit” untuk menggambarkan hubungan tersebut. Ia menyebut pengalaman menjadi seniman sebagai semacam panggilan dalam panggilan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa panggilan tidak selalu hadir hanya dalam bentuk pekerjaan atau tugas tertentu. Panggilan dapat menemukan ekspresinya melalui kemampuan dan pengalaman konkret seseorang. Bagi Danang, seni menjadi salah satu cara untuk menghidupi panggilan tersebut.
Ia mengaitkan pengalaman berkesenian dengan pergulatan manusia. Hidup memiliki tujuan, tetapi manusia juga menghadapi hambatan, pergulatan dan konflik batin. Seni kemudian menjadi ruang untuk mengungkapkan pergulatan tersebut. Melalui karya seni, pengalaman yang berada di dalam diri dapat diberi bentuk sehingga dapat dilihat, dibaca dan direnungkan.
Di sini seni bertemu dengan salah satu karakter penting spiritualitas Ignasian: manusia tidak diminta melarikan diri dari pengalaman hidup, melainkan masuk ke dalam pengalaman itu dan membacanya.
Kanvas sebagai ruang doa
Salah satu gagasan paling kuat dalam paparan Danang adalah pemahamannya mengenai hubungan antara melukis dan doa.
Dalam pengalaman tersebut, kanvas dapat menjadi ruang doa, kuas menjadi sarana berbicara, dan warna menjadi kata-kata. Dengan cara itu, proses berkarya bukan sekadar menghasilkan objek yang indah. Proses tersebut menjadi tindakan mengungkapkan diri.
Pengalaman ini berhubungan dengan cara spiritualitas Ignasian memandang pengalaman batin. Manusia diajak untuk memperhatikan apa yang terjadi di dalam dirinya: kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kemarahan, harapan, kegagalan, keinginan dan berbagai gerakan batin lainnya.
Seni memberikan bentuk kepada pengalaman tersebut.
Karena itu, Danang tidak memulai proses mengajar anak-anak dengan memberikan kamus simbol atau daftar arti warna. Ia justru membiarkan anak-anak menggambar terlebih dahulu. Anak diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka sendiri.
Ketika seorang anak menggunakan warna tertentu, Danang kemudian bertanya mengapa warna itu dipilih. Ketika seorang anak menggambar wajah yang tidak memiliki mata, ia tidak langsung memberikan interpretasi dari luar. Anak tersebut diajak menjelaskan sendiri apa yang hendak disampaikan melalui gambarnya.
Pendekatan ini penting karena simbol tidak selalu memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Warna merah, misalnya, tidak otomatis harus dimaknai sebagai kemarahan. Sebuah wajah tanpa mata juga tidak dapat langsung diberi makna tertentu. Makna pertama-tama muncul dari pengalaman orang yang membuat gambar tersebut.
Dengan demikian, seni menjadi jalan refleksi.
Ketika anak menggambar pengalaman batinnya
Pengalaman Danang mengajar menggambar di SMP Kanisius Muntilan memberikan gambaran konkret tentang bagaimana seni dapat digunakan sebagai sarana pendidikan reflektif.
Sebagai Kepala Yayasan Kanisius Cabang Magelang, waktunya terbatas. Namun, ia tetap menyempatkan diri mengajar menggambar. Sebelumnya ia juga pernah mengajar teater, tetapi karena keterbatasan waktu, kegiatan menggambar menjadi bentuk pendampingan yang lebih mungkin dilakukan.
Ia menggunakan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif atau PPR, sebuah pendekatan pendidikan yang menekankan pengalaman, refleksi dan tindakan.
Dalam pengalaman tersebut, menggambar tidak berhenti pada kegiatan artistik. Anak diajak untuk melihat apa yang terjadi dalam dirinya, mengungkapkannya melalui gambar, kemudian merefleksikannya.
Salah satu contoh yang dibagikan Danang adalah pengalaman seorang siswa yang gagal terpilih menjadi anggota OSIS. Anak itu datang dalam keadaan kecewa dan tidak ingin menggambar. Danang tidak memaksanya untuk langsung mengikuti kegiatan. Ia meminta anak tersebut menggambar seluruh perasaan yang sedang dialaminya.
