Program Serikat Yesus Provinsi Indonesia membuka kesempatan bagi kaum muda untuk mendampingi dan melayani masyarakat di Nabire dan Waghete. Pendaftaran terbuka sepanjang tahun, dengan termin keberangkatan setiap Januari dan Juli.
PAPUA — Serikat Yesus Provinsi Indonesia membuka program Jesuit Volunteer for Papua (JVP) periode 2026–2027 untuk mengajak kaum muda mengambil bagian dalam pelayanan pendidikan, pendampingan pastoral, dan kehidupan masyarakat di Papua.
Program ini menawarkan kesempatan bagi para relawan untuk tinggal dan bekerja bersama masyarakat setempat, terutama dalam mendukung pendidikan anak-anak dan generasi muda. Penugasan tersedia di Nabire dan Waghete, Papua Tengah, dengan kebutuhan relawan yang mencakup tenaga pengajar, pendamping asrama, serta tenaga pastoral dan pendukung administrasi.
Berbeda dari kegiatan sukarela yang semata-mata berorientasi pada bantuan tenaga, program ini menempatkan pengalaman pelayanan sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi. Para relawan diharapkan tidak hanya membawa keterampilan dan pengetahuan, tetapi juga bersedia belajar dari kehidupan, kebudayaan, dan pengalaman masyarakat Papua.
Rektor Kolese Le Cocq de’Armaville, Pater Johanes Sudrijanta, SJ, menegaskan bahwa kehadiran relawan dalam karya misi Serikat Yesus tidak pertama-tama dimaksudkan untuk menutup kekurangan tenaga operasional.
“Volunteer bukan sekadar tenaga tambahan, tetapi bagian dari proses misi dan pembentukan manusia,” demikian tegas Pater Sudrijanta atau yang kerap disapa Romo Sudri.
Menurut Romo Sudri, pengalaman menjadi relawan merupakan kesempatan untuk belajar memahami kehidupan dari perspektif orang lain. Papua menghadirkan ruang perjumpaan dengan beragam suku, budaya, masyarakat adat, dan agama, sekaligus realitas pendidikan, sosial, serta pembangunan yang kompleks.
Karena itu, para relawan perlu belajar mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan hadir sebelum menawarkan solusi. Sikap tersebut menjadi landasan agar pelayanan tidak bertolak dari anggapan bahwa orang yang datang dari luar selalu lebih tahu atau lebih mampu.
Sudrijanta mengingatkan bahwa masyarakat Papua bukan objek pelayanan, melainkan subjek yang memiliki martabat, sejarah, kebudayaan, pengetahuan, pengalaman, dan kekuatan sendiri.
“Saya datang untuk belajar bersama, bekerja bersama, dan memberikan diri bersama,” demikian rumusan sikap yang ditawarkan Sudrijanta untuk menggantikan mentalitas bahwa relawan datang untuk memperbaiki atau menyelamatkan masyarakat setempat.
Tiga pilihan pelayanan
Dalam periode 2026–2027, Jesuit Volunteer for Papua menawarkan tiga pilihan kegiatan, yakni Volunteer Waghete, Volunteer Nabire, dan Volunteer Bakti Sela Waktu atau freelance.
Di Waghete, relawan dapat terlibat dalam pendampingan pendidikan di wilayah pegunungan Papua Tengah. Kebutuhan pelayanan meliputi guru yang mengajar dan memberikan les kepada siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di sekitar Gereja Paroki Santo Yohanes Pemandani.
Relawan juga dapat membantu kegiatan pastoral, pelayanan sosial, administrasi, dan sekolah minggu. Selain itu, tersedia peran sebagai dormitory guardian, yakni pendamping siswa sekolah menengah pertama yang tinggal di asrama.
Sementara itu, penugasan di Nabire berpusat di SMA YPPK Adhi Luhur atau Kolese Le Cocq. Sekolah ini membutuhkan relawan untuk sejumlah mata pelajaran, antara lain Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Antropologi, Sejarah, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Olahraga, Seni, Ekonomi, Bimbingan Konseling, dan Biologi.
Kesempatan pelayanan juga terbuka bagi mereka yang memiliki kemampuan di bidang akuntansi dan pendampingan asrama.
Adapun program Volunteer Bakti Sela Waktu ditujukan bagi mereka yang ingin mengisi masa jeda, seperti menunggu kuliah, mencari pekerjaan, atau menjalani libur panjang, dengan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Masa pelayanan dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, sesuai kebutuhan dan kesiapan peserta.
Pendaftaran terbuka sepanjang tahun
Kesempatan untuk mengikuti Jesuit Volunteer for Papua terbuka sepanjang tahun. Penerimaan calon relawan tidak hanya dibatasi pada satu periode pendaftaran tahunan, tetapi dibagi ke dalam termin keberangkatan pada awal setiap semester, yakni Januari dan Juli.
Dengan pola tersebut, calon relawan dapat mempersiapkan diri dan mengajukan pendaftaran sesuai kesiapan masing-masing, dengan tetap memperhatikan proses seleksi, kebutuhan penugasan, serta ketentuan masa pelayanan.
Untuk penugasan di Nabire, calon relawan diharapkan bersedia tinggal sekurang-kurangnya dua tahun. Sementara itu, relawan yang memilih Waghete perlu bersedia menjalani penugasan minimal satu tahun.
