JAKARTA — Buku Katekismus Laudato Si’ yang disusun sebagai bahan bantu untuk memahami ensiklik Laudato Si’ tidak akan dicetak ulang setelah sekitar 2.000 eksemplar yang telah diproduksi habis. Buku tersebut kini tersedia dalam edisi digital dan dapat diakses masyarakat secara daring.
Rm. Ismartono SJ, salah satu penggagas dan penyusun buku tersebut, mengatakan bahwa Katekismus Laudato Si’ sejak awal tidak dimaksudkan untuk menggantikan teks asli Laudato Si’. Buku itu disusun sebagai alat bantu agar pembaca lebih mudah memahami gagasan-gagasan utama ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan hidup dan perawatan rumah bersama.
“Buku ini sebenarnya bukan dimaksudkan sebagai buku yang berdiri sendiri atau menggantikan teks Laudato Si’. Ini lebih sebagai alat bantu untuk membaca,” ujar Rm. Ismartono.
Menurut dia, teks Laudato Si’ dalam edisi terjemahan cukup panjang sehingga diperlukan bahan pendamping yang lebih ringkas dan mudah digunakan, terutama bagi mereka yang baru mulai mendalami gagasan ensiklik tersebut.
Buku saku itu diluncurkan dalam momentum peringatan 10 tahun Laudato Si’. Penerbitannya sekaligus menjadi bagian dari upaya mengajak masyarakat tidak berhenti pada mengenal judul ensiklik tersebut, tetapi benar-benar membaca dan memahami pesannya.
Rm. Ismartono menjelaskan, proses penyusunan buku dilakukan secara mandiri dengan dirinya mengerjakan pengembangan dan penyusunan isi. Dalam proses produksi, sejumlah rekan turut membantu, antara lain dalam penyuntingan, tata letak, dan persiapan naskah hingga menjadi buku yang siap dicetak.
Buku tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu bahan dalam program Kaderisasi Laudato Si’ yang diselenggarakan Sahabat Insan. Peserta kaderisasi dianjurkan membaca buku itu terlebih dahulu agar memiliki dasar pemahaman sebelum mengikuti proses pendalaman yang lebih lanjut.
Hingga kini, sekitar 2.000 eksemplar Katekismus Laudato Si’ telah dicetak dan seluruhnya telah habis. Namun, Rm. Ismartono mengatakan buku tersebut tidak akan dicetak kembali. Keputusan itu, menurut dia, juga berkaitan dengan semangat ekologis yang menjadi inti Laudato Si’.
“Kalau kita berbicara mengenai merawat bumi sebagai rumah kita bersama, maka produksi buku pun perlu dipikirkan dari sisi ekologisnya,” katanya.
Ia menilai semangat merawat lingkungan perlu diterapkan pula dalam cara memproduksi dan menggunakan bahan pembelajaran. Karena itu, pihaknya tidak ingin terus melakukan pencetakan ulang ketika kebutuhan terhadap buku tersebut masih dapat dipenuhi melalui format digital.
“Jangan sampai kita berbicara panjang lebar tentang menjaga lingkungan, tetapi setiap kali membutuhkan bahan pembelajaran, kita terus mencetak dan mencetak lagi,” ujar Rm. Ismartono.
Menurut dia, keputusan untuk menghentikan pencetakan bukan berarti buku tersebut tidak lagi dapat digunakan. Materi Katekismus Laudato Si’ tetap dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran, termasuk melalui edisi digital.
Bagi Rm. Ismartono, buku tersebut bukanlah tujuan akhir. Buku itu hanya sarana untuk membantu pembaca masuk lebih jauh ke dalam pesan Laudato Si’. “Tujuannya adalah supaya orang membaca Laudato Si’, memahami pesannya, lalu bergerak,” katanya.
Ia menekankan bahwa proses kaderisasi tidak seharusnya berhenti pada pengetahuan. Membaca dan memahami Laudato Si’ diharapkan membawa pembaca menuju perubahan sikap dan tindakan konkret dalam merawat lingkungan.
“Dari pengetahuan kita bergerak menuju kesadaran, dari kesadaran menuju pertobatan ekologis, dan dari pertobatan ekologis menuju tindakan nyata,” ujar Rm. Ismartono.
Edisi digital Katekismus Laudato Si’ kini dapat diunduh dan digunakan sebagai bahan pembelajaran melalui tautan yang disediakan: https://bit.ly/buku_katekismus_laudatosi.