Anak itu kemudian menggambarkan kekecewaan dan kemarahannya melalui warna merah dan warna-warna gelap. Setelah gambar selesai, Danang mengajaknya menyerahkan pengalaman tersebut kepada Tuhan. Anak itu kemudian menggambar salib.
Bagi Danang, pengalaman tersebut menunjukkan sebuah gerakan batin: dari pengalaman kegagalan dan kerapuhan menuju keputusan untuk membawa pengalaman itu kepada Kristus. Ia membacanya dalam kerangka empat tahap Latihan Rohani: pertama menghadapi kerapuhan dan dosa; kemudian memilih untuk mengikuti Kristus; masuk ke dalam misteri penderitaan; dan akhirnya bergerak menuju sukacita kebangkitan.
Dengan demikian, lukisan tidak menggantikan doa. Lukisan menjadi sarana untuk memasuki pengalaman yang kemudian dapat dibawa ke dalam doa dan refleksi.
Seni dan diskresi
Di sinilah pengalaman seni mulai memperlihatkan hubungan yang lebih dalam dengan spiritualitas Ignasian.
Diskresi bukan hanya persoalan memilih antara dua pilihan besar dalam kehidupan. Diskresi juga menyangkut kemampuan membaca apa yang terjadi di dalam diri dan mengenali gerakan yang membawa seseorang menuju kehidupan, kebebasan, kasih dan keterarahan kepada Tuhan.
Dalam proses menggambar, anak belajar mengenali perasaannya sendiri.
Ia mungkin baru menyadari bahwa dirinya marah, takut, kecewa, cemburu atau terluka setelah perasaan itu mendapatkan bentuk dalam sebuah gambar. Guru kemudian membantu anak membaca pengalaman tersebut.
Danang menempatkan dirinya bukan sebagai orang yang menentukan arti pengalaman anak, melainkan sebagai pendamping. Ia membimbing, bertanya dan membantu anak membaca gambar yang dibuatnya.
Hal tersebut terlihat ketika seorang anak menggambar ayahnya tanpa mata. Setelah diajak berbicara, anak itu mengungkapkan bahwa ayahnya sering marah dan mabuk. Anak tersebut tidak berani menggambar mata ayahnya karena rasa takut, tetapi pada saat yang sama tetap ingin mengungkapkan kasihnya kepada sang ayah.
Dalam pengalaman lain, seorang anak menggambar keluarga dengan dua anak, tetapi hanya salah satu anak yang digendong orang tua. Ketika ditanya, anak itu mengatakan bahwa ia tidak menyukai saudaranya. Danang kemudian mengajaknya membayangkan apakah gambar tersebut dapat diubah. Anak itu akhirnya mengubah gambarnya dengan menggambarkan dirinya memeluk saudaranya.
Yang penting dalam proses itu bukan sekadar perubahan gambar. Yang penting adalah terjadinya proses refleksi. Gambar menjadi semacam cermin yang membantu anak melihat dirinya sendiri.

Dari seni lukis menuju seni musik
Jika Danang menggunakan mata, warna dan bentuk untuk memasuki pengalaman spiritual, Damian Alma membawa peserta webinar ke wilayah pendengaran.
Alma memperkenalkan refleksinya dengan tema Finding God in Music. Ia sendiri menjelaskan bahwa musik pada awalnya lebih merupakan hobi dalam kehidupannya. Ia bukan seorang musisi profesional, melainkan seorang dokter gigi dan akademisi yang juga berkarya dalam musik, khususnya musik rohani dan liturgi.
Dalam perjalanan tersebut, musik berkembang menjadi salah satu cara untuk mengolah pengalaman hidup dan mengungkapkan iman.
Alma melihat musik sebagai sarana pengalaman batin, diskresi, merawat keutuhan pribadi dan pelayanan. Melalui musik, manusia dapat mengolah pengalaman sekaligus membuka kemungkinan untuk menemukan Tuhan dalam segala hal.
Dengan demikian, pengalaman Alma memiliki titik temu yang kuat dengan pengalaman Danang.
Jika Danang mengatakan bahwa warna dapat menjadi kata-kata, Alma memperlihatkan bahwa suara dan musik juga dapat menjadi bahasa pengalaman manusia.