Relawan yang mengikuti penugasan di Nabire dan Waghete memperoleh fasilitas berupa tiket perjalanan, penginapan, makan, rekreasi, dan uang saku. Ketentuan tersebut berbeda dari program Bakti Sela Waktu. Peserta Bakti Sela Waktu menanggung sendiri biaya perjalanan dan uang saku, sedangkan akomodasi dan konsumsi disediakan oleh penyelenggara.
Calon peserta perlu menyiapkan surat lamaran atau motivation letter, daftar riwayat hidup (CV), ijazah pendidikan terakhir beserta transkrip nilai, serta dua kontak referensi dari orang yang mengenal calon peserta dengan baik.
Informasi dan pendaftaran dapat diakses melalui tautan https://tinyurl.com/oprec-adhiluhur-2026. Calon relawan juga dapat mencari informasi melalui situs SMA Adhi Luhur, sma-adhi-luhur.sch.id, akun Instagram Kolese Le Cocq, atau menghubungi Romo Adi Bangkit, SJ, melalui alamat surel adibangkit@jesuits.net.
Dari passion menuju panggilan untuk melayani
Bagi Sudrijanta, salah satu nilai penting program relawan adalah kesempatan bagi kaum muda untuk bergerak melampaui minat pribadi menuju kesediaan memberikan diri bagi orang lain.
Ia tidak menafikan pentingnya passion sebagai sumber energi, kreativitas, dan kegembiraan dalam bekerja. Namun, dalam konteks misi, pertanyaan mengenai apa yang disukai seseorang perlu dilengkapi dengan pertanyaan tentang kepada siapa hidupnya dapat diberikan.
“Bukan hanya ‘Apa yang ingin saya lakukan?’, tetapi ‘Untuk siapa hidup saya diberikan?’” demikian pertanyaan reflektif yang diajukan Romo Sudri.
Dalam praktiknya, relawan mungkin tidak selalu mendapatkan tugas yang sesuai dengan minat awal. Mereka dapat diminta mengerjakan pekerjaan sederhana, berulang, atau kurang populer. Kesediaan menjalankan tugas yang dibutuhkan misi, meskipun bukan pilihan pertama, menjadi bagian dari latihan tanggung jawab, kemurahan hati, dan kebebasan batin.
Pengalaman di Papua juga dapat mengubah cara relawan memandang keberhasilan. Perubahan tidak selalu berlangsung cepat atau dapat diukur dengan angka. Mengajar dengan sabar, menemani seorang anak, membangun kepercayaan, serta tinggal bersama masyarakat dapat menjadi bagian penting dari pelayanan.
Sudrijanta menyebut Papua sebagai “sekolah kemanusiaan” bagi para relawan. Melalui pengalaman hidup bersama masyarakat, mereka diharapkan belajar menghargai martabat manusia tanpa mengukurnya berdasarkan produktivitas, prestasi, status sosial, atau kemampuan ekonomi.
Dalam kerangka tersebut, relawan tidak hanya bekerja untuk masyarakat Papua, tetapi juga mengalami proses pembentukan melalui perjumpaan dengan masyarakat.
Misi yang membentuk kedua belah pihak
Program Jesuit Volunteer for Papua berakar pada spiritualitas Ignasian yang menekankan refleksi, discernment, pelayanan, dan pencarian kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Relawan diharapkan bertumbuh dalam kompetensi sekaligus kesadaran, kepedulian, dan komitmen terhadap kebaikan bersama.
Sudrijanta menilai kolaborasi dengan relawan juga memperkaya karya Serikat Yesus. Para relawan membawa keterampilan, kreativitas, pengalaman, jejaring, dan perspektif generasi baru. Sebaliknya, komunitas Jesuit menawarkan ruang untuk memperdalam pemahaman tentang panggilan hidup, pelayanan, dan spiritualitas.
Karena itu, keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah pekerjaan yang diselesaikan atau lamanya seseorang bertahan di Papua. Hal yang lebih mendasar ialah apakah pengalaman tersebut membantu relawan menjadi pribadi yang lebih matang, terbuka terhadap perbedaan, peka terhadap ketidakadilan, serta mampu menggunakan keahliannya untuk kepentingan orang lain.
Masa pelayanan pun tidak harus berakhir dengan keputusan untuk menjadi Jesuit atau menetap di Papua. Para relawan dapat kembali menjalani profesinya sebagai guru, dokter, pengusaha, akademisi, pegawai negeri, pekerja sosial, atau profesional lainnya, sambil membawa semangat pelayanan dalam pekerjaan dan kehidupan mereka.
Dengan demikian, Jesuit Volunteer for Papua merupakan investasi ganda: memperkuat karya pendidikan dan misi di Papua sekaligus membuka ruang pembentukan manusia bagi para relawan.
Melalui program ini, Serikat Yesus Provinsi Indonesia mengundang kaum muda dan siapa saja yang memiliki semangat pelayanan untuk mengambil bagian dalam perjalanan bersama masyarakat Papua. Dengan semangat “Hidup yang mengabdi, langkah yang berarti”, kehadiran relawan diharapkan ikut menyalakan harapan bagi anak-anak dan generasi muda Papua.
Waktu terbaik untuk terlibat adalah sekarang.





