Di tengah kehidupan modern, menjadi pemimpin sering kali dianggap sebagai pencapaian yang membanggakan. Banyak orang berlomba-lomba meraih posisi penting, ingin didengar, dihormati, dan diakui. Namun, tidak semua orang yang ingin memimpin siap untuk melayani. Ketika dihadapkan pada kritik, tuntutan pengorbanan, atau tanggung jawab terhadap komunitas, tidak sedikit yang memilih mundur.
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri di zaman ketika citra dan popularitas kerap lebih diutamakan daripada keteladanan. Padahal, sejarah Gereja menunjukkan bahwa pemimpin besar lahir bukan dari ambisi akan kekuasaan, melainkan dari keberanian untuk melayani.
Salah satu teladan yang patut dikenang adalah Santo Siprianus dari Kartago. Uskup yang hidup pada abad ketiga itu dikenal karena dedikasinya menjaga persatuan Gereja di tengah berbagai konflik dan penganiayaan. Siprianus bukan sekadar pemimpin yang pandai berbicara. Ia hidup bersama umatnya, memikirkan kebutuhan mereka, dan tetap setia mendampingi mereka dalam masa-masa sulit. Bahkan, ia rela menyerahkan nyawanya demi mempertahankan iman yang diyakininya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah model kepemimpinan seperti itu masih dapat ditemukan pada masa kini? Jawabannya ternyata masih ada.
Kepemimpinan yang Menggerakkan
Gambaran tentang kepemimpinan yang melayani dapat ditemukan dalam kehidupan umat di Stasi Keluarga Kudus Cinta Adil Sibiru-biru. Dalam sebuah observasi lapangan, sosok Ketua Dewan Pastoral Stasi (KDPS), Bapak Aloysius Sinaga, menunjukkan bagaimana kepemimpinan Kristiani dapat diwujudkan secara sederhana namun bermakna.
Selama kurang lebih sepuluh tahun memimpin dalam dua periode kepengurusan, beliau tidak menempatkan diri sebagai pusat perhatian. Sebaliknya, ia memilih berjalan bersama umat. Kehadirannya tampak dalam berbagai kegiatan gereja, keterlibatannya nyata dalam pelayanan, dan ia membuka ruang dialog bagi siapa saja yang ingin menyampaikan pendapat.
Model kepemimpinan seperti ini tidak dibangun atas dasar perintah dan kekuasaan, melainkan melalui keteladanan dan partisipasi. Saat diwawancarai, beliau menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu membagikan kemampuan yang dimilikinya agar umat dapat berkembang bersama.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang ingin menjadi satu-satunya orang hebat dalam organisasi, melainkan mereka yang mendorong orang lain untuk bertumbuh. Semangat ini sejalan dengan konsep kepemimpinan transformasional yang juga tercermin dalam kehidupan Santo Siprianus.
Pentingnya Pengendalian Diri
Dalam observasi yang sama, terdapat satu hal menarik ketika beliau berbicara mengenai tantangan kepemimpinan. Menurutnya, dalam setiap proses memimpin pasti akan ada pihak yang mendukung dan ada pula yang tidak setuju. Situasi semacam itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang pemimpin.
Karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan mengendalikan diri. Beliau menyebutnya dengan istilah “stoik”, yakni kemampuan untuk tetap tenang dan tidak mudah terbawa emosi dalam menghadapi berbagai situasi.
Pesan sederhana ini terasa sangat relevan di tengah kehidupan saat ini. Banyak konflik muncul bukan karena kurangnya kemampuan atau kecerdasan, melainkan karena ketidakmampuan mengelola ego. Kritik sering dianggap sebagai serangan pribadi, sementara perbedaan pendapat kerap berujung pada perpecahan.
Padahal, salah satu kualitas terpenting seorang pemimpin justru terletak pada kemampuannya menjaga ketenangan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Santo Siprianus menghadapi tantangan serupa pada zamannya. Ia hidup ketika Gereja mengalami tekanan berat dan perpecahan internal. Banyak umat meninggalkan iman karena takut terhadap penganiayaan. Namun, Siprianus tidak merespons situasi itu dengan kemarahan atau sikap otoriter. Ia memilih jalan persatuan, dialog, dan pendampingan umat.
Kepemimpinan Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Masih banyak orang muda yang beranggapan bahwa kepemimpinan baru dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan penting. Padahal, kepemimpinan sesungguhnya tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Datang tepat waktu, menepati janji, mendengarkan orang lain, bertanggung jawab terhadap tugas, berani mengakui kesalahan, serta mampu bekerja sama merupakan bentuk-bentuk kepemimpinan yang paling dasar.
Keteladanan yang ditunjukkan oleh pemimpin di Stasi Keluarga Kudus Cinta Adil Sibiru-biru justru lahir dari kesederhanaan hidupnya sebagai kepala keluarga sekaligus pelayan Gereja. Tidak ada upaya untuk tampil berlebihan atau mencari pujian. Namun, dari kesederhanaan itulah tumbuh kepercayaan umat.
Generasi muda pada dasarnya tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Mereka lebih membutuhkan pemimpin yang jujur, tulus, dan dapat dipercaya.
Kepemimpinan sebagai Panggilan
Dalam menjalankan pelayanannya, Bapak Aloysius Sinaga memegang sebuah motto yang diambil dari jawaban Maria kepada malaikat: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Ungkapan tersebut menggambarkan inti dari kepemimpinan Kristiani. Memimpin bukanlah soal memenuhi ambisi pribadi, melainkan kesediaan untuk menjadi alat Tuhan dalam melayani sesama.
Banyak orang ingin memimpin, tetapi tidak semua siap untuk taat. Banyak orang ingin dikenal, tetapi tidak semua siap berkorban. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa pemimpin besar selalu lahir dari hati yang bersedia melayani.
Harapan bagi Generasi Muda
Dunia saat ini sedang menghadapi krisis keteladanan. Berbagai kasus penyalahgunaan kekuasaan membuat banyak orang, terutama generasi muda, kehilangan kepercayaan terhadap sosok pemimpin.
Namun, harapan belum hilang. Di berbagai komunitas masih terdapat banyak pemimpin sederhana yang bekerja tanpa sorotan, melayani tanpa mencari pujian, dan setia menjaga kebersamaan.
Dari mereka kita belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan ditentukan oleh seberapa sering seseorang dipuji, melainkan oleh seberapa besar tanggung jawab yang berani dipikulnya.
Mungkin hari ini seseorang belum menjadi ketua organisasi, pemimpin komunitas, atau tokoh masyarakat. Namun, kepemimpinan tidak menunggu jabatan. Kepemimpinan dimulai dari cara memperlakukan sesama, dari keberanian mengambil tanggung jawab, dan dari kesediaan melayani tanpa mengharapkan penghargaan.
Karena pada akhirnya, masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Masa depan membutuhkan pemimpin yang memiliki hati untuk melayani.
Penulis: Andre Girsang, Mahasiswa STP Bonaventura