Musik, tubuh dan pengalaman religius
Alma membawa pembicaraan tentang musik lebih jauh dengan mempertemukannya dengan perspektif ilmu pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa penelitian mengenai bernyanyi bersama menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas musikal, pengalaman spiritual dan rasa kebersamaan dalam komunitas. Ketika orang bernyanyi bersama, terjadi keterlibatan sosial, emosional dan sinkronisasi dengan orang lain. Proses tersebut dapat membantu seseorang memusatkan perhatian, mengalami keterlibatan emosional dan semakin mendalam dalam pengalaman religius.
Namun Alma memberikan satu penegasan penting: musik itu sendiri tidak otomatis menghadirkan Tuhan.
Musik dapat membantu manusia memusatkan perhatian kepada Tuhan. Musik dapat membuka ruang emosional dan sosial yang memungkinkan seseorang mengalami pengalaman religius dan merasakan kehadiran Tuhan. Tetapi kehadiran Tuhan tidak dapat direduksi menjadi efek musikal.
Distingsi tersebut penting dalam perspektif spiritualitas Ignasian. Seni bukan Tuhan. Musik bukan Tuhan. Lukisan bukan Tuhan. Keduanya adalah medium yang dapat membantu manusia memperhatikan pengalaman dan membuka diri kepada Tuhan. Di sinilah prinsip menemukan Tuhan dalam segala hal mendapatkan bentuk yang konkret.
Finding God in All Things
Pengalaman Danang dan Alma dapat dibaca melalui gagasan finding God in all things. “Tuhan dalam segala hal” tidak berarti bahwa setiap benda atau pengalaman secara otomatis identik dengan Tuhan. Sebaliknya, pengalaman konkret dapat menjadi tempat manusia menemukan tanda-tanda kehadiran dan karya Tuhan ketika pengalaman tersebut dibaca dengan perhatian dan refleksi.
Dalam seni lukis, seseorang dapat menemukan pengalaman dirinya melalui warna. Dalam musik, seseorang dapat menemukan pengalaman batinnya melalui suara. Dalam pendidikan, seseorang dapat menemukan Tuhan melalui proses mendampingi anak. Dalam komunitas, seseorang dapat menemukan Tuhan melalui pengalaman bernyanyi bersama.
Dalam pergulatan hidup, seseorang dapat menemukan arah melalui refleksi. Dengan demikian, seni menjadi salah satu cara untuk melatih perhatian. Manusia belajar melihat. Manusia belajar mendengar. Manusia belajar merasakan. Dan akhirnya manusia belajar membaca.
Seni sebagai jalan menuju contemplation in action
Ada dimensi lain yang mempertemukan kedua pengalaman tersebut dengan tradisi Jesuit.
Dalam pemaparan Alma mengenai sejarah musik pada masa Santo Ignatius, ia menjelaskan bahwa musik dalam tradisi awal Serikat Yesus digunakan antara lain sebagai sarana devosi, kontemplasi dan pendidikan. Namun, pada saat yang sama, Ignatius tidak menjadikan kewajiban mengikuti ibadat harian dengan nyanyian sebagai ciri utama kehidupan Yesuit sebagaimana dalam tradisi biara. Orientasi Serikat Yesus adalah misi apostolik dan apa yang dikenal sebagai kontemplasi dalam tindakan.
Di sini seni dapat dibaca bukan hanya sebagai aktivitas kontemplatif yang terpisah dari kehidupan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan dan misi.
Danang mengajar anak-anak. Ia menggunakan gambar untuk membantu mereka memahami pengalaman. Alma menciptakan lagu. Ia menggunakan musik untuk mengolah pengalaman batin dan membantu orang lain menemukan Tuhan Keduanya menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tidak harus selalu berada dalam ruang yang secara eksplisit disebut “ruang rohani”. Kelas, studio, kanvas, alat musik, suara dan proses kreatif pun dapat menjadi tempat manusia mengolah kehidupan.
Dari pengalaman pribadi menuju pelayanan
Ada satu kesamaan lain yang penting. Baik Danang maupun Alma tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Keduanya membagikan seni kepada orang lain.
Danang mengajar anak-anak menggambar. Seni menjadi bagian dari pendidikan dan pendampingan. Alma menciptakan lagu, terlibat dalam pelayanan musik gereja dan membagikan pengalaman musikalnya kepada komunitas.
Dengan demikian, seni bergerak dari pengalaman personal menuju pelayanan.
Alma bahkan mengajukan pertanyaan kritis mengenai makna menjadi pelayan. Ia mempertanyakan apakah seseorang yang bangga menyebut dirinya “pelayan Tuhan” juga siap diperlakukan sebagai pelayan. Pertanyaan tersebut membawa pelayanan keluar dari identitas atau gelar menuju disposisi batin.
Dalam kerangka spiritualitas Ignasian, hal tersebut penting karena karya tidak pertama-tama diukur dari kebanggaan bahwa seseorang sedang melakukan pelayanan. Yang penting adalah bagaimana seseorang menempatkan dirinya dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.
Seni kemudian menjadi pelayanan ketika ia membantu kehidupan menjadi lebih manusiawi, ketika ia membuka ruang refleksi, ketika ia membantu orang mengenali dirinya dan ketika ia mengarahkan manusia kepada kebaikan.
Tantangan AI: ketika seni tidak lagi sepenuhnya dibuat manusia
Pada bagian akhir refleksinya, Alma membawa pembicaraan ke pertanyaan yang sangat aktual. Bagaimana jika musik semakin banyak dibuat oleh kecerdasan buatan? Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan teknis. Ia menyentuh dasar pemahaman tentang seni dan pengalaman manusia.
Selama ini, pengalaman musikal yang dibicarakan Alma berangkat dari tubuh dan indera manusia. Manusia bernyanyi, memainkan alat musik, mendengarkan, mengingat, merasakan, menciptakan dan berelasi dengan orang lain.
Lalu bagaimana ketika sebuah lagu dibuat oleh AI? Apakah karya semacam itu dapat menjadi doa? Apakah musik yang dibuat AI dapat digunakan dalam liturgi? Apakah pengalaman spiritual tetap dapat muncul ketika penciptanya bukan manusia?
Alma tidak memberikan jawaban final. Ia justru mengembalikan pertanyaan tersebut kepada peserta. Menurutnya, persoalan tersebut merupakan bahan refleksi yang perlu dipikirkan bersama. Pertanyaan ini membuat pembahasan seni dalam spiritualitas Ignasian menjadi semakin relevan dengan zaman.
Spiritualitas tidak hanya perlu bertanya bagaimana manusia menemukan Tuhan dalam kenyataan yang sudah ada. Ia juga perlu bertanya bagaimana manusia menemukan Tuhan ketika kenyataan itu sendiri sedang berubah karena teknologi.
Dua medium, satu perjalanan batin
Pada akhirnya, pengalaman Rm Danang dan Damian Alma memperlihatkan dua bentuk seni yang berbeda tetapi memiliki struktur perjalanan yang serupa.
Danang memulai dari gambar. Anak menggambar apa yang dialaminya. Setelah itu ia diajak melihat kembali gambar tersebut. Ia menceritakan maknanya. Ia merefleksikan pengalaman itu. Dari sana terbuka kemungkinan untuk membawa pengalaman tersebut kepada Tuhan.
Alma memulai dari musik. Manusia mendengar, bernyanyi dan menciptakan musik. Musik melibatkan tubuh, emosi, perhatian dan relasi dengan orang lain. Dari pengalaman tersebut terbuka ruang untuk refleksi dan pengalaman religius.
Dalam kedua pengalaman tersebut, seni menjadi jalan dari pengalaman menuju refleksi. Dari refleksi menuju diskresi. Dari diskresi menuju tindakan. Dan dari tindakan menuju pelayanan Itulah yang membuat pengalaman seni tersebut relevan bagi spiritualitas Ignasian.
Seni bukan pelarian dari dunia
Ada kecenderungan untuk melihat seni sebagai sesuatu yang terpisah dari persoalan nyata. Seni dianggap sebagai wilayah keindahan, sementara kehidupan sehari-hari dianggap sebagai wilayah persoalan.
Pengalaman Danang dan Alma justru memperlihatkan hal yang berbeda. Seni masuk ke dalam kehidupan. Anak menggambar karena ia sedang kecewa. Ia menggambar karena takut kepada ayahnya. Ia menggambar karena mengalami persoalan dengan saudaranya. Ia menggambar karena sedang mencari cara untuk mengungkapkan sesuatu yang belum mampu ia katakan.
Orang bernyanyi karena musik membantunya mengalami kebersamaan. Musik menjadi bagian dari doa. Musik menjadi bagian dari pelayanan. Musik menjadi sarana mengolah pengalaman.
Dengan demikian, seni bukan pelarian dari dunia. Seni justru menjadi cara untuk masuk lebih dalam ke dalam dunia. Dalam perspektif Ignasian, perhatian terhadap dunia semacam itu menjadi penting karena Tuhan dapat ditemukan dalam kenyataan konkret manusia.
Melihat, mendengar dan menemukan Tuhan
Dua pengalaman tersebut akhirnya mengajak manusia mengembangkan dua bentuk perhatian.
Danang mengajarkan bagaimana melihat. Melihat warna, bentuk, simbol, gambar. Tetapi lebih jauh, melihat apa yang terjadi di dalam diri manusia yang menghasilkan gambar tersebut. Alma mengajarkan bagaimana mendengar. Mendengar musik, suara, harmoni. Tetapi lebih jauh, mendengar gerak batin yang muncul ketika manusia mengalami musik.
Keduanya pada akhirnya membawa manusia kepada pertanyaan yang sama: apa yang sedang terjadi dalam diriku? Pertanyaan tersebut merupakan pintu menuju refleksi. Dan refleksi membuka kemungkinan bagi diskresi. Di situlah seni menjadi bagian dari perjalanan spiritual.
Tuhan memanggil cepat, membentuk perlahan
Dalam refleksinya, Danang mengatakan bahwa Tuhan memanggil manusia dengan cepat, tetapi membentuk manusia secara perlahan dalam kebijaksanaan-Nya. Ia menggambarkan Santo Ignatius yang berjalan melawan arus dengan semangat dan kasih.
Ungkapan tersebut menjadi semacam kesimpulan bagi dua pengalaman seni yang dibagikan dalam webinar. Panggilan dapat datang dengan cepat. Tetapi manusia membutuhkan waktu untuk memahami panggilan itu.
Anak membutuhkan waktu untuk memahami gambarnya. Seorang penyanyi membutuhkan waktu untuk memahami pengalaman yang lahir dari musik. Seorang seniman membutuhkan waktu untuk menemukan bahasa artistiknya. Seorang pendidik membutuhkan waktu untuk memahami perjalanan anak didiknya. Dan manusia membutuhkan waktu untuk membaca bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya.
Karena itu, seni dapat menjadi ruang kesabaran. Ia tidak selalu memberikan jawaban dengan segera. Ia mengajak manusia berhenti, melihat, mendengar, merasakan dan bertanya. Dalam proses itulah spiritualitas menjadi pengalaman yang hidup.
Seni lukis dan seni musik akhirnya bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya menjadi dua cara manusia memasuki pengalaman yang sama: pengalaman menjadi manusia di hadapan Tuhan.
Kanvas dan musik mempunyai bahasa yang berbeda. Yang satu berbicara melalui warna dan bentuk, yang lain melalui suara dan melodi. Tetapi keduanya dapat menjadi jalan menuju refleksi, diskresi dan pelayanan.
Jika spiritualitas Ignasian mengajak manusia menemukan Tuhan dalam segala hal, maka pengalaman Rm Danang dan Damian Alma memperlihatkan bahwa “segala hal” itu dapat mencakup sesuatu yang sangat sederhana: selembar kanvas, sebuah kuas, warna yang dipilih seorang anak, sebuah lagu, suara yang dinyanyikan bersama, atau bahkan sebuah karya baru yang kelak dihasilkan oleh teknologi.
Persoalannya bukan pertama-tama apakah seni itu sendiri adalah Tuhan. Persoalannya adalah apakah manusia mampu menggunakan seni untuk melihat lebih dalam, mendengar lebih jernih, membaca pengalaman, mengenali gerak batin, dan akhirnya menemukan ke mana Tuhan sedang memanggilnya.
Dalam pengertian itu, seni bukan sekadar ekspresi keindahan. Seni dapat menjadi latihan rohani.
Dan sebagaimana ditegaskan oleh pengalaman kedua pembicara tersebut, latihan itu tidak membawa manusia keluar dari kehidupan, tetapi justru membawanya semakin dalam ke dalam kehidupan—tempat manusia belajar menemukan Tuhan dalam segala hal.

